Kubilai Khan di Era Digital: Dari Penaklukan Wilayah ke Penaklukan Sistem

Setelah puluhan kali membaca buku AJ Susmana, akhirnya pagi ini saya berani ikut membahasnya. Maklum otak saya rupanya perlu berkali-kali diasah sebelum berani menyimpulkan. Bagi saya, evolusi kekuasaan tidak bergerak sekadar dari pedang menuju teknologi. Ia bergerak dari kemampuan menguasai ruang, menuju kemampuan mengatur institusi, mengendalikan jaringan informasi, memengaruhi struktur demografis, hingga menentukan siapa yang mampu mengorganisasi manusia untuk bertindak secara kolektif.

Pada titik ini, Kubilai Khan menjadi menarik. Ia menunjukkan bahwa menaklukkan wilayah hanyalah tahap pertama. Kekuasaan yang lebih tahan lama dimulai ketika penaklukan diterjemahkan menjadi administrasi, institusi, aturan, pajak, informasi, dan jaringan kekuasaan. Hari ini bentuknya berubah, Pertanyaannya bukan lagi sekadar: “Siapa menguasai wilayah?” tetapi:

Siapa menguasai sistem?
Siapa menguasai data?
Siapa membentuk narasi?
Siapa memengaruhi manusia?
Dan yang paling penting: siapa mampu mengorganisasi manusia untuk bertindak bersama?

Di sinilah saya melihat kaitannya dengan gagasan Civil Legion. Civil Legion, dalam pembacaan saya, bukan sekadar kumpulan massa atau “pasukan sipil”, Ia bisa dibaca sebagai metafora tentang kekuatan kolektif warga yang terorganisasi, ketika manusia tidak lagi hanya menjadi objek yang diatur oleh negara, elite, atau platform, tetapi mampu menjadi subjek yang mengorganisasi dirinya sendiri.

Dan di sinilah muncul paradoks abad ke-21 yakni Dulu penguasa berusaha mengorganisasi manusia, Kini platform digital berusaha mengorganisasi manusia. Tantangan demokrasi adalah: mampukah manusia mengorganisasi dirinya sendiri? Karena itu, teknologi sebenarnya bukan akhir dari evolusi kekuasaan, teknologi hanya mengubah alatnya. Pertarungan yang lebih fundamental tetap sama:

siapa yang memiliki kemampuan untuk mengorganisasi manusia, menentukan arah tindakan kolektif, dan mengubah kekuatan sosial menjadi kekuasaan nyata?

Mungkin di situlah Civil Legion menjadi relevan, bukan karena kita kembali ke zaman perang, tetapi karena pada era ketika algoritma semakin mampu mengorganisasi manusia, kemampuan warga untuk mengorganisasi dirinya sendiri justru menjadi bentuk kekuasaan yang semakin penting. Dan mungkin Kubilai Khan masih relevan bukan karena pedangnya, tetapi karena ia mengajarkan satu hal:

menaklukkan manusia tidaklah cukup. Kekuasaan menjadi nyata ketika manusia berhasil diorganisasi menjadi sebuah sistem.

Pertanyaan kita sekarang:

Apakah warga akan terus menjadi bagian dari sistem yang mengorganisasi mereka atau mulai membangun kemampuan untuk mengorganisasi dirinya sendiri?

Kupang, 08 September 20266

Maria Prima

[post-views]