Petani Jambi: Lelah Dan Sakit Tak Surutkan Langkah Kami

Senin (28/3) pagi hari, ratusan petani asal Jambi kembali melanjutkan aksi jalan kaki menuju Jakarta. Rasa lelah, pegal, dan juga sakit menyerang tubuh para petani ini. Namun, demi menjemput keadilan, semangat mereka pantang surut.

Memang, tadi pagi, ketika aksi baru akan dimulai, dua petani langsung tumbang. Mereka adalah Gultom (35 tahun) dan Siti Mispah (52 tahun). Kedua petani asal dusun Mekar Jaya, Sarolangun, ini langsung dilarikan ke Puskesmas Tungkal Jaya.

Tidak hanya itu, karena kondisi kesehatan yang sudah sangat buruk, 12 orang petani peserta aksi jalan kaki terpaksa diistirahatkan sementara. Panitia aksi khawatir, kalau mereka tetap dibolehkan ikut aksi, kondisi fisiknya tambah buruk dan berakibat fatal.

“Mereka sebetulnya tetap mau ikut jalan kaki, tetapi kita lihat kondisi fisiknya tidak memungkinkan. Takut terjadi kenapa-kenapa, makanya kami suruh istirahat dulu,” kata koordinator aksi, Joko Supriadinata, kepada berdikarionline.com, Senin (28/3).

Menurut Joko, kendati kondisi fisik sudah agak menurun karena sudah berjalan kaki selama 12 hari, para petani peserta aksi ini masih bersemangat.

Seperti yang dirasakan oleh Munarto. Petani berusia 60 tahun asal Kunangan Jaya II, Batanghari, ini mengaku akan terus berjalan kaki hingga ke Jakarta.

“Kami sedang memperjuangkan nasib keluarga dan saudara-saudara di kampung. Jadi, apapun yang terjadi, kami tidak akan pulang sebelum tuntutan kami dipenuhi,” ujarnya.

Menurut Munarto, sejak tanahnya diklaim oleh perusahaan, yakni  PT Agronusa Alam Sejahtera (AAS), PT Wanakasita Nusantara (WN) dan PT Restorasi Ekosistem Indonesia (REKI), kehidupannya terkatung-katung tidak jelas.

Karena itu, Munarto berharap, aksi jalan kaki ini bisa meluluhkan hati pemangku kebijakan di Jakarta untuk segera menyelesaikan konflik agraria yang melilit kehidupan petani.

“Kalau saya dan petani dari Kunangan Jaya meminta segera direaliasikan janji HTR (Hutan Tanaman Rakyat) agar kehidupan petani bisa tenang kembali,” jelasnya.

Hal yang sama juga dirasakan oleh Sumadi, 54 tahun, asal dusun Kunangan Jaya II, Batanghari. Dia mengatakan, rasa capek dan lelah, bahkan sakit di badan, akan terbayar jika pemerintah di pusat segera menjawab tuntutan petani.

Saat ini, hujan lebat datang mengguyur petani peserta aksi jalan kaki . Mereka pun terpaksa berlindung di rumah-rumah warga yang berada di pinggir jalan raya.

Mereka mendekati kecamatan Sungai Lilin, Kabupaten Musi Banyuasin. Rencananya, begitu sampai di Sungai Lilin, petani akan beristirahat untuk meluruskan badan yang lelah.

Muhammad Idris

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut