17 Agustus 1945: Revolusi Belum Selesai

Pada 17 Agustus 1957, sebelum memulai pidatonya yang berjudul “Suatu Tahun Ketentuan”, Bung Karno membacakan sebuah ikrar. Ikrar itu memuat lima point, yang kesemuanya bertekad melanjutkan cita-cita “Revolusi Agustus”.

17 Agustus memang sebuah revolusi, seperti dikatakan Soekarno, karena merupakan sebuah proses menjebol dan membangun. Yang dijebol adalah kolonialisme, sedangkan yang dibangun adalah Indonesia Merdeka.

Karena ia sebuah revolusi, maka Revolusi Agustus tidak berhenti di hari itu juga. Justru, 17 Agustus itu adalah pengumuman akan dimulainya revolusi. Soekarno sendiri mengatakan, saat itu barulah empat yang sudah selesai: (1) naskah proklamasi itu sendiri, (2) bendera kebangsaan Sang Merah-Putih dan lagu kebangsaan Indonesia Raya, (3) falsafah negara, yaitu: Pancasila, (4) Undang-Undang Dasar yang bersendikan palsafah negara itu.

Di luar yang empat itu, barulah bangsa Indonesia akan memperjuangkannya melalui sebuah revolusi. Oleh karena itu, tidak salah kemudian jikalau Soekarno mengikrarkan bahwa “Revolusi Belum Selesai”. Pada kenyatatannya, apa yang dicita-citakan Revolusi Agustus belum tercapai.

Sudah 46 tahun—sejak 1965 ketika Bung Karno dan pendukungnya dikalahkan—Revolusi Agustus terinterupsi. Pada saat bersamaan, praktek kolonialisme kembali bercokol dan mengambil posisi dominan dalam segala aspek kehidupan bangsa.

Di lapangan ekonomi, posisi ekonomi Indonesia sudah kembali seperti jaman kolonial: Indonesia sebagai penyedia bahan baku, penyedia tenaga kerja murah, pasar bagi produk negeri-negeri maju, dan tempat penanaman modal asing. Itu mulai berlaku sejak jaman Orde Baru.

Situasi sekarang makin nyata: kita makin terjajah! Jika dilihat dari berbagai jenis komoditi ekspor kita, maka hampir semuanya adalah bahan mentah, seperti batubara (70%), minyak (50%), gas (60%), bauksit, minyak kelapa sawit, dan karet. Hampir 70% modal yang menggali untung di Indonesia adalah modal asing. Akibatnya, modal asing pun mendominasi sejumlah sektor strategis: Minyak dan gas (80-90%), perbankan (50.6%), telekomunikasi (70%), kebun sawit (50%), pelayaran barang (94%), pendidikan (49%), dan lain-lain.

Indonesia masih menjadi tempat pemasaran barang-barang hasil produksi negara maju: sebanyak 92% produk teknologi yang dipakai rakyat Indonesia adalah buatan asing, 80% pasar farmasi dikuasai asing dan 80% pasar tekstil dikuasai produk asing.

Selain itu, hampir semua bahan kebutuhan hidup rakyat dipenuhi melalui impor: Indonesia sekarang sudah masuk negara pengimpor beras terbesar; mengimpor 40 persen gula dari kebutuhan nasional; impor sekitar 25 persen konsumsi nasional daging sapi; mengimpor satu juta ton garam yang merupakan 50 persen dari kebutuhan nasional; dan impor 70 persen kebutuhan susu.

Indonesia menjadi penyedia tenaga kerja murah, baik untuk keperluan pasar tenaga kerja di dalam negeri maupun pasar tenaga kerja internasional. Gaji buruh di Indonesia disebut-sebut salah satu yang paling rendah di Asia. Sebagai contoh: upah buruh Indonesia lebih rendah tiga hingga empat kali lipat dibandingkan Malaysia. Ini diperparah lagi dengan pemberlakuan sistim kerja kontrak dan outsourcing.

Jelaslah, kalau cita-cita Indonesia Merdeka adalah kemerdekaan sepenuh-penuhnya, maka jelas cita-cita Revolusi Agustus belum terwujud. Jika generasi Bung Karno telah berhasil memproklamasikan dan mempertahankannya melalui perjuangan fisik, maka tugas kita untuk melanjutkannya.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut