“Ayo, Tanam Cabe!”

Menteri Koordinator Perekonomian, Hatta Rajasa, menyampaikan anjuran agar masyarakat tidak makan cabe untuk sementara waktu. Menurut Hatta, dengan menahan diri tidak makan cabe, maka pesanan cabe akan menurun, sehingga harganya pun ikut turun. Kita tahu, harga cabe memang sedang melangit, di beberapa tempat mencapai enam puluh ribu rupiah per kilogram. Bahkan kenaikan harga komoditi ini telah mendorong inflasi cukup signifikan. Ini adalah bagian dari kegagalan pemerintah mengontrol harga dengan mengantisipasi permintaan, atau mengantisipasi gagal panen, akibat tak menentunya cuaca seperti yang sering dijadikan alasan.

Cabe adalah salah satu bahan makanan favorit rata-rata orang Indonesia (dan Asia Tenggara umumnya). Bahkan, bagi sebagian kalangan, cabai sudah dianggap kebutuhan pokok yang harus selalu tersedia saat bersantap. Tidak afdol makan tanpa cabai, atau yang sudah diolah menjadi sambal. Anggapan ini tidaklah berlebihan, mengingat manfaat cabai itu sendiri. Selain sebagai penyedap mumpuni yang sudah dikenal berabad-abad, cabai juga mengandung berbagai manfaat untuk kesehatan. Berbagai penelitian menyebut kandungan antioksidan dalam cabe, yang berfungsi menangkal unsur-unsur radikal bebas di dalam tubuh. Selain itu cabe juga mengandung vitamin A, vitamin C, kemudian zat Lasparaginase dan Capsaicin yang konon dapat menangkal timbulnya penyakit kanker.

Jadi, anjuran pemerintah agar rakyat tidak mengkonsumsi cabai (meski hanya untuk sementara waktu) terdengar tidak masuk akal. Kita melihat himbauan ini hanya untuk menutupi kelemahan atau ketidakmampuan pemerintah mengontrol inflasi setelah pemerintah (sendiri) menaikkan tarif dasar listrik (TDL). Harga-harga melambung, rakyat menjerit, dan pemerintah menghimbau agar rakyat berhenti konsumsi. Tidakkah anjuran semacam ini sama saja dengan anjuran-anjuran sebelumnya ketika pemerintah didesak mengatasi berbagai persoalan? Beberapa waktu lalu, saat harga beras naik, pemerintah menganjurkan rakyat mengurangi makan nasi. Saat tarif dasar listrik dinaikkan, dan banyak masyarakat bahkan belum menikmati listrik, pemerintah menganjurkan rakyat untuk menghemat penggunaan listrik. Saat harga-harga naik, pemerintah menganjurkan rakyat untuk mengencangkan ikat pinggang. Sementara di pihak pemerintah atau pejabat negara sendiri mereka justru melakukan hal-hal yang sebaliknya; pemborosan.

Rasanya sudah cukup kita mendengar himbauan-himbauan konyol semacam ini. Sudah cukup rakyat dibodohi dengan alasan-alasan yang tidak pada tempatnya, dan kemudian menganjurkan solusi yang juga tidak pada tempatnya. Dalam logika yang sederhana, ketika kita kekurangan suatu kebutuhan tertentu, maka sewajarnya kita berusaha memperolehnya. Judul editorial “Ayo, Tanam Cabai” sengaja kami tampilkan untuk menunjukkan salah satu persoalan ekonomi yang paling mendasar yaitu: produksi. Hukum alam yang tak bisa dibantah, bahwa berproduksi adalah cara manusia memperoleh kebutuhan hidupnya. Sementara untuk dapat berproduksi, manusia memerlukan sarana dan pra sarana, yang pada dewasa ini begitu sulit diakses oleh rakyat miskin. Seorang petani cabai pun membutuhkan informasi tentang keadaan cuaca dan berbagai dukungan untuk meningkatkan hasil produksinya. Sayang sekali, tampaknya hal ini tidak ada dalam logika pemerintah, termasuk seorang Menko Perekonomian. Atau bangsa ini memang sedang sengaja diarahkan semata menjadi bangsa konsumtif? Kami kira, bukti-bukti mulai menjawabnya.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut