Fransisca Ria Susanti: Saya Bermimpi Jurnalisme itu Berkembang Ke Esensi dan Mendalam

JAKARTA: Jurnalis Fransisca Ria Susanti menilai bahwa masih sedikit koran atau wartawan yang mencoba mendalami suatu isu secara intensif, sehingga pemberitaan yang muncul di publik seringkali terlihat seragam.

Ini disampaikan saat acara Ngopi Bareng di Kedai Kopi dan Teh Nusantara, Jumat (16/7). Dalam diskusi ini, Fransisca Ria Susanti, yang juga penulis buku “kembang-kembang gendjer”, berusaha menjelaskan persepektif jurnalisme yang tidak sekedar memberi informasi kepada pembaca, namun juga bisa memberi analisis suatu kejadian hingga ke esensi sebenarnya dan bentuk pemberitaan yang mendalam.

“Saya sih berharap, nantinya, akan ada jurnalisme di Indonesia yang akan berkembang ke esensi, dan apa yang diberitakan itu lebih mendalam,” ujarnya.

Meskipun secara normatif pers dianjurkan untuk objektif, harus cover both sides, dan berimbang, namun Fransiska Susanti tidak bisa memungkiri, bahwa sebuah berita yang dituliskan seorang wartawan bersifat “subjektif”.

“Bagaimanapun, dalam proses penulisan berita, seorang wartawan memiliki pengalaman sejarah masing-masing yang membentuk perspektif di belakang kepalanya. Jadi, setiap orang bisa melihat suatu peristiwa berdasarkan perspektif masing-masing,” katanya.

Dalam isu yang lebih besar, Fransisca Susanti menegaskan, bagaimana suatu koran atau pemberitaan bisa menuliskan sebuah perspektif yang lebih maju, dalam artian membongkar suatu tema dengan perspektif historis dan analitis.

Selain itu, ia juga menjelaskan mengenai mengenai sejarah penulisan bukunya yang berjudul “Kembang-Kembang Genjer”, sebuah buku yang menulis mengenai perspektif lain mengenai sejarah organisasi gerakan perempuan Indonesia di era Bung Karno, yaitu Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani).

Dia menjelaskan, buku tersebut berawal dari ide untuk menuliskan kejadian ini sejarah berseri untuk sebuah koran, namun berkembang menjadi sebuah buku yang semata-mata berusaha melihat sesuatu itu berdasarkan posisinya sebagai wartawan.

Ia tidak menyangkal, bahwa buku itu memang sangat sederhana, apalagi ada banyak sejarawan atau peneliti yang sudah mendalami peristiwa tahun 1965, sehingga mereka yang memasuki studi di perguruan tinggi sedikit banyaknya mengetahui kejadian tersebut dari perspektif para sejarawan tersebut.

“Buku itu didedikasikan untuk generasi yang lebih muda, yaitu anak-anak SMP dan SMA, yang masih menyimpan pertanyaan mengenai apa yang terjadi, atau mereka yang masih punya dendam terhadap sejarah masa lalu orang tuanya,” ungkap Santi mengenai ide di balik penulisan buku tersebut.

Dia juga menyatakan bahwa pemahaman historis itu masih kurang di kalangan watawan, padahal pengalaman historis itu sangat penting untuk melihat sesuatu secara terang-benderang.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut