Wajah-Wajah Rakyat Biasa di Kepengurusan PRIMA

Dalam sejarah politik Indonesia sejak Orde Baru hingga sekarang, rakyat biasa kerap hanya ditaruh di pinggiran panggung politik.

Mereka, rakyat biasa ini, dimobilisasi hanya sebagai tukang sorak. Terkadang dibayar dengan uang bensin, dikasih hiburan dangdut, perutnya yang lapar diganjal nasi bungkus, atau suaranya dibeli saat pemilu.

Sementara panggung politik tak jauh-jauh dari triumvirat: hartawan, birokrat, dan militer. Mereka yang mendominasi kepengurusan partai, daftar caleg, hingga menentukan kebijakan-kebijakan partai.

Bukan hal yang mengherankan, jabatan-jabatan politik strategis diisi oleh triumvirat tadi. Data yang disuguhkan oleh Marepus Corner menunjukkan, dari 575 anggota DPR-RI, sebanyak 318 orang (55 persen) adalah pebisnis. Kalau digabungkan antara pebisnis, birokrat, dan bekas militer, jumlahnya mencapai 87 persen.

Merasa resah dan gelisah dengan keadaan itu, pada awal Juni lalu, dalam suasana memperingati kelahiran Pancasila, sejumlah tokoh, aktivis, anak muda, pejuang lingkungan, seniman, dan pelaku usaha kecil mendeklarasikan partai baru: Partai Rakyat Adil Makmur (PRIMA).

Dari aneka pekik dan lagu-lagu yang menggema selama deklarasi, ada satu yang menarik, yaitu slogan partai. Partai yang dipimpin oleh Agus Jabo Priyono ini mengusung slogan: partainya rakyat biasa.

PRIMA bertekad menjadi penghela gerbong politik rakyat biasa. Agar rakyat biasa bisa menjadi protagonis dalam kehidupan politik. Agar rakyat bisa ikut serta memutuskan kebijakan politik yang menyangkut hidupnya.

Sekretaris Jenderal PRIMA, Dominggus Oktavianus, menerjemahkan rakyat biasa dalam konteks Indonesia saat ini sebagai lapisan masyarakat non-elit dan sifatnya lintas kelas sosial.

“Semua yang berada di luar kelompok segelintir elit yang menguasai sumber daya ekonomi sekaligus kekuasaan politik itulah rakyat biasa,” jelasnya kepada berdikarionline.com, Kamis (5/11/2021).

Golongan yang disebut rakyat biasa, lanjut Dominggus, tidak punya hak istimewa untuk mengakses sumber daya ekonomi maupun kekuasaan politik sehingga tidak pernah dilibatkan, baik dalam keputusan-keputusan strategis kenegaraan maupun dalam urusan-urusan sosial yang sederhana.

“Golongan masyarakat yang berjuang untuk bertahan dalam keadaan hidup yang tidak berlebihan dengan semangat solidaritas pada sesama,” tambahnya.

Nah, seberapa konsisten PRIMA sebagai partainya rakyat biasa?

Selain memperjuangkan rakyat biasa lewat program yang disebut “9 Jalan Rakyat Adil Makmur”, kepengurusan PRIMA juga diisi oleh kebanyakan rakyat biasa.

AGUSTINUS, Kalimantan Utara

Di Kalimantan Utara, PRIMA dinahkodai oleh seorang aktivis buruh. Namanya: Agustinus. Sehari-hari, disamping aktivitasnya mengadvokasi hak-hak buruh, Agustinus juga membuka usaha mebel.

Selama ini, demi membiayai aktivitas perjuangannya, Agustinus sepenuhnya bersandar pada usaha mebel itu. Usaha mebel itu juga yang membiayai kebutuhan hidup keluarga kecilnya.

“Waktu pandemi, usahaku sangat terpukul. Jumlah pembelinya berkurang drastis,” katanya.

Demi menyambung hidup sekaligus membiayai aktivitas politiknya, Agustinus pun mengambil sambilan sebagai pengumpul karton bekas.

“Setiap malam saya keluar mengumpulkan kertas karton yang dibuang orang ke tempat sampah. Biasanya saya bisa mengumpulkan di atas 70 kg sekali keluar,” ungkapnya.

Siapa sangka, dari pekerjaannya mengumpulkan karton bekas itu, Agustinus bisa menambah penghasilan keluarga sekaligus membiayai aktivitas politiknya.

“Beli bensin agar bisa beraktivitas politik. Kadang beli materai, beli kebutuhan kantor, ya pakai uang itu,” ujarnya dengan suara penuh semangat.

DOLY NADEAK, Sumatera Utara

Di Medan, Sumatera Utara, kepengurusan PRIMA kota Medan dipegang oleh pedagang kaki lima.

Doly Stepanus Ananda Nadeak, nama Ketua DPK PRIMA kota Medan, sehari-hari bekerja sebagai pedagang ikan asin di pasar Pancur Batu kota Medan. Kehidupan itu dilakoninya jauh sebelum dirinya menjadi pengurus partai.

“Saat pandemi begini, berdagang ikan asin ini agak susah. Harganya mahal, tetapi pembelinya sedikit,” kata Doli kepada berdikarionline.com, Kamis (4/11/2021).

Menurut Doly, usaha kaki lima atau pedagang kecil banyak tidak tersentuh oleh kebijakan pemerintah. Suara mereka juga kerap diabaikan oleh partai-partai politik.

“Saya suka slogan PRIMA, partainya rakyat biasa. Saya ingin partai ini benar-benar memperjuangkan kepentingan rakyat biasa,” kata Dolly.

SISWANTO, Jawa Timur

Di kota Blitar, Jawa Timur, kota kelahiran Bung Karno, PRIMA dinahkodai oleh seorang juru parkir.

Siswanto, Ketua DPK PRIMA Kota Blitar, sehari-hari bekerja sebagai tukang parkir. Sebelumnya, dia bekerja sebagai buruh di sebuah pabrik di Gresik.

“Karena terkena PHK, saya pulang kampung. Susah mencari pekerjaan,” ujarnya.

Semasa menjadi buruh pabrik, Siswanto sudah aktif di serikat buruh. Saat itu dia menjadi anggota Front Nasional Perjuangan Buruh Indonesia (FNPBI).

“Waktu di FNPBI, setiap perayaan Mayday atau ada aksi pemogokan, saya selalu ikut. Begitulah caranya memperjuangkan hak-hak,” jelasnya.

Siswanto mengaku, dirinya sering didatangi caleg dan tim sukses setiap menjelang pemilu. Dia pun kerap diminta untuk menjadi tim sukses.

“Saya kecewa, mereka hanya butuh suara kita kalau ada pemilu. Setelah pemilu, mereka melupakan kita dan tidak peduli nasib kita,” tambahnya.

Dia pun mengaku tertarik ketika ditawari bergabung dengan PRIMA. Selain bisa terhubung kembali dengan kawan seperjuangannya semasa di serikat buruh, dia mengaku tertarik dengan slogan dan program perjuangan PRIMA.

“PRIMA ini partainya rakyat biasa. Pengurusnya kebanyakan rakyat biasa. Program perjuangannya juga menyentuh kepentingan rakyat biasa,” katanya.

TAMRIN, Nusa Tenggara Barat (NTB)

Tamrin, seorang petani di Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, ditunjuk sebagai Ketua Dewan Pimpinan Kabupaten (DPK) PRIMA Lombok Timur.

Tamrin menceritakan, keprihatinan terhadap kondisi petani di daerahnya mendorong dirinya untuk bergabung dengan PRIMA.

“Kondisi petani sangat tertekan. Ada banyak kebijakan politik yang tak berpihak pada petani. Ketika petani panen raya, pemerintah malah mengimpor beras,” kata Tamrin dengan nada kesal.

Menurutnya, partai-partai yang ada tidak pernah mendengar suara dan jerit-pedih yang dialami kaum tani, termasuk di Lombok Timur.

Karena itu, Tamrin pun memilih bergabung dengan serikat petani, yakni Serikat Tani Nelayan (STN). Serikat petani yang berdiri sejak 1993 ini aktif membela hak-hak dan kepentingan kaum tani.

Persinggungan dengan STN inilah yang mengenalkan Tamrin dengan PRIMA. STN merupakan salah satu organisasi yang menginisiasi berdirinya partai tersebut.

“Saya melihat PRIMA mewakili rakyat biasa, termasuk petani. Programnya juga bicara hak-hak dan kepentingan kaum tani,” ujarnya.

JAMA ALFIANI, Nusa Tenggara Barat

Jama Alfiani, seorang pelaku UMKM di Lombok utara, Nusa Tenggara Barat, memilih bergabung dengan PRIMA. Dia ditunjuk sebagai bendahara DPK PRIMA Lombok Utara.

“Saya tertarik dengan partai ini karena ada program perjuangannya yang bicara perempuan dan anak-anak,” kata Alfiani.

Sebelum menekuni usaha kuliner, Alfiani bekerja sebagai Guest Relation di sebuah hotel di Lombok. Akibat dampak pandemi, dia pun kehilangan pekerjaannya.

Dia berharap, PRIMA banyak berbicara tentang kondisi perempuan dan anak-anak, terutama di Lombok Utara.

“Di sini ada banyak persoalan, seperti pernikahan usia dini, perceraian, rendahnya akses pendidikan bagi perempuan, dan kesehatan reproduksi,” jelasnya.

ANTONIUS JUVENTUS AFEANPAH, Nusa Tenggara Timur

Musyawarah Wilayah PRIMA Nusa Tenggara Timur, pada 21 Oktober 2021 lalu, menunjuk Antonius Juventus Afeanpah sebagai Ketua DPW PRIMA NTT.

Antonius sehari-hari bekerja sebagai buruh elektronik di kota Kupang. Semasa mahasiswa, dia aktif di pergerakan mahasiswa.

“Dulu saya sering terlibat aksi demonstrasi untuk memperjuangkan isu-isu sosial, ekonomi, dan politik yang menyangkut kepentingan rakyat,” kata Antonius.

Menurut dia, ada kecocokan antara semangat dan cita-citanya semasa menjadi aktivis pergerakan mahasiswa dengan visi besar PRIMA sekarang ini.

“Partai ini punya idealisme dan integritas, mau memperjuangkan masyarakat yang lebih adil, demokratis, dan makmur,” terangnya.

***

Nama-nama di atas merupakan potret kecil kepengurusan PRIMA yang diisi kebanyakan oleh rakyat biasa.

Pada gambar yang lebih besar, sebetulnya partai ini kebanyakan diisi oleh pelaku usaha kecil, buruh, petani, aktivis sosial, pejuang lingkungan, ibu rumah tangga, dan lain-lain.

RINI HARTONO

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid