Revolusi Bolivarian Terpukul, Tapi Harapan Tidak Patah!

Bagi mereka yang menaruh harapan pada Revolusi Bolivarian, termasuk kita di Indonesia, kekalahan di pemilu legislatif hari ini mungkin terasa pukulan telak.

Kaum kanan sedunia pasti berpesta pora. Dalam benak mereka, sebentar lagi proyek sosialisme di Venezuela akan menemui ajalnya. Dan segera setelah itu, arus balik akan menerjang benua Amerika latin. Begitukah?

Memang, kemenangan sayap kanan akan berdampak besar bagi revolusi Bolivarian. Sekarang koalisi sayap kanan, Democratic Unity Roundtable (MUD), berhasil meraih 99 kursi dari total 167 kursi. Masih ada 22 kursi yang belum diumumkan, termasuk 3 dari perwakilan masyarakat adat.

Menurut sebuah artikel di venezuelanalysis.com, Jika MUD berhasil menguasai 100 kursi, mereka bisa mencabut Menteri dari kabinet. Jika mereka berhasil menguasai lebih dari 111 kursi, maka mereka bisa mempunyai posisi cukup kuat di badan legislasi untuk memberhentikan hakim Mahkamah Agung, mendorong perubahan Konstitusi, dan mengadakan referendum terhadap Eksekutif tanpa harus mengumpulkan tanda-tangan sebagaimana disyaratkan oleh konstitusi Bolivarian.

Nah, sekarang dengan posisi mayoritas di parlemen, oposisi punya ruang yang leluasa untuk membendung setiap proposal dari Esekutif/Presiden. Termasuk soal anggaran. Tentu saja, hal ini akan menyulitkan agenda-agenda revolusi Bolivarian kedepan. Pemerintahan Nicolas Maduro akan diperhadapkan dengan situasi sulit.

Tetapi menarik menyimak pidato Presiden Nicolas Maduro hari ini. Dia bilang, “Ini bukan waktunya untuk menangis, ini waktunya untuk berjuang.” Betul sekali. Saya setuju, kekalahan itu bukan membuat kita harus menangis, tetapi seharusnya menjadi ruang untuk refleksi dan kemudian mempertinggi perjuangan.

Dan lagi-lagi saya setuju dengan kata-kata Maduro: “Kita kalah dalam pertempuran hari ini, tetapi perjuangan untuk sosialisme baru saja dimulai. Anggap ini tamparan yang membangunkan kita untuk bertindak.”

Revolusi Bolivarian memang sedang terpukul. Namun, ada baiknya kita melihat beberapa sebabnya. Supaya kita tidak termakan propaganda media kanan: bahwa rakyat sudah bosan dengan revolusi dan ingin perubahan. Atau ada yang bilang, Chavista kalah karena revolusi diletakkan di satu figus, yaitu Chavez. Yang terakhir ini jelas tidak mengerti perkembangan dan karakteristik revolusi Bolivarian. Dia tidak tahu, kalau revolusi Bolivarian justru menempatkan massa rakyat, bukan sang pemimpin revolusi, sebagai protagonis dari revolusi itu melalui konsep demokrasi-partisipatoris.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kekalahan koalisi sosialis di pemilu kali ini. Pertama, dalam dua tahun terakhir ini Venezuela tercekik kesulitan ekonomi, khususnya turunnya penerimaan negara akibat jatuhnya harga minyak dunia. Ini berpengaruh pada kemampuan belanja negara.

Kedua, situasi itu makin dipersulit oleh “perang ekonomi” yang dijalankan oleh oposisi, penimbunan barang (khususnya kebutuhan pokok), penyelundupan barang ke daerah perbatasan, pelarian kapital ke luar negeri, dan lain sebagainya. Banyak pabrik berhenti berproduksi karena impor bahan bakunya dihentikan. Sejumlah bahan pokok, seperti susu, minyak goreng, gula, dan margarin, menghilang di pasaran dan toko-toko. Harga-harga juga meroket. Dan Inflasi menjulang hingga 80 persen (sedangkan IMF memperkirakan 159 persen).

Ketiga, di tengah kesulitan ekonomi yang mengcekik itu, oposisi terus menggerakkan aksi kekerasan dan teror ke seantero negeri. Mulai dari barikade jalanan, pembakar bus umum, penganiayaan, dan lain-lain. Situasi ini menambah kebingungan dan frustasi di kalangan massa rakyat, khususnya kaum muda. Ingat, pemilih muda Venezuela sekarang adalah generasi yang tidak merasakan langsung buruknya situasi di bawah rezim neoliberal sebelum Chavez berkuasa.

Keempat, pihak sayap kanan mengusai media massa dan menggunakannya untuk mendiskreditkan pemerintah dan menciptakan cerita palsu tentang keadaan. Hampir semua berita yang tersajikan di smartphone, televisi, radio, dan surat kabar besar menjelek-jelekkan pemerintah dan kebijakannya.

Untuk diketahui, sebanyak 80 persen media di Venezuela adalah milik swasta. Sebagian besar dikontrol oleh sayap kanan. Tiga surat kabar terbesar di Venezuela, yakni El Universal, El Nacional dan Ultimos Noticias, dikuasai oposisi. Kemudian, tiga dari empat TV berskala nasional di Venezuela, dengan jangkauan 90 persen penonton, juga di tangan oposisi (Venevision, Globovision, dan Televen).

Kelima, semua aksi sayap kanan itu mendapat sokongan dari imperialisme Amerika Serikat (AS) dan sekutunya. AS menggelontorkan ratusan juta dollar untuk mendanai aksi-aksi oposisi. Dana-dana itu disalurkan melalui sejumlah lembaga AS, seperti Development Alternatives, Inc/DAI (sejak 2002), the Pan-American Development Foundation/PADF (sejak 2005), the International Republican Institute/IRI (sejak 2002), the National Democratic Institute-NDI (sejak 2002), Freedom House (sejak 2004), USAID (sejak 2002), National Endowment for Democracy (NED) dan the Open Society Institute (sejak 2006).

Aksi-aksi oposisi itu penting untuk mendestabilisasi dan merongrong pemerintah. Pada derajat tertentu, aksi oposisi yang terus-menerus cukup menganggu pemerintah dan kinerjanya. Situasi ini juga sekarang dipakai sayap kanan untuk menggoyang pemerintahan kiri di Brazil, Ekuador, Bolivia, dan lain-lain.

Yang perlu dihitung juga, efek dari kekalahan sosialis Venezuela ini. sebab, sebelumnya kiri sudah tergusur di Argentina. Mauricio Macri, seorang pebisnis besar, berhasil memenangi pemilu dan mengakhiri proyek progressif Kirchnerismo. Belum lagi, pemerintahan kiri di Brazil dan Ekuador juga sedang digoyang aksi massa sayap kanan yang menuntut pemakzulan.

Yang terjadi, perimbangan kekuatan sedang berubah. Dengan dukungan AS di belakangnya, sayap kanan di Amerika Latin sedang menanjak. Mereka kini menggunakan strategi yang dulu dipakai kiri untuk menjatuhkan rezim neoliberal, yakni aksi massa, tetapi dengan isu yang difokuskan ke soal korupsi dan demokrasi (dalam versi mereka).

Nah, memang, revolusi Bolivarian juga mewarisi kelemahan ekonomi akibat neoliberalisme, yakni ketergantungan terhadap minyak. Dalam ekonomi, orang menyebutnya sebagai “penyakit belanda”. Dulu Chavez mau mengakhiri penyakit ini melalui upaya diversifikasi ekonomi, yakni dengan membangun pertanian dan industri Venezuela, tetapi belum berhasil.

Ketergantungan terhadap minyak itu membawa malapetaka ketika harga minyak dunia jatuh. Untuk diketahui, 96 persen penerimaan ekspor Venezuela berasal dari ekspor minyak. Ketika harga minyak jatuh, maka penerimaan negara pun sangat terpukul. Untungnya, kendati penerimaan negaranya tergencet, Maduro tetap mempertahankan belanja untuk program sosialnya.

Faktor lain yang juga disoroti adalah birokratisme dan korupsi di tubuh pemerintahan. Situasi itu bukan hanya menjadi makanan empuk bagi propaganda sayap kanan, tetapi juga menciptakan kontradiksi dalam barisan kekuatan revolusi itu sendiri.

Revolusi Bolivarian mungkin mundur, tetapi bukan berarti kalah. Saya setuju dengan pernyataan Presiden Maduro: “anggap ini tamparan yang membangunkan kita untuk bertindak.” Artinya, perjuangan untuk sosialisme harus disegarkan dan dikuatkan kembali.

Dan bagaimana menyegarkan kembali, saya kira Maduro sudah menjawabnya: kembali ke jalan, kembali ke tengah rakyat. Revolusi Bolivarian lahir dari rakyat, dan kembali ke rakyat untuk menguatkan dirinya.

Bagaimanapun, revolusi Bolivarian harus dibela. Selama satu dekade lebih revolusi Bolivarian membuat beratus-ratus juta orang di berbagai belahan dunia, terutama mereka yang dikorbankan oleh kapitalisme, kembali punya harapan. Bahwa membangun dunia lain, yang demokratis, egaliter, humanis, mengedepankan solidaritas, dan segala kebaikannya lainnya, adalah mungkin.

Karena itu, tugas kita adalah memperkuat solidaritas untuk rakyat Venezuela dan pemerintahan kiri Amerika latin lainnya yang sedang dirongrong sayap kanan. Mari melawan setiap upaya penyesetan informasi oleh media-media kanan terkait situasi di Venezuela dan negara-negara kiri Amerika Latin lainnya.

Raymond Samuel

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid