Menggugat Sistim Kesehatan Indonesia

Sejarah sektor kesehatan  di Indonesia adalah sejarah Puskesmas yang telah sukses untuk mengatasi wabah kolera (1927 dan 1937), cacar (1947), dan wabah malaria (1959).

Wabah covid-19 seharusnya menyadarkan kita untuk segera memperbaiki sistim kesehatan di Indonesia. Daya tampung rumah sakit tidak mampu mengatasi peningkatan jumlah orang sakit, tenaga kesehatan kewalahan bahkan berguguran satu demi satu, rancang sistem gawat darurat tidak responsif untuk mengatasi situasi, juga ketidakmerataan pengetahuan maupun kesadaran kesehatan masyarakat.

Keempat masalah pokok ini saling kait mengkait walau sering terlupakan sehingga kita terjebak untuk membahas hal-hal sekunder, bahkan tertier. Situasi semakin diperumit oleh beragam faktor seperti perkembangan teknologi yang mempermudah perang wacana, himpitan ekonomi sebagai imbas dari pembatasan sosial, pengangguran karena kontraksi ekonomi, serta respon dari pemerintah yang tidak saja berubah-ubah namun seringkali berbeda antar pejabat.

Kerumitan memang tidak hanya terjadi di Indonesia, juga di negara-negara maju. Indonesia dan Amerika barangkali memiliki sedikit kemiripan, imbas dari pertarungan pemilihan presiden turut mempengaruhi siapa yang berdiri di kubu yang pro atau kontra terhadap pembatasan sosial, penggunaan masker, maupun keikutsertaan untuk vaksinasi. Sedangkan di negara maju lainnya, sebut saja seperti Jerman, Inggris, Perancis, maupun Australia sikap sikap pro kontra terhadap wabah didasarkan an-sich pada pandangan terhadap vaksinasasi, teori konspirasi yang menyebutkan wabah skema global untuk menguntungkan segelintir orang, maupun dampak pukulan ekonomi.

Terlepas dari pro atau kontra atas kebijakan pemerintah seperti Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), harus menggunakan masker atau tidak, maupun teori konspirasi wabah, satu hal kita harus sepakat bahwa tidak dapat kita dipungkiri ada virus yang menyebabkan jumlah orang sakit dan jumlah orang meninggal meningkat dengan tajam dibanding pada masa normal.

Bersepakat pada hal mendasar tersebut membuka mata kita untuk meninjau dengan kepala dingin apakah ada kelemahan dalam sistem kesehatan kita ketika sebuah peristiwa luar biasa yang menyebabkan jumlah orang sakit dan meninggal meningkat tajam? Bila hari ini penyebabnya adalah virus, dikemudian hari bisa saja disebabkan oleh bencana alam, distabilitas sosial, bahkan ancaman dari luar.

Kita tidak dapat memungkiri Indonesia menjadi negara dengan peningkatan penderita dan persentasi kematian paling tinggi akibat virus covid-19. Kita melihat rumah sakit dan fasilitas kesehatan lainnya tidak sanggup menampung orang sakit dan tenaga kesehatan kewalahan. Peristiwa ini harus menyadarkan bahwa secara fundamental, ada yang salah dalam bangun rancang dan sistem kesehatan di Indonesia.

Sengkarut di gelombang kedua

Hal lain yang melatarbelakangi pentingnya perubahan pemahaman mendasar atas sistem kesehatan tidak terlepas dari fakta tumbangnya standar kesehatan yang disepakati global. Menurut ketetapan Badan Kesehatan Dunia (World Health Organisation-WHO) jumlah tempat rawat inap per 100 ribu penduduk adalah satu (1) tempat tidur.

Secara umum, Indonesia telah mencapai angka 1,18 atau berada di atas standar tersebut. Bahkan beberapa provinsi yang tidak mampu menampung para penderita adalah provinsi-provinsi di Pulau Jawa yang sebenarnya memiliki perbandingan yang lebih baik dibanding provinsi lain. DKI Jakarta tercatat memiliki rasio ketersediaan tempat rawat inap sebesar 2,24, DI Yogyakarta sebesar 1,71, Jateng sebesar 1.18, dan Jatim sebesar 1,11. Untuk Jabar dan Banten masing-masing memang memiliki ketersediaan di bawah standar yakni 0,87. Dengan penambahan tempat isolasi seharusnya berdasarkan standar WHO tersebut memadai.

Namun sekali lagi kita disadarkan bahwa peristiwa force majeur akan meluluhlantakkan siapa yang tidak siap. Kita saksikan sendiri, situasi diperparah dengan kelangkaan oksigen maupun antrian berkepanjangan di pusat-pusat tes (laboratorium kesehatan). Hal ini harus menyadarkan bahwa kita ada yang lemah dengan sistim tanggap darurat kita. Sejak Covid-19 diakui resmi masuk ke Indonesia, peran Puskesmas dan aparatusnya terasa sangat minim.

Memang peran itu berangsur dikembalikan sejak gelombang peningkatan penderita tahun ini. Padahal, sejarah sektor kesehatan  di Indonesia adalah sejarah Puskesmas yang telah sukses untuk mengatasi wabah kolera (1927 dan 1937), cacar (1947), dan wabah malaria (1959). Strategi pemerintah yang mengutamakan sektor lain untuk mengatasi wabah Covid-19 seperti maju ke medan perang dimana yang pertama diutus adalah pasukan cadangan, sementara pasukan reguler menunggu di barak.

Posisi Puskesmas yang berada di tengah-tengah masyarakat dan telah berpengalaman setiap tahun mengatasi dan menangani penyakit musiman seperti demam berdarah, diare, dll, dan berperan sebagai pusat pelayanan dan pendistribusian informasi kesehatan dicerabut dari akarnya. Persoalan ikutan seperti rendahnya partisipasi vaksin, penumpukkan persediaan vaksin, maupun ketidaktaatan masyarakat atas protokol kesehatan seharusnya bisa dikurangi  dengan melibatkan Puskesmas.

Persoalan berikut yang ikut menjadi drama di publik adalah beban dan risiko yang dihadapi oleh tenaga medis dan kesehatan. Dari kompilasi data yang diolah dari laporan Kementrian kesehatan berjudul Profil Kesehatan Indonesia yang dipublikasi setiap tahun, terlihat wajah sebenarnya dunia kesehatan kita. Berdasarkan Keputusan Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Nomor 54 Tahun 2013 tentang Rencana Pengembangan Tenaga Kesehatan Tahun 2011 – 2025 telah ditetapkan target perbandingan antara tenaga medis dan kesehatan per 100 ribu penduduk. Dari table di bawah, ketertinggalan itu sepertinya mustahil untuk dikejar.

Dari data di atas, bila diolah lebih lanjut maka kekurangan tenaga medis dan kesehatan Indonesia untuk tahun 2019 adalah 338.812 orang dengan perincian dokter umum sebanyak 69.236 orang, dokter gigi sejumlah 21.129 orang, bidan sebanyak 111.421 orang, dan tenaga perawat sebanyak 137.026 orang. Dengan menggunakan berbagai pendekatan berdasarkan data yang sama, mengabaikan anomali data tahun 2019-2017, dengan penambahan dokter umum pada kisaran angka 4.273 orang (5.3 %) setiap tahun maka kekurangan dokter akan terpenuhi 21 tahun mendatang. Sedikit menggembirakan pada tenaga kesehatan (bidan dan perawat) dimana dengan penambahan pada kisaran 82.969 orang (14.9%) setiap tahun, maka kekurangannya akan terpenuhi jangka waktu 3 tahun mendatang. Dengan catatan, angka pertumbuhan penduduk adalah nol (0) persen. Artinya, jumlah yang meninggal sama dengan yang lahir.

Kita tidak perlu memperbandingkan angka-angka di atas dengan negara maju maupun negara jiran. Penyebab rendahnya rasio tenaga medis dan kesehatan tersebut tidak terlepas dari beberapa faktor seperti jumlah universitas yang memiliki fakultas kedokteran yang masih sedikit, demikian juga dengan jumlah politeknik/akademi kesehatan, biaya pendidikan di bidang kesehatan yang mahal, esklusifitas profesi, maupun Angka Partisipasi Kasar pendidikan yang rendah. Sampai saat ini kita belum melihat strategi dari Kementrian Pendidikan untuk memecahkan kebuntuan ini.

Ketimpangan rasio itu bukan saja hanya berdampak pada mahalnya biaya pengobatan tapi juga pada kualitas layanan itu sendiri. Kita tidak dapat membohongi diri sendiri telah terjadi fenomena dimana penduduk Indonesia, bukan hanya yang berkemampuan secara ekonomi, lebih memilih berobat ke luar negeri. Singapura, Kuala Lumpur, dan kota Penang menjadi tujuan utama. Bukan tidak mungkin Vietnam dalam beberapa tahun ke depan akan dengan gampang kita temui orang Indonesia yang berobat. Serbuan klinik dan tenaga medis asing pun bukan hal yang langka di kota-kota besar seperti Jakarta, Semarang, maupun Surabaya. 

Tanpa adanya kerendahan hati diantara para stake holder, khususnya pelaku profesi kesehatan maupun pemerintah melalui Kementrian Pendidikan, kita hanya menjadi barbar dalam sektor kesehatan. Sektor kesehatan yang sarat dengan misi kemanusiaan menjadi sarana penumpukan kekayaan.

BENNY SITORUS, kader Partai Rakyat Demokratik (PRD) dan pekerja profesional di sektor keuangan.

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid