Ketika Sukarno Membuat Olimpiade Tandingan

Saat mata dunia sedang tertuju dengan pekan olahraga akbar sejagat, Olimpade Tokyo 2020, ingatan saya melesat jauh ke hampir enam dekade lalu.

Tepatnya, pada 10-22 November 1963, di Jakarta, saat Indonesia menjadi tuan rumah penyelenggaraan Pesta Olahraga Negara Negara-Negara Kekuatan Baru atau Games of the New Emerging Forces (GANEFO).

Hari-hari itu, lebih dari 2700-an atlet dari 51 Negara berlaga dalam ajang olahraga paling politis dan paling revolusioner sedunia. Ganefo bukan saja ajang olahraga, tetapi menjadi ajang politik untuk mengecam imperialisme dan neokolonialisme.

Ide Sukarno

Ide menyelenggarakan Ganefo tak terlepas dari ide Presiden Indonesia kala itu: Sukarno. Manusia politik yang satu ini selalu berpegang teguh pada pandangan bahwa olahraga tak bisa dipisahkan dari politik.

Setidaknya, Sukarno melihat dari sejarah bangsanya. Di masa kolonialisme, olahraga tak sekedar menjadi ruang konsolidasi politik, tetapi juga menjadi tempat menyemai semangat nasionalisme.

Ketika Sukarno bertekad membangunkan jiwa dan mental bangsanya, salah satu pilihannya adalah olahraga. Dia yakin, lewat olahraga, bangsanya lebih percaya pada kekuatannya sendiri. 

Di sisi lain, Sukarno menyadari, kerja keras bangsa-bangsa baru merdeka untuk beremansipasi tidaklah mudah. Di hadapan mereka melintang sebuah penghalang bernama imperialisme dan neo-kolonialisme.

Karena itu, sejak 1955, melalui Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung, Sukarno terus berseru-seru mengajak bangsa-bangsa Asia dan Afrika untuk bersatu padu melawan imperialisme.

Tahun 1960, Sukarno mulai menyuguhkan pandangan baru dalam melihat tata politik global. Dia tak setuju dengan pemetaan model lama: Blok Barat versus Blok Timur. 

Sebaliknya, menurut dia, dunia terbagi antara negara-negara yang mewakili tata-dunia lama yang eksploitatif dan imperialistik versus negara-negara yang mewakili tata dunia baru yang hendak merdeka dan terbebas dari segala penindasan.

Negara-negara yang mewakili tata dunia lama disebutnya Old Established Forces atau OLDEFO. Ini barisan negara imperialis dan bekas penjajah. Sebaliknya, negara-negara yang mewakili tata dunia baru disebut Newly Emerging Forces atau NEFO. Di kubu ini berbasis bangsa-bangsa Asia dan Afrika.

Politik Olahraga

Tahun 1958, Indonesia mendapat restu sebagai tuan rumah penyelenggaraan Asian Games ke-4. Pekan olahraga terakbar di Asia ini dijadwalkan digelar tahun 1962.

Sukarno seolah menemukan momentumnya untuk mewujudkan politik olahraganya. Dengan sokongan Soviet, Indonesia berhasil membangun kompleks olahraga termegah di Asia.

Tak hanya itu, demi menunjukkan wajah Indonesia pada tamu-tamu Asian Games ke-4, kota Jakarta dipercantik dengan jalan yang lebar, tugu selamat datang, jembatan semanggi, hotel Indonesia, gedung TVRI, wisma warta, dan lain-lain.

Tak cukup juga, Sukarno menampakkan politik olahraganya jelang Asian Games ke-4. Sebagai bentuk dukungan terhadap bangsa-bangsa NEFO, terutama Arab dan Tiongkok, Indonesia tidak mengeluarkan visa untuk kontingen Israel dan Taiwan. Akibatnya, kedua negara gagal berpartisipasi di Asian Games ke-4.

Di lapangan tanding, atlet-atlet Indonesia memberi kejutan luar biasa. Indonesia berhasil meraih 11 medali emas, 12 perak dan medali perunggu. Dengan raihan total 51 medali, Indonesia menempati posisi runner-up, dari 17 negara peserta Asian Games saat itu.

Rupanya, sikap Indonesia menghalangi Israel dan Taiwan berbuntut panjang. Asian Games Federation (AGF) mengajukan komplain ke International Olympic Organization (IOC). Akibatnya, Indonesia diskors dari keanggotaan International Olympic Committee (IOC). Tak hanya itu, Indonesia juga dilarang ikut Olimpiade 1964.

Politik GANEFO

Sanksi IOC tak membuat Indonesia surut. Dicekal dan dilarang-larang, Indonesia makin mengaung.

Di hadapan peserta Konferensi Besar Front Nasional, 13 Februari 1963, Sukarno meradang. “Mereka berharap kita lemas dan memohon dimasukkan kembali. Dikira kita ini bangsa apa? Saya perintahkan kepada Menteri Muladi untuk keluar dari IOC. Segera bentuk games of the new emergencing forces, yaitu gabungan dari negara-negara Asia, Afrika, Amerika latin, dan negara-negara sosialis,” kata Sukarno.

Muladi, Menteri olahraga RI kala itu, langsung menerjemahkan perintah Sukarno. Indonesia resmi keluar dari IOC. Menurut Muladi, pemisahan olahraga dan politik hanyalah kedok untuk menutupi maksud jahat imperialis untuk mendominasi atau memonopoli sport internasional.

Di bulan April 1963, Sukarno menerbitkan Keputusan Presiden nomor 74 tahun 1963 tentang pembentukan Komite Nasional Ganefo. Komite Nasional inilah yang dipercaya sebagai panitia pelaksana penyelenggaraan Ganefo I di Jakarta.

Pada 27 April 1963, konferensi persiapan Ganefo mulai berjalan. Ada 20 negara yang sudah menyatakan kesediaan mengikuti Ganefo. Termasuk wakil tiga negara besar: RRT (Asia), Republik Persatuan Arab (Mesir dan Suriah), dan Uni Soviet (Eropa).

Pada bulan April itu juga, Konferensi Persiapan Ganefo memutuskan jadwal dan tempat penyelenggaraan Ganefo I, yaitu 10-22 November 1963 di Jakarta.

Pada bulan September 1963, Komite Nasional Ganefo mengumumkan cabang olahraga yang akan diperlombakan di Ganefo I, yaitu panahan, atletik, bulu tangkis, bola basket, tinju, balap sepeda, anggar, sepak bola, senam, hoki, menembak, renang, loncat indah, tenis, tenis meja, bola voli, polo air, angkat besi, gulat, dan lomba layar.

Di pengujung September 1963, lambang ganefo resmi diperkenalkan. Sebuah bola dunia, dengan kibaran 12 bendera kuning, dan tulisan “Onward, No Retreat” di bagian bawahnya.

Sukses Ganefo I

Hari itu, 10 November 1963, wajah Jakarta sangat indah dan elegan. Poster dan spanduk Ganefo menyebar di seantero Jakarta. 

Patung sepasang muda-mudi melambaikan tangan, sedangkan tangan yang lain memegang bunga, berdiri gagah di putaran Hotel Indonesia dan Wisma Warta sembari seakan mengucapkan: selamat datang.

“Ganefo membuat Jakarta berubah: menjadi berwarna melebihi suasana saban tahun jelang Proklamasi,” begitu laporan seniman Lekra, T. Iskandar A.S, lewat koran Harian Ra’jat.

Hampir semua jalan menuju Istora Senayan dipenuhi lautan manusia. Hari itu, rakyat Jakarta seperti sedang berpesta. Di Istora, ratusan ribu rakyat sudah menunggu upacara pembukaan.

Presiden Sukarno tiba di lokasi dengan menggunakan helikopter. Satu per satu kontingen dari 51 negara peserta melakukan defile. Mereka disambut oleh tepukan gempita ratusan ribu tangan.

Lalu, di puncak acara pembukaan, Harun Al-Rasjid, atlet Indonesia, berlari membawa obor untuk menyalakan tungku raksasa di dalam stadion. Dengan demikian, Ganefo resmi dibuka dengan semangat yang berkobar-kobar.

Ganefo 1 berjalan sangat sukses. Lebih dari 2700-an atlet dari 51 negara ikut berlomba. Termasuk atlet-atlet dari daratan Eropa, seperti Belgia, Belanda, Bulgaria, Polandia, Hungaria, Finlandia, Jerman timur, Perancis, dan Yugoslavia.

Atlet-atlet dari negara Amerika latin juga ikut serta, seperti Venezuela, Uruguay, Meksiko, Brazil, Chile, Republik Dominika, dan Bolivia.

Republik Rakyat Tiongkok (RRT) tampil sebagai peraih medali terbanyak. Disusul oleh Uni Soviet dan Indonesia. Indonesia sendiri berhasil merebut 21 medali emas, 25 perak, dan 35 perunggu.

Namun, Ganefo bukan hanya sukses di lapangan pertandingan, tetapi juga sukses secara politik. Kesuksesan Ganefo bukan saja berhasil menghimpun ribuan atlet, tetapi juga mengumpulkan 51 negara peserta.

Bayangkan, sebagai pesta olahraga tandingan Olimpiade, Ganefo berhasil menghadirkan separuh jumlah negara anggota PBB kala itu (pada 1963, PBB baru beranggotakan 113 negara).

Ganefo juga menjadi inspirasi politik bagi bangsa-bangsa baru berkembang, bahwa bangsa-bangsa baru merdeka bisa juga menyelenggarakan pesta olahraga akbar dengan sangat baik dan megah. Bahwa olahraga bukanlah monopoli negara-negara maju.

Bagi Sukarno sendiri, Ganefo sudah menjelma menjadi cerita sukses yang mengangkat nama baik Indonesia di panggung bangsa-bangsa. Ganefo juga terbuka menjadi sebuah front politik bangsa-bangsa NEFO.

Lebih penting lagi, lewat sukses Sea Games ke-4 dan Ganefo, Sukarno makin yakin kalau olahraga bisa mengantarkan bangsa Indonesia sebagai bangsa berprestasi dan disegani.

“Hei, Rakyat Indonesia, tua dan muda, terutama sekali yang muda-muda, latih kau punya diri sehebat-hebatnya, agar dalam sepuluh tahun paling banyak, sepuluh tahun, Indonesia, rakyat Indonesia bisa menduduki tempat paling tinggi di lapangan olahraga,” kata Sukarno di Markas Besar Ganefo, 25 November 1964.

Sayang sekali, sebuah peristiwa politik di pengujung 1965 menjungkalkan harapan itu. Sukarno digulingkan oleh koalisi tentara dan kelompok sipil kanan di bawah pimpinan Suharto.

Sejak itu, Ganefo pelan-pelan memudar. Tahun 1967, pemerintahan Orde Baru mulai menganggap Ganefo tidak bermanfaat. Puncaknya, pada 26-29 Februari 1968, rapat besar KONI memutuskan untuk mencabut sumber hukum berdirinya Ganefo.

Tahun 1970, Ganefo kedua yang sedianya diselenggarakan di Beijing, Tiongkok, dibatalkan. Selain karena kondisi politik di Tiongkok, juga karena sumber hukumnya sudah dicabut oleh pemerintah Indonesia.

Sejak itu, tamatlah riwayat sebuah pesta olahraga terbesar bangsa-bangsa baru merdeka itu. Pesta olahraga yang pernah menandingi Olimpiade. 

KUSNO, kontributor berdikarionline.com

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid