Menyongsong Politik Melankolia

Jin tentu saja adalah suatu hal yang tak pernah dibahas oleh Karl Marx dan para pengikutnya. Namun bisa jadi ia dipandang sebagai bagian dari “spirit” dalam idealisme Hegel—meskipun istilah ruh dalam pengertian Hegel itu tak pernah mengacu pada sosok tertentu. Memang pernah ada istilah hantu, yang barangkali juga berada pada wilayah “spirit” itu, yang konon melukiskan komunisme yang selalu mengancam Eropa yang telah dimenangkan oleh kapitalisme-liberalisme. Pada istilah hantu (komunisme) itu jelas sesebutan jin serasa sepadan: misterius, menakutkan, atau kalau tidak, bagian dari kemerosotan sebuah peradaban.

Ada pendapat yang menyatakan bahwa hantu adalah bagian dari jin, atau “jim” dalam lidah Jawa, yang lazimnya dianggap kurang baik. Sedangkan dalam perspektif agama dan kebudayaan jin itu bereksistensi laiknya manusia: ada yang baik maupun buruk, goblok maupun pandai, bahkan kafir maupun muslim. Namun dalam kapitayan konon hantu itu adalah “han-Tu” yang serupa dengan animisme-dinamisme dalam sosiologi agama yang ternyata merupakan perkembangan belaka dari kapitayan yang konon mengkarakterisasikan Tuhan yang tunggal sebagai “Tan kena kinaya ngapa.”

Sangat menarik ketika menautkan hantu atau jin itu dengan Derrida dalam kerinduan dekonstruktifnya pada Karl Marx: “Specters of Marx.” Dalam teks itu Derrida menyimpulkan bahwa yang tersisa dari marxisme adalah semangatnya. Hantu dalam istilah “hantu komunisme” ternyata adalah semacam kontradiksi internal kapitalisme sendiri. Sebab, pada tataran episteme, baik komunisme maupun kapitalisme merupakan anak-anak kandung modernisme yang percaya bahwa manusia adalah pusat kosmos. Maka dapat dipahami ketika tak ada satu pun kecenderungan, baik dalam komunisme maupun kapitalisme, pada isu-isu ekologis.

Jadi, ketika orang cemas pada hantu, dalam logika Derridean, orang itu pada dasarnya tengah cemas pada keadaan dirinya sendiri. Taruhlah ungkapan serupa semisal “waspada pada kebangkitan komunisme.” Di sini, di Indonesia, komunisme juga jelas dianggap sebagai sesosok hantu yang selalu membayangi.

Sudah jamak ketika sebuah tatanan atau peradaban itu dibangun di atas kambing-hitam tertentu yang ketika tatanan atau peradaban itu mengalami kemerosotan akan segera mendapatkan jawabannya. Fasime Jerman dengan Nazi-nya jelas dibangun di atas kambing-hitam Yahudi. Demikian pula orde baru yang dibangun di atas kambing-hitam komunisme atau PKI. Bahkan pun agama saya kira juga dibangun di atas kambing-hitam tertentu, setan, yang secara hakiki bisa berarti gerak menjauh kita dari sumber kebenaran.

Mengaitkan jim dengan politik pada dasarnya bukanlah hal yang sama sekali baru. Derrida telah mengawalinya dalam teksnya tersebut. Pernah saya singgung bahwa sejak pasca 2014 jagat perpolitikan Indonesia tengah distrukturisasi oleh virus “wis wani wirang” yang secara mitis terkait dengan Durga (Politik Penyingkapan, Heru Harjo Hutomo, https://alif.id).

Dalam khazanah pewayangan Durga adalah pemimpin para entitas rusak: genderuwo, grandong, jim, peri perayangan atau Nyi Kunti, Buta, dst. Kegoncangan jagat lazimnya terjadi tersebab goda Durga pada Bathara Guru yang memang terkenal goyah dalam hal komitmen. Dan kegoncangan itu hanya dapat diredam oleh sesosok Semar yang ketika Durga hanya bersua dengannya akan merasa wirang dan kemudian menggagalkan segala agendanya.

Semar adalah representasi populisme yang tak populistik. Ketika orang menyatakannya sebagai simbol rakyat memang tak selamanya salah, mengingat konon vox populi vox Dei, yang berarti bahwa Semar adalah dewa yang ngejawantah. Namun pengertian rakyat di situ bukanlah rakyat sebagaimana yang orang pahami.

Semar jelas berbeda dengan Gareng, Petruk ataupun Bagong. Apabila Semar tahu dan ikut membentuk “kosmos” dan memilih mengalah dari posisi pemimpin kosmos itu, Gareng, Petruk dan Bagong, sama sekali tak mengetahui. Maka, dalam jagat pewayangan, sekali pun para dewa sama sekali tak menyiutkan nyali Semar untuk menegakkan segala tertib ketika dirasa sudah bergerak secara tak proporsional—khususnya ketika gerakan wis wani wirang seolah sudah menjadi trend.

Trend adalah suatu kebiasaan yang lazimnya orang sama sekali tak mengetahui tentang awal mula, maksud atau tujuannya. Begitu orang yang mengikuti trend itu disentak oleh akal sehat, maka akan tampaklah bahwa gerakan mereka beralaskan nalar kebencian belaka. Pada aras inilah kemudian penyematan “drakor” atau politik perasaan pada dinamika politik Indonesia kontemporer menemukan konteksnya.

Dan, sebagaimana rumus Semar, sesudah politik perasaan, maka akan tumbuh pula sebentuk “politik melankolia” yang akan menampakkan kenyataan bahwa di balik segala kegagahan terkandung perih yang tak terperikan. Namun sebagaimana hantu atau jim yang konon selalu membayangi, kemuraman atau melankolia itu sejatinya hanyalah akibat dari ulah sendiri yang barangkali berawal dari ke-geer-an belaka.

Oleh :Heru Harjo Hutomo

Gambar : Illustrasi Air mata diambil dari Pixalbay

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid