Kearifan Purba dan Suara-suara yang Berbeda dalam Satu Identitas yang Sama

If you have two religions in your land, the two will cut each other’s throats; but if you have thirty religions, they will dwell in peace

—Voltaire

Menyimak sejarah agama-agama abrahamik memang cukup menarik ketika menautkannya kembali dengan Ibrahim dan kepercayaan-kepercayaan yang dianut oleh para penganut tiga agama yang dilahirkannya. Entah pada waktu Ibrahim hidup apakah kepercayaan-kepercayaan itu juga sudah ada, tak ada yang tahu pasti.

Kepercayaan-kepercayaan, dari sudut-pandang Yahudi, seperti tanah yang dijanjikan, dan, dari sudut-pandang Islam, Dajjal-dajjal dan Imam Mahdi, seolah berlawanan antara satu dengan yang lainnya. Di sinilah kemudian orang perlu menyeksamai tentang kearifan purba yang konon menjadi jantung dari pertumbuhan agama-agama yang bersangkutan.

Beberapa istilah tentang kearifan purba itu terkandung dalam istilah “hanif,” “tauhid” atau monoteisme, yang konon (dapat) menjadi persambungan kalimat. Atau dengan kata lain, menjadikan apa yang tampak berbeda menjadi suatu hal yang dapat dimengerti.

Namun ketika konflik, misalnya, antara Palestina dan Israel seperti berlangsung tanpa adanya pangkal dan ujung—bahkan seolah sudah menjadi “gaya hidup keagamaan kontemporer”—apa yang kemudian terjadi dengan kearifan purba yang konon dapat menjadi persambungan kalimat itu?

Dalam kearifan Jawa terdapat pandangan bahwa kelak konflik di dunia itu bukan lagi berdasarkan kepingan kelas (proletar vs. borjuis), kepingan ideologis (sosialisme vs. liberalisme-kapitalisme), kepingan agama (Islam vs. non-Islam), dsb. Namun, konflik itu akan berlangsung antara kepingan golongan yang berspiritualitas tinggi vs. golongan yang berspiritualitas rendah.

Kearifan purba yang menjadi dasar dari pertumbuhan agama-agama yang ada itulah yang konon berada di wilayah spiritualitas (gerak yang mendalam dan meluas) yang dapat dipilah dari religiositas (gerak yang mendangkal dan menyempit).

Jadi, pada dasarnya, dalam satu identitas yang sama belum tentu mengandung suara yang tunggal. Taruhlah dari sudut-pandang agama Islam, yang terbukti melahirkan kategorisasi semacam “Islam moderat” vs. “Islam radikal,” “Islam substansial” vs. “Islam formal,” dst. Dan pluralitas internal ini terkandung dalam identitas (atau apa yang dianggap sebagai identitas) apapun.

Ketika logika semacam itu dikenakan pada konflik Palestina-Israel yang seolah sudah menjadi “gaya hidup keagamaan kontemporer,” maka dapat diketahui bahwa yang sebenarnya terjadi adalah terbungkam atau dibungkamnya, entah demi kepentingan apa, golongan yang cenderung berspiritualitas tinggi yang lazimnya memiliki tingkat toleransi yang juga tinggi.

Dengan demikian, ketika yang terjadi adalah terbungkam atau dibungkamnya kearifan purba yang konon terbukti mampu menyambungkan kalimat-kalimat itu, maka satu upaya yang mesti dilakukan adalah dengan menguak tabir-tabir yang menyumpal pluralitas internal itu agar bersuara dengan mengatasnamakan dirinya sendiri.

 

Penulis : Heru Harjo Hutomo

(penulis, perupa, pemusik, dan pemerhati radikalisme-terorisme)

Foto : Diambil Dari (Bing Image Creator)

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid