Dilema Potensi Tambang Kepulauan Sangihe-Talaud Sulawesi Utara?

Sulawesi Utara, Berdikari Online – Sangihe-Talaud, dua kabupaten kepulauan Sulawesi Utara memiliki daya tarik tinggi. Kedalaman laut Sangihe-Talaud memiliki kandungan migas dan mineral hidrotermal (perak, tembaga, seng dan timbal) yang tinggi serta keragaman hayati laut yang luar biasa. Demikian menurut riset kerjasama Marine Scientific Research (MSR) atau Penelitian Ilmiah Kelautan dengan Amerika Serikat lewat Indonesian Exploration–Sangihe-Talaud Expeditions (INDEX-SATAL).

INDEX-SATAL adalah kerjasama menjelajahi kedalaman Perairan Indonesia yang dipimpin peneliti asal Amerika Serikat. Ekspedisi ini dilakukan sejak 24 Juni hingga 8 Agustus 2010. Tujuan dari ekspedisi penelitian ini adalah meningkatkan pemahaman tentang ekosistem bawah laut terutama yang berkaitan dengan gunung api bawah laut dan lubang hidrotermal yang memiliki potensi melimpah dalam ketersediaan minyak, gas, berbagai kandungan mineral serta keanekaragaman hayati laut dalam.

Kepala Dinas Energi Sumberdaya Mineral Provinsi Sulawesi Utara menyatakan bahwa Sangihe-Talaud juga memiliki potensi alam seperti Pasir Besi, Biji Besi dan Emas.

Ekspansi Kapital yang kian berfokus pada pertambangan manufaktur sangat memungkinkan pulau kecil berpenghuni sekalipun akan digarap menjadi kawasan pertambangan. Contoh kasus, Kabupaten Kepulauan Sangihe saat ini sedang digelut menjadi wilayah pertambangan Emas.

Ketidak-seriusan dalam mengangkat potensi sumberdaya alam non pertambangan manufaktur menjadi satu pemicu masyarakat menerima pertambangan tersebut. Pertambangan Emas di Kabupaten Kepulauan Sangihe menjadi contoh kasus bahwa masyarakat setempat sangat antusias menerima pertambangan. Hal tersebut tercipta akibat penderitaan rakyat dalam bidang ekonomi serta ketidakpedulian Pemerintah dalam mengangkat ekonomi rakyat di bidang non Tambang.

Wilayah Tabukan Selatan Kabupaten Kepulauan Sangihe khususnya Desa Bowone yang menjadi salah satu sentral Tambang di Sangihe awalnya adalah desa yang sangat terisolir. Kehidupan masyarakat dalam meraup ekonomi adalah bertani, nelayan, tukang bahkan bertaruh nasib di rantau. Setelah wilayah tersebut menjadi kawasan pertambangan, ekonomi masyarakat naik sangat signifikan sehingga masyarakat tergiur bahkan mengelola lahannya sendiri guna menjadi pertambangan rakyat.

Masuknya perusahaan menjadi polemik Pro – kontra; dikarenakan masyarakat lingkar tambang juga banyak mendukung agar perusahaan tersebut beroperasi dengan dasar tersedianya lapangan kerja yang mumpuni di wilayah tersebut. Wilayah tersebut mempunyai jumlah penduduk yang siap kerja di kisaran angka 5700-an dari total penduduk sekitar 12.380 penduduk yang tersebar di tiga kecamatan (Tabukan Selatan, Tabukan Selatan Tengah, Tabukan Selatan Tenggara).

Edukasi berkala serta keberpihakan Pemerintah dalam mengangkat ekonomi rakyat di wilayah Kabupaten Kepulauan Sangihe-Talaud harus menjadi hal yang serius agar masyarakat tak tertarik dengan ajakan pembangunan industri manufaktur pertambangan.

(Alvian Tempongbuka)

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid