“Barisan Ibu”, Ode untuk Perjuangan Kaum Ibu

Pada 2 Mei 2022, bertepatan dengan Umat Islam merayakan hari kemenangan Idul Fitri 1443 Hijriah, duet Agus Jabo Priyono dan Dewi Luna meluncurkan video klip lagu “Barisan Ibu”.

Di kanal youtube Prima TV, video klip lagu “Barisan Ibu” sudah ditonton lebih dari 22 ribu orang. Lagu itu juga diunggah di banyak kanal media sosial, seperti Tiktok, Spotify, Facebook, Twitter, dan lain-lain.

Agus Jabo Priyono adalah aktivis politik yang kini menjadi Ketua Umum Partai Rakyat Adil Makmur (PRIMA). Sedangkan Dewi Luna merupakan penyanyi profesional bergenre dangdut yang pernah bernaung di bawah label besar, seperti Nagaswara. Saat ini, Dewi Luna bergabung dengan PRIMA dan ditunjuk sebagai juru bicara partai.

Baca juga: Dewi Luna: Saya Berpolitik Karena Resah dengan Keadaan

Didedikasikan untuk Perjuangan Ibu-Ibu

Lagu “Barisan Ibu” berasal dari puisi dengan judul yang sama ditulis oleh Agus Jabo Priyono. Puisi itu ditulis pada 2009 dan diterbitkan dalam buku kumpulan puisi berjudul “Negeriku, syair syair perjuangan, Agus Jabo”.

“Puisi itu saya buat sebagai penghormatan tertinggi atas sosok perempuan hebat, yaitu ibu,” kata Agus Jabo kepada berdikarionline.com, Senin (9/5/2022).

Jabo bercerita, pada tahun 1998, saat dirinya mendekam di penjara Kepolisian Daerah Metro Jaya karena aktivitas politik melawan rezim Orde Baru, ia mendengar aksi protes yang digelar oleh ibu-ibu di Solo, Jawa Tengah.

“Saya mendengar Ibu-ibu di Solo, dengan caping bambu, ikut turun ke jalan,” kenangnya.

Menurutnya, ketika ibu-ibu secara konstruksi sosial ditempatkan di belakang sebagai pengurus rumah tangga, mereka yang paling merasakan dampak dari goncangan ekonomi maupun politik.

Tahun 1997-1998, ketika krisis moneter mencekik ekonomi rakyat, kaum perempuan yang tergabung dalam Suara Ibu Peduli (SIP) menggelar aksi protes kenaikan harga di bundaran Hotel Indonesia.

Momen-momen itu menancap kuat dalam ingatan Agus Jabo dan mendorongnya untuk menuliskan sebuah puisi.

Selain momen perempuan di garis depan, Agus Jabo juga mendedikasikan lagu “Barisan Ibu” untuk ibunya dan ibu-ibu Indonesia lainnya.

“Ibu adalah perempuan agung, yang melahirkan, mendidik dan membesarkan kita semua, sampai kita menjadi dewasa,” katanya.

Dia mengenang, ketika lulus dari Sekolah Menengah Pertama (SMP), ia harus berpisah dengan ibunya yang tinggal di sebuah desa di Magelang, Jawa Tengah.

“Ibu saya berharap anaknya sukses secara ekonomi. Namun, sejak saya masuk kuliah, bukannya mempersiapkan diri untuk bekerja, tetapi malah terjun ke dunia pergerakan, menjadi aktivis,” ujarnya.

Semasa menjadi aktivis, mulai dari sebagai aktivis mahasiswa di Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Pelajar Islam Indonesia (PII), hingga Partai Rakyat Demokratik (PRD), Agus Jabo kerap berhadapan dengan represi dan penjara.

“Walaupun demikian, Ibu saya tidak pernah menagih atau mengeluh dengan jalan hidup saya, selain mendukung dan mendoakan anaknya,” ungkapnya.

Lagu Perjuangan

Tidak berselang lama setelah terbit sebagai puisi, kira-kira pada 2009, Antun Joko Susmana menggubah “Barisan Puisi” menjadi lagu.

“Katanya, tidak ada revolusi tanpa lagu-lagu. Maka perjuangan itu harusnya banyak menciptakan lagu-lagu. Lagu Barisan Ibu, salah satunya,” kata AJ Susmana.

Mono, panggilan akrab AJ Susmana, mengaku tertarik menggubah puisi “Barisan Ibu” karena liriknya sangat kuat, menggugah, dan gampang diingat.

Sejak 2010, lagu “Barisan Ibu” mulai dinyanyikan. Awalnya di panggung-panggung kesenian rakyat, di sela acara diskusi, kemudian di tengah-tengah aksi protes.

Di kanal youtube, lagu “Barisan Ibu” pernah dinyanyikan oleh Berdikari Choir (Ulfa Ilyas dkk) , Rizal Abdulhadi, Perempuan Berdikari (Tari Adinda dkk) dan Sahat Farida.

Agus Jabo berharap, lagu “Barisan Ibu” bisa menginspirasi ibu-ibu dan kaum perempuan Indonesia untuk menggerakkan perubahan di Indonesia.

“Di tengah pengapnya politik karena polarisasi dan narasi kebencian, juga gelapnya kehidupan berbangsa karena ketimpangan ekonomi dan dominasi oligarki, saya berharap musik bisa menjadi kekuatan pencerahan dan perubahan,” katanya.

Dia juga berharap, kaum perempuan dan ibu-ibu bisa berperan aktif dalam organisasi atau partai politik agar lebih berdaya secara politik sehingga bisa mendorong perubahan.

“Keadilan dan kemakmuran bisa diukur jika seluruh rakyat bisa hidup bahagia, segala kebutuhan pokoknya, pangan, sandang, papan tercukupi, anaknya bisa sekolah sampai setinggi-tingginya, bisa bekerja yang layak bermartabat, hidup sehat,” jelasnya.

Jabo menegaskan, mewujudkan masyarakat adil dan makmur merupakan tugas penyelenggara Negara, agar rakyat tak menjadi ranting kering di ladang sendiri.

Dan “Barisan Ibu” merupakan ode bagi perjuangan kaum ibu agar tak menjadi ranting kering di ladang sendiri.

MAHESA DANU

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid