Kumpulan puisi pertama AJ Susmana, Kota Ini Ada Di Tubuhmu (JAKER, 2008), tidak menawarkan keindahan kota dalam arti pariwisata. Judulnya sendiri sudah merupakan pernyataan politik. Jika pada umumnya penyair menulis “aku ada di dalam kota”, AJ Susmana membaliknya: “kota ada di dalam aku”. Pembalikan subjek-objek ini penting.
1. Kota Sebagai Pengalaman Biologis
Dalam tradisi puisi Indonesia, kota sering digambarkan sebagai latar. Pada Chairil Anwar, Jakarta adalah tempat “binatang jalang” yang terbuang. Pada Goenawan Mohamad, Jakarta adalah peta yang abstrak. Pada AJ Susmana, kota adalah tubuh.
Resensi Berdikari Online mencatat, puisi titular ini bercerita tentang “kota yang penuh sesak dengan manusia urban, kemiskinan, dan kemarahan”. Sesak itu bukan metafora. Sesak itu benar-benar sesak: kos 3×3 yang dihuni dua orang, upah buruh Tangerang yang dipotong, nasi warteg yang dihitung butirnya.
Maka ketika dia jatuh cinta, cintanya juga sesak. Ini bukan cinta yang terjadi di kafe Senopati. Ini cinta yang terjadi sambil menunggu angkot yang tidak datang. Agitasi dan romansa bercampur. Pengulas menyebutnya “agitasi yang manis” — sebuah teknik yang membuat pembaca tidak merasa sedang diceramahi, padahal sedang diajak berontak.
2. Dari Klaten ke Tangerang: Peta Perjalanan Kelas
Puisi-puisi di dalam buku ini ditulis di banyak kota: Depok, Jakarta, Tangerang, Klaten, Yogyakarta, Semarang. Ini bukan perjalanan wisata. Ini adalah peta migrasi kelas pekerja Indonesia.
Klaten adalah tempat lahir. Yogyakarta adalah tempat kuliah filsafat di UGM dan aktivisme di SMID/PRD. Jakarta-Tangerang-Depok adalah tempat kerja, tempat menjadi buruh, tempat menjadi urban yang terasing.
Perjalanan itu membuat puisinya tidak elitis. Diksi yang dipakai sengaja lugas. Contoh puisi lain yang satu buku, “Karena”, menulis dengan terang:
Karena buruh diupah rendah
Karena buruh seperti sapi perahan
Tidak ada simbolisme yang rumit. Karena memang kenyataannya tidak rumit. Buruh memang diupah rendah.
3. Warisan Wiji Thukul dan JAKER
Tidak bisa membaca AJ Susmana tanpa membaca Wiji Thukul. AJ adalah penerus seksi kebudayaan JAKER yang dulu dipimpin bersama Wiji Thukul. Bedanya, jika Thukul menulis di era Orde Baru dengan risiko diculik, AJ menulis di era reformasi yang sudah liberal tapi tetap timpang.
Jika Thukul berkata “hanya ada satu kata: lawan!”, AJ berkata “kubrikan kepadamu: pemberontakan”. Pemberontakan di sini bukan lagi teriakan, tapi hadiah. Hadiah untuk kekasih. Ini perubahan strategi puitik: dari pamflet yang keras menjadi puisi cinta yang radikal.
Penutup: Kenapa Puisi Ini Masih Relevan?
Di tahun 2026, ketika harga kontrakan di Jakarta naik 2 kali lipat dan upah UMR tidak mengejar, puisi “Kota Ini Ada Di Tubuhmu” terasa lebih benar daripada tahun 2008. Kita semua memang sudah menelan kota. Macet ada di paru-paru. Tagihan ada di lambung. Kecemasan PHK ada di jantung.
Kekuatan AJ Susmana bukan pada keindahan kata, tapi pada kejujurannya mengatakan bahwa tubuh kita sudah bukan milik kita lagi, melainkan milik kota.
Robertus Jaya, penikmat puisi
Kota Ini Ada Di Tubuhmu: Ketika Kota Menjadi Organ Tubuh


