Cegah Karhutla Sejak Dini, Institut Kedaulatan Bangsa Dorong Pendekatan Sains & Teknologi Semakin Di Perkuat

Jakarta, Berdikari Online – Upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) didorong agar semakin diperkuat melalui pendekatan berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi. Langkah ini dinilai krusial demi mendeteksi potensi kebakaran sejak dini serta mempercepat respons di lapangan.

Founder Institut Kedaulatan Bangsa, Samsudin Saman, menyatakan dukungannya terhadap komitmen pemerintah yang memprioritaskan pencegahan karhutla, khususnya di wilayah rawan dan berkarakteristik gambut.

Menurut Samsudin, mitigasi karhutla tidak boleh lagi sekadar bersifat reaktif atau menunggu api telanjur membesar. Pengelolaan lahan gambut harus dilakukan secara presisi dengan mengandalkan data akurat.

“Pencegahan harus menjadi prioritas. Pengelolaan gambut harus dilakukan berdasarkan data, ilmu pengetahuan, dan teknologi agar potensi karhutla dapat diidentifikasi dan ditangani lebih awal,” ujar Samsudin kepada wartawan, Minggu (27/9/2026).

Ia menjelaskan, penanganan ekosistem gambut memiliki karakteristik khusus yang berbeda jauh dari lahan mineral. Salah satu kunci utamanya adalah menjaga kestabilan tata air agar gambut tetap basah dan terhindar dari kekeringan ekstrem yang memicu kerentanan terbakar.

Selain itu, optimalisasi teknologi pemantauan juga harus digenjot. Berbagai indikator penting—mulai dari kondisi lahan, tinggi muka air, cuaca, sebaran titik panas (hotspot), hingga perubahan tutupan lahan—harus diintegrasikan sebagai landasan pengambilan kebijakan yang cepat dan tepat sasaran.

Kendati demikian, Samsudin mengingatkan bahwa efektivitas pencegahan sangat bergantung pada soliditas sinergi lintas sektor. Kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah, masyarakat lokal, serta satgas di lapangan menjadi harga mati.

“Teknologi harus menjadi instrumen untuk memperkuat kerja lapangan. Data harus diterjemahkan menjadi tindakan yang cepat, terukur, dan tepat sasaran,” tegasnya.

Lebih lanjut, Samsudin menekankan bahwa tolok ukur keberhasilan menekan karhutla bukan sekadar penurunan jumlah titik panas dalam periode tertentu. Konsistensi menjaga tata kelola gambut dan keberlanjutan sistem mitigasi harus berjalan sepanjang tahun, bukan hanya saat musim kemarau atau ketika musibah kebakaran sudah terjadi.

(Amir)

[post-views]