Presiden-Presiden Yang Terbunuh Saat Menjabat

Dalam sejarah, sejak umat manusia mengenal pengorganisasian kekuasaan untuk memimpin kepentingan masyarakat banyak, perebutan kekuasaan secara paksa atau kudeta menjadi kelaziman.

Tak jarang, penggulingan itu dilakukan lewat jalan kekerasan, seperti pembunuhan. Dalam sejarah modern, pembunuhan politik mengambil dua motif utama; pertama, persaingan politik antar elit; dan kedua, penyingkiran pemimpin politik yang tak dikehendaki imperium besar (baca: negara-negara imperialis).

Berikut ini pemimpin politik yang menjadi korban pembunuhan saat masih menjabat:

#1 ABRAHAM LINCOLN

Abraham Lincoln adalah Presiden ke-16 Amerika Serikat. Ia menjabat dari tahun 1861 hingga 1865. Pada tahun 1863, Ia menyampaikan Proklamasi Emansipasi, yang bertekad menghapuskan perbudakan di Amerika Serikat.

Namun, perjuangan Lincoln tidak mulus. Ia harus berhadapan dengan kekuatan konservatif, terutama pemilik budak. Amerika pun terbelah dua: negara-negara bagian Utara (yang anti-perbudakan) dan Selatan (yang pro-perbudakan). Itu pula yang membuat Amerika terjerembab dalam perang sipil selama 4 tahun.

Di akhir masa jabatannya, Lincoln masih mendorong  amandemen ke-13 Konstitusi AS untuk menghapuskan perbudakan. Dan proyek Lincoln itu berhasil. Sayang, keberhasilan Lincoln itu harus ditebus dengan nyawanya.

Pada 14 April 1865, saat sedang menyaksikan pertunjukan teater, Lincoln ditembak oleh oleh seorang pemain teater, John Wilkes Booth, yang disusupkan oleh kelompok pro-perbudakan. Lincoln tercatat sebagai Presiden pertama AS yang jadi korban pembunuhan.

#2 MAHATMA GANDHI

Siapa yang tak kenal dengan Mohandas Karamchand Gandhi alias Mahatma Gandhi? Dia adalah bapak perjuangan kemerdekaan India dari kolonialisme Inggris.

Gandhi adalah lulusan sekolah hukum di Inggris.Dia mengawali karirnya sebagai pengacara sekaligus pejuang hak-hak sipil di Afrika Selatan. Saat itu, Afrika Selatan masih di bawah kekuasaan Inggris. 

Di Afrika Selatan, Gandhi sebagai manusia berkulit berwarna merasakan perlakuan diskriminatif. Suatu hari, dia diturunkan dari kereta api lantaran ngotot duduk di kursi kelas utama (yang diperuntukkan bagi kalangan kulit putih).

Kembali ke India, ia memimpin gerakan kemerdekaan. Ia menggunakan metode non-kekerasan dan pembangkangan sipil. Gerakan ini disebut “Satyagraha” atau “Jalan Menuju Kebenaran”. Pada tahun 1920-an, ia memimpin gerakan boikot barang-barang Inggris dan menyerukan sikap non-koperasi (menolak kerjasama). Tahun 1930-an, ia memprotes pajak garam oleh Inggris melalui long-march sejauh 250 mil.

Pada tahun 1940-an, tuntutan kemerdekaan menguat. Saat itu, penguasa Inggris menangkap sejumlah tokoh pergerakan India, termasuk Gandhi. Ia dipenjara selama 2 tahun. Pasca perang dunia ke-II, Inggris mulai melunak dan menjanjikan kemerdekaan ke India. Namun, seperti biasa, Inggris menjalankan politik pecah belah: memaksa India menjadi dua negara berdasarkan agama, yakni India (Hindu) dan Pakistan (Islam). Gandhi menolak proposal itu.

Semua wilayah mayoritas muslim, yang mengapit India di bagian barat dan timur, menjadi Pakistan. Sedangkan yang mayoritas Hindu menjadi negara India. Beberapa wilayah besar dibelah begitu saja, seperti Punjab dan Bengal. Punjab barat jadi Pakistan, sedangkan Punjab timur jadi India. Bengal barat jadi India, Bengal timur jadi Pakistan (sekarang Bangladesh).

Politik partisi ala Inggris membawa tragedi kemanusiaan. Jutaan orang muslim terpaksa berpindah ke Pakistan. Begitu juga sebaliknya: jutaan Hindu dari wilayah Pakistan mengalir ke India.

Gandhi jelas menolak politik partisi berbasis agama itu. “Hindu dan muslim adalah anak dari tanah-air yang sama: India. Mereka adalah saudara yang, karenanya, harus tetap menjaga India yang merdeka dan bersatu,” tegasnya.

Meskipun India kemudian tak bisa mengelak dari politik partisi itu, tetapi Gandhi tak berhenti mencita-citakan India yang bersatu (India dan Pakistan).

Sayang, bukan harapannya yang terwujud, pada 30 Januari 1948, tak lama setelah kemerdekaan Negeri yang dicintainya, Gandhi dibunuh oleh seorang nasionalis Hindu bernama: Nathuram Vinayak Godse.

Pemuda itu menembak Gandhi dengan pistol sebanyak tiga kali. Bapak kemerdekaan India itu tersungkur dan meninggal hanya setengah jam kemudian.

#3 JOHN F. KENNEDY

John Fitzgerald “Jack” Kennedy, sering disingkat JFK, adalah Presiden ke-35 Amerika Serikat. Ia menjadi Presiden AS dari tahun 1961 hingga tahun 1963. Sebelum menjadi Presiden, ia adalah politisi dari Partai Demokrat.

Tak ada hal menonjol yang dilakukan Kennedy saat menjadi Presiden. Ia menjanjikan dana yang lebih besar untuk pendidikan, jaminan kesehatan bagi lansia, dan bantuan ekonomi untuk wilayah pedalaman.

Dalam politik luar negeri, kebijakan Kennedy tetap dalam konteks memerangi komunisme. Pada masa pemerintahannya, invasi Teluk Babi, yakni serangan tiba-tiba AS terhadap Kuba, dilakukan.

Pada 22 November 1963, saat sedang melakukan lawatan ke negara bagian Texas, JF Kennedy ditembak oleh seseorang. Ia tertembak di atas mobil kepresidenan. Saat itu, pihak berwenang menetapkan Lee Harvey Oswald sebagai pelaku pembunuhan Kennedy. Namun, hingga kini, kontroversi mengenai pembunuhan Kennedy ini belum selesai.

#4 PATRICE LUMUMBA

Pada 30 Juni 1960, rakyat Kongo bersuka-cita merayakan proklamasi kemerdekaan. Capaian itu berkat perjuangan seorang aktivis politik yang menggelorakan perjuangan kemerdekaan: Patrice Lumumba.

Namun, kemerdekaan Kongo tak menyenangkan bekas penjajahnya, Belgia. Elit-elit lokal, yang sudah menikmati posisi istimewa di bawah penjajah Belgia, juga tak sedang dengan kemerdekaan itu.

Tak sampai sebulan setelah Proklamasi, Belgia berhasil memprovokasi berdirinya Negara di dalam negara. Moise Tshombe, seorang kaya yang pro Belgia, memproklamirkan kemerdekaan provinsi Katanga.

Di sisi lain, begitu merdeka, pemerintahan Lumumba menghadapi banyak kekacauan. Mulai dari kekacauan di tubuh tentara hingga ketidakcakapan orang-orang yang duduk di pemerintahannya.

Pada saat bersamaa, Belgia (juga AS) dan sayap kanan Kongo menggencarkan tudingan “komunis” dan “antek Uni Soviet” kepada Lumumba.

Situasi diperkeruh oleh Presiden Kongo, Kasa-Vubu, yang tak menyukai pemerintahan Lumumba. Akhirnya, pada 5 September 1960, Kasa-Vubu memecat Lumumba sebagai Perdana Menteri dan membubarkan pemerintahannya. 

Lumumba mengecam pemecatannya dan menuding Presiden Kasa-Vuvu sebagai penghianat. 

Konflik Perdana Menteri versus Presiden ini memanas, disertai tangkap-menangkap. Dalam situasi ketidakpastian politik itu, tentara yang dipimpin Joseph Mobutu melancarkan kudeta militer.

Mobutu menyatakan mengambialih pekerjaan Presiden dan Perdana Menteri untuk sementara, sembari mendorong rekonsialisasi. Dalam perjalanannya, Mobutu makin pro pada Kasa-Vubu. 

Pada suatu hari di bulan Oktober 1960, Mobutu mengirim tentara untuk menangkap Lumumba di rumahnya, tetapi digagalkan tentara PBB. Lumumba dikurung di rumahnya.

Pada November 1960, Lumumba dan keluarganya berusaha melarikan diri ke provinsi yang mendukungnya, sembari mengkonsolidasikan kembali kekuasaannya. Sayang, tentara Mobutu berhasil menangkapnya.

Sepanjang Desember hingga Januari 1961, Lumumba di tangan militer Mobutu. Hingga, pada malam 17 Januari 1961, Lumumba dan dua kawannya digiring ke tengah hutan, lalu dieksekusi mati oleh regu tembak. Mayatnya dipotong-potong, lalu dibakar untuk menghilangkan jejaknya.

#5 SALVADOR ALLENDE

Pada 4 September 1970, seorang dokter berhaluan marxis mencatat sejarah: dia terpilih sebagai Presiden melalui jalan pemilu. 

Begitu berkuasa, Allende mengambil banyak sekali langkah progresif. Mulai dari reforma agraria hingga menasionalisasi sejumlah perusahaan swasta (bank, batubara, baja, dan tembaga). Upah buruh juga dinaikkan.

Selain itu, pemerintahan Allende juga punya fokus pada pengembangan manusia lewat perbaikan kesehatan dan layanan pendidikan. Pintu-pintu lembaga pendidikan mulai terbuka untuk seluruh anak-anak Chile. Di sekolah, mereka diberi susu gratis.

Bersamaan dengan upaya Allende untuk mulai mengorganisasikan ekonomi Chile dengan cara-cara sosialis yang modern. Saat itu, Allende mulai mengaplikasikan teknologi untuk mengatur ekonomi.

Sayang, jalan Allende tak lapang. Ada banyak gangguan, terutama dari AS dan kelompok kanan. AS sampai mengguyurkan uang jutaan dollar untuk menggoyang pemerintahan Allende, baik melalui sabotase ekonomi maupun pemogokan. Yang terkenal: pemogokan para sopir truk untuk mengacaukan ekonomi.

Namun, berbagai upaya itu gagal menggoyang Allende. Hingga, pada 11 September 1973, militer Chile dibawah pimpinan Jenderal Pinochet melancarkan kudeta militer. 

Tentara, yang disokong AS dan CIA, menyerbu istana Kepresidenan, La Moneda Palace. Tak hanya dengan tentara, tapi juga tank dan pesawat tempur. 

Tapi Allende tak mau menyerah. Ia dan pengawal setianya memilih bertahan di Istana hingga gugur. Dalam pidatonya sebelum terbunuh, Allende berpesan: Inilah kata-kata terakhirku dan aku yakin pengorbananku tidak akan sia-sia.

#6 MAURICE BISHOP

Grenada, sebuah negeri kecil di kepulauan Karibia, juga punya kisah yang menarik. Setelah selama ratusan tahun terjajah, pada 7 Januari 1974, Grenada meraih kemerdekaan dari Inggris.

Sayang, di bawah pemerintahan Eric Gairy, Grenada tak mendapat banyak kemajuan. Di sisi lain, dalam menghadapi oposisi, Gairy punya polisi rahasia dan milisi yang bertindak represif.

Akhirnya, pada Maret 1979, New JEWEL Movement (NJM) yang dipimpin Maurice Bishop melancarkan revolusi bersenjata. Mereka berhasil menggulingkan pemerintahan Gairy.

Begitu berkuasa, Bishop segera membentuk pemerintahan revolusioner Rakyat Grenada (PRG). Ia juga langsung mereorganisasi ekonomi Grenada sesuai jalan pikiran Lenin: Kebijakan Ekonomi Baru (1921).

Banyak gebrakan dilakukan pemerintahan Bishop. Mulai dari memberantas buta huruf, memajukan pendidikan, memerangi kemiskinan, hingga membenahi infrastruktur dasar yang tertinggal.

Selain itu, Bishop juga banyak menggerakkan industri pariwisata. Untuk tujuan itu, dia berniat membangun bandara berstandar internasional. 

Namun, siapa sangka, proyek bandara itu mengusik Washington. Pemerintahan Reagen menuding proyek bandara itu bakal dipergunakan oleh Uni Soviet untuk menyerbu AS.

Akhirnya, pada Maret 1983, sekelompok tentara yang berkolaborasi dengan Wakil Perdana Menteri kala itu, Bernard Coard, memaksa Maurice Bishop untuk berbagai kekuasaan. 

Bishop menolak proposal itu. Akhirnya, sebuah kudeta militer menggulingkannya. Dia sempat menjadi tahanan rumah hingga Oktober 1983. Rakyat Grenada tak terima. Mereka menggelar aksi di seantero negeri untuk menuntut pembebasan Maurice Bishop.

Yang menarik, demonstrasi massa besar berhasil membebaskan Bishop dari tahanan rumah. Tetapi tentara berhasil menggiring Bishop dan sejumlah menterinya ke sebuah pangkalan militer. Di tengah jalan, Bishop dan menteri-menterinya ditembak mati.

Pembunuhan Bishop memicu kemarahan rakyat Grenada maupun sejumlah pemimpin negara. Dalam situasi kacau itu, pada 25 Oktober 1983, pemerintahan Reagen menginvasi Grenada.

#7 THOMAS SANKARA

Pada Agustus 1983, sebuah kudeta militer berhasil mendudukkan seorang Kapten menjadi Presiden di Burkina Faso. Namanya: Thomas Sankara.

Begitu berkuasa, Sankara melakukan banyak tindakan progresif. Mulai dari mengubah nama negara, dari Upper Holta atau Haute-Volta (pemberian penjajah) menjadi Burkina Faso. Burkina Faso berarti “tanah air orang-orang yang berdiri tegak”.

Secara ekonomi, dia mendorong rakyat Burkina Faso berproduksi sendiri, dari pangan hingga sandang. Dia juga memberantas buta huruf dan memajukan pendidikan. Ia juga memperluas program vaksinasi dan memajukan sektor kesehatan rakyat.

Secara politik, Sankara sangat anti-korupsi. Pemerintahannya dibuat sangat sederhana. Ia memangkas gaji pejabat pemerintahan. Setiap kunjungannya ke luar negeri hanya menggunakan tiket ekonomi.

Sankara, yang suka mengenakan seragam militer dan baret merah layaknya Che Guevara, juga membuka ruang bagi partisipasi rakyat. Agar rakyat bisa berpartisipasi dalam politik, maka dibentuklah Komite Untuk Pertahanan Revolusi (CDR).

Langkah maju Sankara mengusik negara-negara imperialis dan kekuatan elit di Burkina Paso. Akhirnya, pada 15 Oktober 1987, Sankara dibunuh lewat kudeta militer yang dilancarkan oleh Blaise Compaore.

#8 JUAN JOSÉ TORRES

Juan José Torres adalah Presiden ke-61 Bolivia. Ia memerintah tidak sampai setahun, yakni dari Oktober 1970 hingga Agustus 1971. Ia adalah seorang petinggi militer berpikiran maju.

Torres berasal dari latar belakang keluarga miskin di Cochabamba. Pada tahun 1941, ia bergabung dengan militer. Sempat menjadi atase militer Bolivia di Brazil, duta besar di uruguay, dan Menteri perburuhan.

Pada tahun 1969, seorang militer reformis Alfredo Ovando melancarkan kudeta. Saat itu, Torres menjadi salah seorang tangan kanan Ovando. Torres berharap, Ovando melakukan reformasi lebih luas dan meninggalkan militer konservatif.

Pada tahun 1970, militer kanan melancarkan kontra-kudeta. Pertempuran terjadi di jalan-jalan. Saat itu, Ovando sudah memutuskan untuk mencari suaka di luar negeri. Dalam situasi itu, Torres justru berhasil memimpin militer kiri Bolivia untuk memenangkan pertempuran.

Toress pun melanjutkan kekuasaan Ovando. Begitu berkuasa, Torres mengambil sejumlah langkah revolusioner, seperti nasionalisasi sejumlah aset perusahaan AS dan mengusir Peace Corps (bentukan AS) keluar dari Bolivia. Torres juga berusaha mendekatkan Bolivia dengan Uni Soviet. Torres juga memangkas belanja militer untuk membiayai pendidikan.

Pada Juni 1971, pemerintahan Torres menyetujui pembentukan Majelis Kerakyatan (Asamblea Popular), yang dirancang sebagai pemerintahan rakyat dari bawah. 

Saat Torres sedang berjuang mengubah Bolivia, kelompok sayap kanan mulai merancang penggulingan Torrres. 

Puncaknya, pada 21 Agustus 1971, militer sayap kanan yang dipimpin oleh Kolonel Hugo Banzer melancarkan kudeta. Torres pun akhinya diasingkan ke Buenos Aires, Argentina.

Namun, pada tahun 1976, militer Argentina di bawah Jorge Videla juga melancarkan kudeta. Begitu berkuasa, Videla terlibat dalam operasi condor untuk membasmi gerakan kiri di Amerika Latin. Dengan operasi condor ini pula, Torres ditembak mati oleh pasukan pembunuh suruhan Jorge Videla.

#9 OLOF PALME

Dalam sejarah Swedia, ada sosok politisi yang cukup unik dan luar biasa. Dia adalah Olof Palme. 

Lahir dari keluarga elit dan kaya raya, lalu sempat bersekolah di AS. Begitu lulus di AS, dengan uangnya, dia keliling ke Asia, termasuk Indonesia, yang membuka matanya akan kejahatan kolonialisme di dunia ketiga.

Awal 1950-an, dia bergabung dengan Sosial-Demokrat Swedia. Karir politiknya cepat menanjak. Dia dekat dengan tokoh Sosial-Demokrat kala itu, Tage Erlander, yang menjadi Perdana Menteri dari 1946-1969.

Di pemerintahan Erlander, Palme mendapat banyak posisi. Dari Menteri Pendidikan hingga Menteri Komunikasi. Hingga, pada 1969, ketika Erlander mundur dari kepemimpinan partai Sosial-Demokrat, Palme menjadi penggantinya. Dia sekaligus menjadi Erlander sebagai Perdana Menteri.

Palme digambarkan sebagai seorang reformis-radikal. Dia sendiri menyebut dirinya demokratik-sosialis. Semasa berkuasa, dia menerapkan kebijakan welfare state yang progressif. 

Di periode pertama (1969-1974), Palme mendorong banyak kebijakan sosial, dari perumahan untuk pensiunan, asuransi sosial bagi lansia, tunjangan untuk anak-anak, hingga daycare gratis untuk anak-anak. 

Tahun 1974, seiring dengan tekanan ekonomi, popularitas Sosial-Demokrat menurun. Palme kehilangan jabatan. Dia dan partainya menjadi oposisi sepanjang 1975 hingga 1982.

Tahun 1982, di luar dugaan, Sosdem dan Palme menang pemilu. Palme kembali menjabat sebagai Perdana Menteri. Meski dengan tekanan ekonomi, Palme melanjutkan kebijakan progressifnya.

Semasa menjadi perdana Menteri, Palme dikenal dengan sikap anti-imperialisnya. Dia mengeritik AS dalam perang Vietnam. Dia menentang politik apartheid di Afrika Selatan. Dia juga mengutuk kudeta atas Allende di Chile. Dan tak disangka, dia berkawan akrab dengan Fidel Castro.

Pada 1986, usai nonton film bersama istrinya di Bioskop, saat jalan pulang, peluru menerjangnya. Nyawa Palme tak tertolong. Kasus pembunuhannya belum terang hingga sekarang ini.

#10 ANWAR SADAT

Mohammad Anwar Al Sadat adalah Presiden ke-3 Mesir. Ia memerintah Mesir dari tahun 1970 hingga 1981. Karir Anwar Sadat dimulainya dengan menjadi anggota militer.

Di bawah pemerintahan Gamal Abdul Nasser, Anwar Sadat menempati sejumlah jabatan penting, seperti Menteri Negara (1954), Presiden Majelis Nasional (1960-1968), dan Wakil Presiden (1969).

Begitu Nasser wafat, Ia kemudian menjadi Presiden. Sadat memimpin Mesir hampir 11 tahun. Kebijakan Sadat yang paling kontroversial, terutama bagi pengikut Islam, adalah perjanjian damai dengan Israel. Dia juga membungkam banyak oposisi, termasuk penulis feminis Nawal El Saadawi.

Pada 6 Oktober 1981, saat menghadiri parade militer yang digelar di Kota Kairo, sekelompok militer memberondong Anwar Sadat. Ia sempat dilarikan ke rumah sakit, tetapi nyawanya tidak tertolong lagi. Anwar Sadat tewas di tangan militernya sendiri.

RAYMOND SAMUEL

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid