Venezuela di Bawah Ancaman Agresi Imperialis

Lawatan Menteri Luar Negeri sekaligus Sekretaris Negara Amerika Serikat (AS) Rex Tillerson ke sejumlah negara latin, seperti Meksiko, Argentina, Peru, Kolombia dan Jamaika, telah menciptakan ketegangan dengan Venezuela.

Pasalanya, di sela-sela kunjungannya, Tillerson berulangkali melontarkan pernyataan kontroversial yang mencampuri urusan dalam negeri Venezuela.

Misalnya, sebelum memulai lawatan, dia bicara tentang kemungkinan kudeta militer di Venezuela terhadap pemerintahan Nicolas Maduro.

“Dalam sejarah Venezuela dan negara lain di Amerika latin dan Amerika Selatan, militer selalu menjadi agen perubahan ketika keadaan sudah sangat buruk, ketika pemimpin tidak lagi melayani rakyat,” katanya, seperti dikutip BBC, Jumat (2/2/2018).

Tidak hanya itu, Tillerson juga bicara tentang kemungkinan blokade minyak terhadap Venezuela. Pernyataan Tillerson ini didukung oleh Argentina, yang saat ini diperintah oleh Presiden berhaluan sangat kanan, Mauricio Macri.

Sementara itu, tanggal 7 Februari, dialog antara pemerintah Venezuela dan pihak oposisi yang sudah berlangsung berbulan-bulan di Republik Dominika berujung pahit. Pihak oposisi menolak menandatangani kesepakatan yang dibuat.

Padahal, menurut Jubir pemerintah Venezuela di dialog ini, Jorge Rodriguez, hampir semua tuntutan oposisi sudah termaktub dalam dokumen kesepakatan bersama. Dia menduga AS telah mensabotase dialog tersebut.

Sehari setelah oposisi menolak meneken dokumen kesepakatan perundingan di Dominika, Parlemen Eropa menyetujui sebuah sanksi yang lebih keras terhadap Venezuela.

Di hari yang sama, Kolombia dan Brazil mengumumkan akan mengirim tentara ke perbatasan mereka dengan Venezuala, atas nama “krisis kemanusiaan”. Brazil mengumumkan akan melipatgandakan pasukan keamanan di perbatasan Venezuela, sedangkan Kolombia mengirim 3000 tentara.

Sehari kemudian, Komandan Komando Selatan Tentara AS, Laksamana Kurt W. Tidd, tiba di Kolombia. Meskipun kedatangan Kurt dalam rangka kerjasama keamanan, tetapi Venezuela menduga itu persiapan untuk sebuah agresi militer.

Gencarnya tekanan AS dan barat terhadap Venezuela, yang disokong oleh sekutu kanan mereka di Amerika Latin, terjadi setelah Dewan Pemilihan Nasional (KPU) Venezuela mengumumkan penyelenggaraan Pemilu Presiden pada 22 April mendatang.

AS dan barat menuding pemilu itu tidak akan adil, bebas, terbuka dan demokratik. Mereka mendorong pihak oposisi Venezuela untuk memboikot pemilu tersebut.

Presiden Venezuela sekarang ini, Nicolas Maduro, dipastikan akan maju sebagai Capres di pemilu tersebut. Dia akan maju lewat partai barunya, “Somos Venezuela” atau “We Are Venezuela”, yang baru berdiri pada akhir Januari 2018.

Partai yang tengah berkuasa, Partai Sosialis Venezuela (PSUV), bersama partai-partai kiri yang lebih kecil, juga akan memberikan dukungan kepada Nicolas Maduro.

Pemerintahan Nicolas Maduro bergeming dengan berbagai ancaman agresi imperialis itu. “Hei Venezuela, pekerja minyak, imperialis mengancam kita. Kita ingin tetap bebas dan tidak ada siapapun yang bisa menghentikan kita,” kata Maduro menanggapi ancaman embargo minyak.

Sejauh ini, militer Venezuela masih loyal kepada Konstitusi dan pemerintahan yang sah. “Anda (Tillerson) benar, di sini ada banyak masalah. Tetapi anda harus tahu, Amerika Serikat jelas melakukan intervensi: persekusi keuangan, untuk menciptakan chaos, anarki dan destabilisasi,” katanya, seperti dikutip Venezuelaanalysis.com, Jumat (2/2/2018).

Pernyataan Tillerson, yang memprovokasi aksi militer domestik terhadap pemerintah berkuasa, mengingatkan orang akan gaya kudeta Pinochet di Chile tahun 1973.

Saat itu, militer yang dipimpin oleh Jenderal Jenderal Augusto Pinochet, dengan sokongan penuh AS, melancarkan kudeta terhadap pemerintahan demokratis Salvador Allende.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut