Universitas Venezuela Menentang Aksi Mogok Sejumlah Professor

Sejak Mei lalu, para professor di 13 Universitas di Venezuela menggelar aksi mogok, yang membuat aktivitas belajar-mengajar nyaris terhenti. Para professor ini menuntut kenaikan gaji mereka. Akibat aksi tersebut, sebanyak 15% dari 2,5 juta mahasiswa di Venezuela kehilangan kelas mereka.

Merespon hal itu, mahasiswa, professor, dan pekerja Universitas di Venezule menggelar aksi terpisah untuk menentang aksi mogok sejumlah Professor tersebut. Mereka berbaris dari Plaza Diego Ibarra, di pusat kota Caracas, dengan membawa banner “mempertahankan pendidikan”, Sabtu (29/6).

“Mereka punya agenda lain…(kepentingan mereka) sepenuhnya tidak mewakili kepentingan para guru,” kata Carlos Lopez, koordinator umum Federasi Pekerja Universitas Venezuela.

Sejumlah pejabat kementerian menyatakan dukungan terhadap aksi para pelajar dan mahasiswa ini. Diantaranya, Wakil Menteri Pemuda Hanthony Coello, yang mempertahankan porsi terbesar GDP untuk keperluan pendidikan.

“Di belahan dunia lain, banyak yang berjuang untuk pendidikan gratis. Tetapi di si ini, di Venezuela, kita memiliki itu,” ujarnya.

Aksi demonstrasi ini berlangsung damai. Tidak terjadi insiden kekerasan selama aksi protes dilakukan. Presiden Venezuela Nicolas Maduro, yang sedang berkunjung ke Nikaragua, memuji aksi tersebut melalui tweet “perdamaian adalah kemenangan hari ini.”

Pemerintah sendiri sudah berusaha merespon pemogokan itu dengan melakukan negosiasi.  Menteri pendidikan untuk Universitas Venezuela, Pedro Calzadilla, sudah melakukan pertemuan dengan para professor.

Dan, setelah melalui serangkain pertemuan, telah disepakati kenaikan gaji untuk semua pekerja dan professor di Universitas publik, yakni 25% pada tanggal 1 September dan 1 Januri 2014, termasuk kenaikan gaji rata-rata 130% untuk semua personil Universitas.

Meski demikian, Federasi Asosiasi Professor Universitas (FAPUV), yang mengkoordinir pemogokan ini, menyatakan aksi mogok tetap berlanjut. Presiden Federasi FAPUP, Lourdes Ramirez, menyatakan kelompoknya belum menyetujui kesepakatan dan kenaikan gaji tersebut tidak mengacu pada level inflasi saat ini.

Namun, aksi para professor ini juga menyerukan tuntutan lain, seperti otonomi Universitas, kemajemukan pemikiran dan kebebasan akademik. Sejumlah pemimpin oposisi menyatakan dukungan terhadap pemogokan, termasuk mantan Capres oposisi Henrique Capriles.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut