Tuntutlah Pelajaran Kemanusiaan Hingga ke Negeri Kuba

Fidel menyebut dokter-dokter Kuba yang dikirim ke berbagai negara itu sebagai “tentara berseragam putih”. Sampai ia berseloroh: “kalau negara-negara imperialis mengirim tentara dan mesin pembunuh ke dunia ketiga, maka Kuba mengirim dokter dan tenaga kesehatan.”

Dahulu kala, Tiongkok sangat mashyur karena kebesarannya. Mulai dari penemuan teknologi, kebudayaan, teknik pengobatan, hingga filsafat.

Saking masyhurnya, tak hanya Marco Polo, sang pelancong dari Eropa itu, yang takjub. Tapi juga bangsa-bangsa besar di tanah Arab. Sampai muncul pesan bijak: tuntutlah ilmu sampai ke Negeri Tiongkok.

Namun, kita tak membahas Tiongkok di sini, melainkan sebuah negeri kecil di kepulauan Karibia. Namanya: Kuba. Negeri yang luasnya tak melebihi pulau Jawa juga mashyur dalam tiga urusan besar dunia: satu, kesehatan; dua, pendidikan; dan tiga, kemanusiaan.

Baru-baru ini, ketika lebih dari 190 negara di dunia sedang berjibaku melawan virus korona baru atau SARS-CoV-2, yang membawa penyakit mematikan bernama Covid-19, Kuba mendapat sorotan dunia.

Pertama, ketika kapal pesiar Inggris, MS Braemar, yang 5 penumpangnya terinfeksi oleh virus korona, ditolak berlabuh sejenak oleh hampir semua negara, termasuk Amerika Serikat, maka Kuba yang membuka pintu.

Coba bayangkan, sudah 10 hari lebih kapal ini terombang-ambing di laut Karibia, dengan 682 penumpangnya yang diliputi kecemasan dibunuh virus korona, tapi tak satu pun Negara yang mau membuka pintu pelabuhannya.

Tapi Kuba, negeri kecil yang komunis dan miskin itu, menjadi satu-satunya Negara yang membuka pintu. Tak hanya itu, setelah seluruh awak dan penumpang kapal menjalani pemeriksaan kesehatan, Kuba juga menyediakan bandaranya dipakai pesawat Inggris untuk menjemput awak dan penumpang kapal itu.

Padahal, kalau bicara ideologi, Inggris bukan “negara sekawan” bagi Kuba. Malah sebaliknya, Inggris selalu sekawan dengan Amerika Serikat dalam memusuhi Kuba.

Tapi, karena tanggung jawab kemanusiaan, Kuba selalu mengulurkan tangan pada bangsa mana pun di belahan dunia ini yang tertimpa bencana. Bagi Kuba, urusan kemanusiaan tak ada urusannya dengan paspor yang anda pegang.

“Terima kasih, Kuba. Anda membuka hati untuk kami. Kami tak akan lupa, anda satu-satunya bangsa yang mengulurkan tangan ke kami, ketika tak satu pun mau menerima kami,” tulis Anthea Guthrie, seorang penumpang kapal MS Braemar, di akun facebooknya.

Kedua, meski Kuba juga tak kebal dari virus korona, bahkan hingga Selasa (24/3) sudah 40 warga Kuba yang positif menderita Covid-19, tetapi negeri ini tetap mengirim dokter-dokter terbaiknya ke berbagai negara.

Ada yang dikirim ke Venezuela, Nikaragua, Jamaika, Suriname, dan Grenada. Dan tak kalah menakjubkan, ada 53 orang dokter Kuba yang dikirim ke Italia.

Italia merupakan negara di luar Tiongkok yang paling terpukul oleh pagebluk korona. Hingga Selasa (24/3), sudah mencapai 67.176 orang positif covid-19 dan 6.820 diantaranya meninggal dunia.

Dan asal tahu saja, hampir semua dokter Kuba yang dikirim ke Italia ini adalah veteran. Ya, mereka adalah dokter-dokter yang baru saja pulang dari bertempur melawan wabah virus Ebola di Afrika.

Mungkin ada yang bilang, “ah, Kuba hanya mau cari panggung dalam isu korona ini.”

Jadi begini ya. Jauh sebelum pandemi korona ini, bahkan ketika baru saja meletuskan revolusinya di tahun 1969, dan mungkin bapak-ibumu belum lahir, Kuba sudah sering mengirim dokter dan paramedisnya ke berbagai negeri yang tertimpa bencana.

Tahun 1960, Chile dihantam gempa besar berkekuatan 9,5 skala richter. sebanyak 6000 orang tewas. Tak terhitung jumlah korban luka dan kerusakan lainnya.

Saat itu, Kuba baru saja revolusi. Ekonominya masih morat-marit. Namun, kendati dicekik oleh kesulitan, Kuba tetap mengirim dokternya ke Chile.

Tahun 1963, Aljazair yang baru merdeka dari Perancis mengalami krisis tenaga kesehatan. Banyak warganya, terutama di daerah terpencil, yang meninggal tanpa tersentuh tenaga dan fasilitas kesehatan. Tanpa hitung-hitungan, Kuba mengirim 56 dokter ke Aljazair.

Tahun 1980-an, Nikaragua yang baru saja bernapas setelah kejatuhan diktator Somoza juga mengalami krisis tenaga kesehatan. Kuba langsung mengirim ratusan tenaga kesehatan, dari ahli, dokter, hingga paramedis.

Sepanjang 1970-an hingga 1980an, dokter-dokter Kuba, yang disebut “Brigade Kesehatan”, juga dikirim ke Peru, Honduras, Ethiopia, Yaman, Mozambik, Guinea-Bissau, dan lain-lain.

Tahun 1998, ketika negara-negara Karibia dan Amerika tengah dihantam badai Mitch dan George yang menewaskan puluhan ribu orang, Kuba juga mengirim ribuan tenaga dokter ke negara-negara paling terdampak.

Tahun 2000, ketika El Salvador diserang wabah deman berdarah, Kuba juga mengirim dokter.

Lalu, pada 2004, ketika Indonesia (Aceh) dan sejumlah negara dihantam gempa bumi dan tsunami, Kuba juga mengirim banyak tenaga dokter.

Tahun 2005, Amerika Serikat, negeri yang paling membenci Kuba, diterjang badai Katrina. Badai ini membunuh hampir 2000-an warga Amerika. Belum terhitung kerusakan dan kerugian yang ditinggalkannya.

Saat itu, Kuba termasuk negeri pertama di dunia yang menawarkan bantuan. Tak tanggung-tanggung, Kuba menawarkan  akan mengirim 1.586 dokter dan 26 ton obat-obatan. Sayang, AS menolak itikad baik itu.

Tahun 2006, ketika Jogja dihantam gempa yang menewaskan 6000-an orang, Kuba juga mengirimkan 135 dokter dan tenaga medis. Tahukah anda, dokter-dokter itu langsung dikirim ke Jogja hanya 40 jam setelah Fidel Castro, Presiden Kuba saat itu, menelpon Presiden SBY untuk menawari bantuan.

Tahun 2010, giliran Haiti yang dihantam gempa bumi besar, yang menewaskan hampir 200 ribu rakyatnya. Kuba menjadi negara pertama yang mengirimkan dokter. Sampai-sampai, Presiden Haiti kala itu, Rene Preval, bilang, “pertolongan pertama datang dari Tuhan, setelah itu dokter Kuba.”

Tahun 2014, ketika pagebluk Ebola menjalari bagian barat Afrika, Kuba juga di garis depan. Ratusan dokter dan paramedis Kuba juga dikirim ke sana.

Jadi, sepanjang 1960an hingga sekarang, Kuba selalu paling cepat dan paling terdepan dalam mengirim dokter ke negara-negara yang terpukul bencana, baik wabah, bencana alam, maupun krisis kemanusiaan.

Bagi Kuba, yang diinspirasi oleh Fidel Castro dan Che Guevara, mengirim dokter secara gratis dan tanpa pamrih ke berbagai belahan dunia itu perwujudan salah satu komitmen penting revolusi Kuba, yaitu internasionalisme.

Bagi Kuba, internasionalisme berarti menempatkan kemanusiaan di atas segala-galanya, dalam bentuk kerjasama dan solidaritas tanpa batas. Tak terbatasi oleh warna kulit, ras, batas teritorial negara bangsa, apalagi ideologi.

“Menjadi internasionalis berarti membayar utangmu pada kemanusiaan. Barang siapa yang tak bisa berjuang untuk orang lain, maka tak akan sanggup berjuang untuk dirinya sendiri,” kata Fidel Castro.

Jadi, bagi Kuba, mengirim dokter ke mana-mana, yang tampa pamrih itu, hanyalah usaha negeri kecil itu untuk membayar utangnya pada kemanusiaan.

Tak ada kepentingan ekspor ideologi. Sebab, kalau target mereka ekspor ideologi, tentu dunia ini akan semakin memerah. Sebab, cukup anda tahu saja, sekarang ini ada sekitar 55 ribu dokter Kuba yang bekerja untuk kemanusiaan di 66 negara di berbagai belahan dunia.

Fidel menyebut dokter-dokter Kuba yang dikirim ke berbagai negara itu sebagai “tentara berseragam putih”. Sampai ia berseloroh: “kalau negara-negara imperialis mengirim tentara dan mesin pembunuh ke dunia ketiga, maka Kuba mengirim dokter dan tenaga kesehatan.”

Mungkin, hanya Kuba satu-satunya negara di atas bumi yang kita pijak dan di bawah kolong langit ini yang mendirikan sekolah kedokteran gratis yang terbuka bagi semua bangsa.

Ya, sejak 1999, Kuba membuka Sekolah Kedokteran Amerika Latin (ELAM), yang mahasiswanya berasal dari lebih seratusan negara di dunia, terutama dari negara miskin yang kekurangan tenaga dokter. Di sekolah itu, mahasiswa dari berbagai negara itu belajar gratis. Tak dipungut biaya sepeser pun.

Begitulah Kuba. Kendati setengah abad lebih coba diisolasi, dikucilkan, diembargo, dikutuki sebagai komunis. tetapi telah mengajar satu hal yang paling mahal di zaman sekarang ini: kemanusiaan tanpa batas. Tuntutlah pelajaran kemanusiaan hingga ke negeri Kuba.

Raymond Samuel

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid