Tuntut Rektor Hapuskan UKT, Ribuan Mahasiswa Unila Kepung Gedung Rektorat Unila

Tolak UKT

Setelah beberapa kali menggelar rangkaian aksi protes menolak praktek kebijakan Uang Kuliah Tunggal (UKT) di Universitas Lampung (Unila), hari ini, Kamis (13/11), sekitar lima ribuan mahasiswa Unila yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Peduli UKT kembali menggelar aksi massa.Mereka memulai aksinya pada pukul 08.30 pagi, dan bergerak dari fakultas masing-masing menuju gedung Rektorat Unila. Dalam aksinya, ribuan mahasiswa jalan saling beriringan dan membentangkan beberapa spanduk yang berisikan tuntutan. Tidak hanya itu, para mahasiswa juga menenteng sebuah keranda bertuliskan: UKT Membunuh!

Menurut Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) U KBM Unila, Ahmad Khairudin Syam, Sistem UKT yang diterapkan di Unila sangat tidak jelas dan merugikan mahasiswa. “Terlalu banyak mahasiswa yang dirugikan karena masuk ke dalam golongan yang tidak sesuai dengan latar kemampuan ekonominya. Ini dikarenakan proses interview UKT yang tidak becus. Akhirnya, banyak mahasiswa baru yang harus pasrah mengundurkan diri karena upaya banding selalu dimentahkan rektorat. Mirisnya ada juga mahasiswa bermobil yang malah masuk golongan 1 UKT yang paling murah,” katanya.

Sementara itu, sekretaris Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) Bandar Lampung, Ricky Satriawan, mengatakan bahwa sistem UKT yang diterapkan oleh rektor Unila secara sadar menjadi problem ekonomis yang begitu pelik dihadapi oleh mayoritas mahasiswa, khususnya mahasiswa angkatan 2013 dan 2014. “Ada lonjakan iuran semester yang terlalu tinggi dari angkatan-angkatan sebelumnya, rata-rata 2 hingga 4 kali lipat lebih mahal,” ujarnya.

Menurut Ricky, ada perbedaan antara penerapan UKT di kampus-kampus negeri besar seperti UI, UGM, IPB dengan kampus Unila. Di Kampus-kampus besar tersebut kehadiran UKT memang terasa sangat membantu bagi mahasiswa, karena sudah sejak lama menerapkan pungutan liar uang pangkal yang besar. Sementara, untuk kampus Unila yang biasa merektur mahasiswa di jalur regular dengan iuran uang semester sekitar 1 juta rupiah, dan pungutan UKT sebesar 2,5 hingga 8 juta rupiah sangat memberatkan bagi mahasiswa. “Pungutan sebesar itu tentulah sangat memberatkan, apalagi sebentar lagi harga bahan bakar minyak (BBM) akan naik, tentunya ini akan menambah beban bagi mahasiswa dan beban hidup keluarga,” jelasnya.

Setelah cukup lama berdesakan dan berorasi di halaman gedung Rektorat, Ribuan mahasiswa berhasil membuat Pembantu Rektor II Dr. Dwi Haryono dan Pembantu Rektor III Prof. Sunarto keluar menemui mahasiswa. Dihadapan Mahasiswa, mereka melakukan negosiasi dan menandatangani lima poin kesepakatan, yaitu: 1) Sepakat untuk menurunkan nominal UKT, 2) Sepakat memverifikasi ulang data tahun 2013 dan menyesuaikan dengan golongan UKT yang sudah diturunkan untuk tahun 2014, 3) Sepakat untuk memperbaiki sistem penggolongan, 4)Menghapus komersialisasi jalur kemitraan, 5) Banding UKT disepakati dan diturunkan sesuai keadaan mahasiswa penuntut.

Untuk memantau perkembangan kesepakatan tersebut, BEM U KBM Unila membuka Posko Advokasi UKT, dengan targetan dalam tempo dua bulan ke depan semua kesepakatan tersebut bisa direalisasikan.

Devin P

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut