Tolak Penggusuran, 8 Mahasiswa Dan Warga Di Makassar Ditangkap

Penggusuran.jpg

Proses penggusuran terhadap 48 bangunan rumah di kelurahan Pisang Selatan, Kecamatan Ujung Pandang, kota Makassar, diwarnai kekerasan dan penangkapan seorang aktivis mahasiswa dan 7 orang warga.

Aktivis mahasiswa yang ditangkap bernama Makbul Muhammad, Ketua Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) Sulsel. Sementara 7 orang warga yang juga turut ditangkap bernama: Irson (25 tahun), Agustinus (53), Muh Abd Halim (59), Hamdani (37), Muh Haris (17), Ceri (38), dan Susantono (24).

Menurut kronologis yang dihimpun oleh Berdikari Online, proses penggusuran terhadap 300-an jiwa warga Pisang Selatan ini dimulai sekitar pukul 09.15 WITA. Proses penggusuran itu melibatkan pasukan gabungan Polri, TNI, dan tim eksekutor.

Sementara pihak warga Pisang Selatan, yang didukung oleh puluhan aktivis Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND), Partai Rakyat Demokratik (PRD), dan Serikat Rakyat Miskin Indonesia (SRMI), hanya berusaha mempertahankan rumah dan hak milik mereka.

Warga memegang bambu runcing, dengan cat merah dan bendera merah-putih di ujungnya, sebagai alat pertahanan diri. Begitu pasukan gabungan TNI dan Polri merengsek maju, warga pun memilih duduk berbaris di tengah jalan.

“Jika dulu para pejuang kemerdekaan kita membela negeri ini dengan bambu runcing, maka hari ini kita membela hak-hak kita dari penindas berbaju aparat negara dengan bambu runcing pula,” teriak Daeng Baji, Ketua SRMI Makassar, saat memberi semangat kepada warga dan aktivis.

Namun, saat Dg Baji masih mengorbankan semangat massa dengan orasi-orasinya, tiba-tiba sepasukan TNI dari arah lain, yakni utara dan selatan, datang menyerang dan menangkapi warga.

Warga hanya berusaha melawan sebisanya. Sementara sejumlah ibu-ibu dan anak-anak berteriak histeris menyaksikan adegan kekerasan yang dipertontonkan oleh prajurit TNI/Polri.

“Lihatlah, saudara-saudaraku, mereka yang mengaku aparat negara itu hanyalah antek-antek pelayan kepentingan modal. Mereka menggusur rumah kita karena ada kepentingan pemilik modal di belakangnya,” teriak Dg Baji.

Alhasil, setelah perlawanan warga berhasil dipatahkan, proses pembongkaran rumah pun mulai dilakukan. Sebagian besar warga berlarian berusaha menyelamatkan barang dan harta benda mereka yang berada di dalam rumah.

Hingga berita ini diturunkan, seluruh rumah warga sudah diratakan dengan tanah. Warga, terutama ibu-ibu dan anak-anak, terlihat mengumpulkan puing-puing reruntuhan rumah mereka.

Warga sendiri tidak mau menyerah. Bersama dengan aktivis LMND dan SRMI, warga berencana membangun posko perlawanan di lokasi penggusuran. “Kita tidak akan menyerah. Kami dan warga akan membangun posko solidaritas di sini,” ujar Ketua PRD Sulsel, Babra Kamal.

Warga Kelurahan Pisang Selatan, Kecamatan Ujung Pandang, Kota Makassar, yang mayoritas ibu-ibu, berbaris membela hak-hak mereka. (Foto: Firman)
Warga Kelurahan Pisang Selatan, Kecamatan Ujung Pandang, Kota Makassar, yang mayoritas ibu-ibu, berbaris membela hak-hak mereka. (Foto: Firman)

Dalam pernyataannya, Babra menyesalkan keterlibatan TNI dalam menggusur dan membongkar rumah milik warga. Menurutnya, sebagai angkatan perang, posisi TNI seharusnya melawan segala kekuatan luar yang mengancam kedaulatan bangsa. Bukan memukuli dan menindas rakyat sendiri.

Untuk diketahui, penggusuran terhadap warga Kelurahan Pisang Selatan ini disponsori oleh Pusat Koperasi Angkatan Darat (Puskopad). Pada tahun 2006, tiba-tiba Puskopad mengklaim dan menggugat lahan yang ditempati oleh 87 Kepala Keluarga (KK) tersebut.

Firman

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • Bernard Sitompul

    ini semua gara-gara kaum kapitalis..
    semua berubah saat mereka menyerang..