Tiken Jah Fakoly, Reggae Revolusioner Dari Afrika

Tiken-Jah-Fakoly

Go to school brother
And learn what they are doing
It will open up your eyes
To the people’s situation
Go to school my brother
I said go to school my brother
You will understand very soon
All the problems of your nation

Itulah sebait lagu “African Revolution” ciptaan Tiken Jah Fakoly. Lagu itu mengungkapkan keinginan penciptanya agar orang-orang Afrika, khususnya kaum mudanya, bisa mengenyam pendidikan.

Tiken Jah Facoly, seorang musisi reggae abad ini, meletakkan pendidikan sebagai salah satu kunci untuk membebaskan Afrika. Dia bilang, “dengan pergi ke bangku sekolah, mereka (orang-orang Afrika) akan memahami alasan mengapa mereka miskin dan terbelakang.”

Tiken Jah yakin, musiknya bisa menjadi alat untuk mendidik rakyat. Ia berharap musiknya bisa membawa pesan kepada seluruh rakyat Afrika, khususnya kaum muda, agar mereka melakukan sebuah revolusi.

Tiken Jah adalah musisi reggae kelahiran Pantai Gading. Ia dilahirkan di tengah-tengah keluarga muslim di Odienné, sebelah barat Pantai Gading. Dia mulai tertarik dengan music reggae di usia dini. “Saat itu saya mendengar lagu Bob Marley dan pesannya. Sejak itu saya terbakar untuk menjadi musisi reggae,” ungkapnya.

Tahun 1987, ia mulai membentuk band. “Kami berlatih tiga tahun di rumah sebelum penampilan publik pertama,” tuturnya. Tahun 1991, ia pergi ke Abidjan. Di sana ia tampil di acara kompetisi musik di TV dan kalah. Meski begitu, ia tak merasa kalah. Direkamnya lagu-lagunya ke sebuah kaset dan kemudian diperdengarkan di kampung halamannya, Odienné.

Di Pantai gading, seorang muslim tidak bebas memainkan musik. Anggapan orang menuding “menyanyi” bisa menghalangi seseorang masuk surga. Alhasil, Tikeh Jah dilarang oleh keluarganya bermain musik. Ia pun beralih menjadi pedagang telur hingga tahun 1999. Namun, diam-diam Tikeh Jah tetap berlatih musik di rumahnya.

Tikeh Jah mengaku musiknya banyak dipengaruhi oleh Bob Marley, Peter Tosh, dan Burning Spear. Dia juga mengaku sebagai pengagum Marcus Garvey dan Dr. Martin Luther King. Berbeda dengan kebanyakan Rastaman, Tikeh Jah menolak menghisap ganja. “Aku ingin memainkan music reggae tanpa merokok ganja,” katanya. Ia menyebut musiknya untuk membangkitkan kesadaran rakyat.

Dia mengaku, dirinya tertarik pada musik reggae karena pesannya. Dia bilang, rasta merupakan gerakan perlawanan terhadap ketidakadilan, perbudakan, dan kolonialisme. “Saya tidak ingin anak muda merokok ganja. Saya ingin mereka ke bangku sekolah dan mempelajari sejarah Afrika,” tegasnya.

Meski begitu, kemampuan bermusik Tikeh Jah tak diragukan lagi. Meski hanya bernaung di bawah label kecil, Music Globe, Tikeh Jah berhasil tampil di sejumlah negara eropa, seperti Perancis dan Kanada. Juga pernah tampil di AS. Meski mulai disama-samakan dengan Bob Marley, Tiken Jah segera menepis, “Dia (Bob Marley) benar-benar Nabi. Sedangkan aku bukan.”

Tiken Jah mendaulat dirinya sebagai anti-kolonialisme. Ia menuding orang-orang barat datang ke negerinya hanya untuk merampok sumber daya alam. “Mereka hanya mengeksploitasi sumber daya kami dan menanam diktator untuk menjaga kepentingannya itu,” katanya.

Tiken Jah menarik hormat dan kekaguman besar terhadap pemimpin progressif-revolusioner Afrika, seperti Patrice Lumumba, Thomas Sangkara, Haile Salassie, Kwame Nkrumah, dan Nelson Mandela.

Karena musiknya yang sangat politis, juga sering menyindiri penguasa di negerinya, Tiken Jah harus mengungsi ke Bamako, Mali. Di sanalah ia tinggal selama bertahun-tahun sambil memberi bantuan kepada perjuangan rakyat di negerinya.

Tiken Jah menentang Presiden Pantai Gading, Laurent Gbagbo, yang berkuasa sejak tahun 2000. Pada pemilu 2010 lalu, Gbagbo dikalahkan oleh seorang ekonom yang pernah bekerja di IMF, Alassane Ouattara. Tetapi, Gbagho menolak menyerahkan kekuasaan dan membawa negeri ini dalam perang sipil. Perancis turun tangan untuk mengusir Gbagbo dari istananya.

Tiken Jah prihatin dengan negerinya yang terus terkoyak. Karena itu, ia pun menjadi seorang pan-afrikanis, yang bercita-cita tentang sebuah afrika yang bersatu, mandiri, dan berdaulat. Inilah mimpinya yang dituangkan dalam lagu “African Revolution”.

Rosalina, Kontributor Berdikari Online

[youtube]TlA612acaKQ[/youtube]

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut