Suasana Haru Warnai Aksi Jahit Mulut Petani Pulau Padang

Suasana haru mengiringi dimulainya aksi jahit mulut petani Pulau Padang di depan gedung DPR, Senin, 19 Desember 2011. Mereka tak kuasa menahan kesedihan akibat tuntutannya selalu diabaikan pemerintah.

Aksi dimulai dengan orasi dan doa bersama. Setelah itu, para peserta pun mulai menjahit mulut mereka masing-masing. Beberapa peserta aksi lainnya juga tak kuasa menahan kesedihan tatkala kawan-kawannya mulai menjahit mulutnya.

Aksi jahit mulut sendiri akan dilakukan bertahap. Untuk hari pertama, peserta aksi jahit mulut berjumlah 8 orang. Termasuk satu pasangan suami-istri, Yahya dan Purwati, yang mengaku baru pertama-kali melakukan aksi jahit mulut.

“Saya siap berjuang hingga mati untuk mempertahankan tanah kelahiran,” ujar Yahya.

Besok, setidaknya 10 orang sudah direncanakan menambah peserta aksi jahit mulut. Begitu seterusnya, hingga ada solusi konkret dari pemerintah. Jika tuntutan petani tetap tidak direspon, maka aksi jahit mulut akan dilakukan oleh seluruh petani Pulau Padang di Jakarta hingga batas yang tidak ditentukan.

Tuntutan utama petani adalah pencabutan SK Menhut No.327 tahun 2009 tentang HTI PT. RAPP di Pulau Padang, Kepulauan Meranti, Riau. Petani menganggap SK itu bisa membawa Pulau Padang dalam kerusakan lingkungan dan perampasan lahan.

Syafruddin, 36 tahun, mengaku datang ke Jakarta karena pemerintah daerah sudah tidak memberi harapan untuk menyelesaikan persoalan ini. Bapak dua anak ini pun siap menggelar aksi jahit mulut demi mewujudkan tuntutannya.

Hal senada juga diungkapkan oleh Nurhadi, 30 tahun, yang sehari-hari bekerja mencari sagu dan menorah karet. Ia sangat berharap bahwa aksi jahit mulut ini bisa membuat pemerintah mendengari tuntutan petani.

“Selama ini pemerintah kurang peka. Mereka sering mengabaikan tuntutan rakyat kecil. Kami berharap aksi ini bisa membuat mereka mendengar,” ujar Nurhadi.

Sampai saat ini, aksi jahit mulut ini mulai mendapat respon pemerintah. Konon, perwakilan Kementerian Kehutanan akan datang menemui para petani. Tetapi belum ada kepastian tentang rencana tersebut.

Sementara itu, pada malam harinya, aksi jahit mulut para petani pulau padang ini mendapat kunjungan dan dukungan dari aktivis Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat. Dua seniman Jaker, Rizal Abdulhadi dan Tari Adinda, tampil bernyanyi di tengah-tengah kumpulan massa petani.

AGUS PRANATA

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut