STR Kecam Kekerasan Polisi Di Lombok Barat

Pengurus Serikat Tani Riau (STR) Kepulauan Meranti mengeluarkan kecaman terhadap tindakan represif pihak Kepolisian saat menangani protes rakyat di Sekotong, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Menurut Muhammad Riduan, salah seorang pengurus STR, kejadian itu menegaskan bahwa Polisi gampang dibeli oleh pengusaha untuk menindas rakyat. Padahal polisi punya slogan sebagai pengayom masyarakat.

Seperti diketahui, pada Sabtu (3/9) kemarin Polisi melakukan tindakan represif saat menangani protes ribuan warga Sekotong. Protes itu sendiri dipicu oleh penangkapan dua orang warga oleh pihak kepolisian.

Kedua warga itu dianggap terlibat pembakaran pembakaran dan perusakan pabrik milik PT Indotan Tambang di Sekotong pada 8 Agustus lalu. Tetapi, menurut warga, aksi pembakaran itu dipicu oleh penolakan warga atas aktivitas pertambangan.

Dalam bentrokan itu, seorang warga dilaporkan tewas tertembak peluru polisi, puluhan orang ditangkap, dan puluhan lainnya ditangkap.

Khawatir Terjadi Di Pulau Padang

Muhammad Riduan mengkhawatirkan bahwa kejadian di Lombok Barat bisa terjadi di tempat lain, khususnya daerah yang mengalami konflik agraria, seperti Pulau Padang, Kabupaten Kepulauan Meranti.

Situasi itu, kata Riduan, makin diperparah dengan masih berlangsungnya penangkapan petani pulau padang oleh Polisi.

“Kepolisian di Bengkalis sangat diperalat oleh pengusaha PT. Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP),” katanya.

Riduan pun menyambut baik usulan anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) asal Provinsi Riau, Intsiawati Ayus SH MH, yang mengusulkan agar persoalan agrarian di Riau diselesaikan dengan mendudukkan semua pihak.

Intsiawati Ayus, kata Riduan, menganggap penangkapan petani oleh Polisi tidak akan pernah menyelesaikan masalah.

Riduan pun mendorong agar semua pihak mendahulukan penyelesaian konflik dengan duduk bersama melibatkan semua pihak.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut