SRMI Tolak Kenaikan Harga BBM

Panas terik tidak membuat 600-an massa aksi Serikat Rakyat Miskin Indonesia (SRMI) patah semangat untuk menggelar aksi massa. Siang tadi, sekitar pukul 13.00 WIB, SRMI menggelar aksi menolak kenaikan harga BBM di depan DPR.

“Derita rakyat sudah seleher. Segala macam cara sudah kita tempuh untuk mensiasati hidup: tempe diiris lebih tipis, nasi diganti mie instan, satu kamar kos ditempati bersama, dan lain sebagainya,” kata Ketua Umum SRMI, Wahida Baharuddin Upa, di depan gedung DPR, Jakarta, Kamis (22/3/2012).

Karena kondisi demikian, menurut Wahida, rezim SBY tidak dapat dibenarkan menaikkan harga BBM. Sebab, kenaikan harga BBM itu sudah pasti akan menambah beban yang mesti ditanggung rakyat.

Wahida menilai rencana rezim SBY menaikkan harga BBM hanya akan memperpanjang barisan kemiskinan, pengangguran, dan kehancuran ekonomi nasional. “Jangan sampai BBM dinaikkan. Itu bertentengan dengan semangat UUD 1945, yaitu kesejahteraan rakyat,” tegasnya.

Sementara itu, Sekteraris Jenderal Partai Rakyat Demokratik (PRD), Dominggus Oktavianus, menguraikan hubungan antara kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM dengan praktek imperialisme di Indonesia.

Dijelaskannya, sebagian besar sumber-sumber energi Indonesia dikuasai oleh korporasi asing. Sedangkan motif utama korporasi asing itu adalah menggali keuntungan sebesar-besarnya untuk kepentingan segelintir kapitalis. “Imperialisme adalah anak kandung kapitalisme,” ungkapnya.

Bagi Dominggus, model pengelolaan kekayaan alam nasional saat ini tidak berbeda jauh dengan praktek konolialisme di masa lalu. Rakyat tidak mendapatkan keuntungan apapun dari pengelolaan kekayaan alam itu.

“Hampir semua keuntungannya diangkut keluar. Kemudian, pemerintah kita yang bermental inlander ini melemparkan beban akibat eksploitasi asing itu kepada rakyat. Termasuk dalam kenaikan harga BBM,” jelasnya.

Dalam aksi ini, 10 orang perwakilan SRMI diterima berdialog dengan anggota DPR. SRMI mengajak DPR bersatu dengan gerakan rakyat dalam menolak kenaikan harga BBM dan berbagai praktek imperialisme di Indonesia.

Sore hari, sekitar pukul 15.30 WIB, ratusan massa SRMI ini mengakhiri aksinya. Mereka pulang dengan menumpangi puluhan bus.

Andi Nursal

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut