Soal Defisit APBN, Pemerintah Selalu Jatuh Di Lubang Yang Sama

Sungguh aneh melihat perkembangan pembahasan BBM (Bahan Bakar Minyak) beberapa hari terkahir ini. Ada sebuah hal yang, entah disengaja atau tidak, sudah berulangkali dipertontonkan kepada rakyat Indonesia: penyelesaoan persoalan bangsa dengan cara tambal sulam.

Entah untuk yang keberapa kalinya, pemerintah selalu berdalih bahwa untuk mensiasati jebolnya APBN 2015, maka salah satu solusinya adalah dengan mengurangi subsidi. Dan subsidi yang dikurangi adalah subsidi BBM alias menaikkan harga BBM.

Hampir tidak ada terobosan baru yang dilakukan pemerintah untuk mengatasi problematika defisit APBN? Subsidi BBM selalu dijadikan kambing hitam sebagai penyebab. Pemerintah tidak pernah mempersoalkan belanja rutin aparatus negara dan pembayaran bungan plus cicilan utang luar negeri.

Kalau persoalan defisit APBN karena subsidi BBM, berarti ada persoalan dengan politik energi di negara ini. Sebab, kita negeri yang kaya energi. Pertanyaan: kenapa pemerintah harus menaikkan harga BBM sehingga rakyat membelinya dengan harga mahal? Apakah kita kekurangan sumber daya energi, termasuk minyak, di negara ini? Apakah ada persoalan dengan tata kelola produksi minyak kita? Kenapa Pertamina tidak mampu menjadi BUMN yang bisa memastikan ketersediaan BBM yang harganya terjangkau bagi rakyat? Ini tidak pernah dibongkar oleh pemerintah.

Seharusnya, pertanyaan-pertanyaan itu yang harus dijawab segera oleh pemerintah dan dicarikan solusinya. Bukan terjebak dalam persoalan tahunan pada saat ada pembahasan soal subsidi BBM dalam penyusunan APBN. Yang perlu diingat, pencabutan subsidi BBM akan menambah beban penderitaan rakyat. Lagipula, dalam konstitusi negara ini, yakni pasal 33 UUD 1945, sudah digariskan secara tegas bahwa tata kelola energi dan SDA kita seluruhnya dikuasai oleh negara dan digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.

Alif Kamal, Staf Deputi Politik Komite Pimpinan Pusat Partai Rakyat Demokratik (KPP-PRD)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut