Sempat Hujan, Warga Jakarta Tetap Ramaikan Malam Takbiran

JAKARTA: Meskipun diguyur hujan sejak sore hari, Kamis (9/9) rakyat Jakarta tetap meramaikan malam takbiran di berbagai tempat, antara lain, sekitar tugu tani, monas, bundaran HI, dan Sudirman.

Pantaun berdikari Online di sepanjang kampung melayu hingga Salemba, sekitar pukul 19.00 WIB, rakyat terlihat banyak di pinggir jalan. Di beberapa titik di sepanjang jalan itu, warga memasang beduk sambil mengumandangkan suara takbir.

Di sekitar tugu tani, sejumlah pemuda dan pemudi dengan menggunakan sepeda motor berkumpul di tempat ini. Meski tidak ada acara khusus di tempat ini, namun mereka terlihat tetap antusias untuk berkumpul dan sesekali melepaskan tembakan “kembang api” ke udara.

Mobil Bak Terbuka, Metromini Dan Merah Putih

Ada yang menarik dari pawai takbiran tadi malam, yaitu kehadiran remaja dan anak-anak yang menumpangi mobil bak terbuka, mikrolet, dan metromini sambil membawa bendera merah-putih.

Dari pantauan Berdikari Online, fenomena ini tidak hanya terjadi pada dua atau tiga gerombolan remaja yang berpawai, tetapi hampir semua rombongan membawa bendera nasional tersebut.

Menurut salah seorang dari mereka, Anton (16), pemuda asal Tomang, Jakarta barat, penggunaan bendera merah putih sekedar untuk menunjukkan antusiasme rakyat Indonesia menyambut hari kemenangan umat Islam.

Sementara Niko, yang juga mengaku sebagai supporter Persija Jakarta, menganggap penggunaan bendera merah putih sudah “lazim” dalam pawai-pawai seperti ini. “Inilah cara kami mengagumi Indonesia,” katanya.

Ibarat aksi demonstrasi mahasiswa, para remaja belia ini berdiri di atas metro- mini dan meneriakkan “minal aidin wal faidzin”. Karena dianggap berbahaya, petugas Kepolisian terlihat memberhentikan beberapa metromini dan menyuruh pemuda yang berdiri di atas atap mobil untuk turun.

Warga Serbu Monas

Rakyat Jakarta, terutama dari kalangan menengah ke bawah, menyerbu kawasan monas, Jakarta Pusat, sekitar pukul 21.00 WIB, untuk meramaikan malam takbiran dan menyambut datangnya Idul Fitri 1431 H.

Para pendatang yang menggunakan sepeda motor, umumnya berkumpul di bagian pintu masuk bundaran HI, sehingga agak memacetkan arus lalu lintas di kawasan itu. Sementara, bagi pengunjung yang memilih masuk ke dalam kawasan Monas, mereka memilih duduk-duduk bersama keluarga atau kawannya.

Sejumlah pengunjung juga sangat antusias menyaksikan kembang api yang mewarnai udara di sekitar kawasan monas. Tidak hanya pasangan pemuda dan pemudi, orang tua juga terlihat membawa anak-anaknya yang masih kecil ke tempat ini, dan memanjakannya dengan berbagai jenis mainan.

Pesta Kembang Api di Bundaran HI

Di bundaran HI, menjelang tengah malam, para pemuda-pemudi yang berkerumun di sekitar tempat ini melepaskan tembakan “kembang api” ke udara. Situasi ini menjadi tontonan sangat menarik bagi ratusan warga lainnya.

Akibat banyaknya kendaraan yang singgah di pinggir jalan, arus lalu lintas di bundaran HI dan sekitarnya pun agak sedikit macet. Polisi pun turun tangan dan berusaha menyingkirkan para pengguna motor yang parkir di pinggir jalan.

Sekelompok pemuda bersepeda juga turut meramaikan bundaran HI. Mereka pada umumnya menyaksikan pesta kembang api, yang makin larut malam semakin ramai.  Beberapa pemuda-pemudi juga sibuk berpose dan berfoto di dekat kolam.

Dipaksa Membubarkan Diri

Sekitar pukul 01.00 WIB, puluhan aparat kepolisian meminta para pengunjung di sekitar bundaran HI untuk membubarkan diri. “kami minta saudara-saudara untuk segera pulang. Sekarang pukul 01.00 WIB, waktunya anda beristirahat. Besok lebaran,” kata polisi saat meminta massa untuk bubar.

Meski begitu, karena jumlah massa yang cukup besar, polisi cukup kesulitan untuk memaksa mereka meninggalkan lokasi. Bahkan, di sekitar jalan Sumenep, sekumpulan remaja menggelar music “reggae”.

Namun, pertunjukan itu tidak berlangsung lama, karena Polisi memaksa seluruh kerumunan rakyat ini untuk segera membubarkan diri. Mereka pun akhirnya membubarkan diri dengan penuh rasa kecewa. “Polisi seolah-olah menganggap kita negara syariat. Jam keramaian saja harus diatur,” ujar seorang pemuda. (Rh & Ulfa)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut