Sedikit Cerita Dari Timur, Kisah Aktivis Dan Sekolah Rakyat…

“Mana ada sekolah gratis jaman sekarang, Bung?” begitu dikatakan orang-orang jaman ini. Ini mewakili pendapat umum masyarakat kita. Ada benarnya juga, sebab sekolah sekarang tak lagi ada yang gratis, tidak seperti ketika Bung Karno masih jadi Presiden, orang-orang diwajibkan bersekolah dan masuknya pun gampang. Sekarang, sekolah disesuaikan dengan ukuran kantong; semakin tebal kantong anda, maka semakin bagus dan mewah pula tempat sekolahnya, dan begitu juga sebaliknya, semakin tipis kantong anda, maka sekolahnya pun pas-pasan. Apalagi kalau  “tidak punya uang sama sekali”, anda akan bertemu papan pengumuman; “maaf, orang miskin dilarang sekolah!”

Di Kupang, Nusa Tenggara Timur, daerah yang kerap disebut BPS sebagai provinsi termiskin di Indonesia, sejumlah pemuda-pemudi mendirikan sekolah gratis. “Ini sekolah gratis, tidak dipungut biaya, atas prakarsa para aktivis,” ujar Rio Ello, salah satu pemuda yang turut menggagas berdirinya sekolah-sekolah anak rakyat di berbagai pemukiman Kumuh di Kupang.

Pemuda berusia kepala dua ini sangat rajin mengunjungi basis-basis rakyat miskin. Maklum, selain tugasnya sebagai “pemimpin” gerakan kaum miskin, yakni sebagai ketua SRMI, dia juga menjadi penanggung jawab untuk sekolah-sekolah ini. Sekolah rakyat ini digagas oleh dua organisasi perjuangan, yaitu Serikat Rakyat Miskin Indonesia (SRMI) dan Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND).

Pendirian sekolah gratis baru berumur 2 bulan, tepatnya dimulai Agustus lalu. Seolah-olah hendak mengikuti jejak Suwardi Suryaningrat alias Ki Hajar Dewantara yang mengajar sambil berjuang melawan kolonialisme, Rio dan kawan-kawannya pun menjadikan “sekolah rakyat” ini sebagai sampingan sambil berjuang.

Untuk saat sekarang ini, Rio dan kawan-kawan sudah mendirikan setidaknya 2 sekolah rakyat, yaitu  Sekolah Anak Partisipatif di Oebofu dan Taman Belajar Anak Kapling di punggung bukit sasando. Keduanya berlokasi di Kota Kupang, ibukota Nusa Tenggara Timur.

Di sekolah rakyat ini, Rio menjelaskan, bahwa, selain memberikan pengetahuan dasar dan umum kepada para murid, dipasok pula teori-teori yang menyadarkan mereka mengenai arti-penting solidaritas, kerjasama, persaudaraan, nasionalisme, dan kemanusiaan. “Sekolah kapitalis hanya mengajarkan kita bagaimana menjadi robot yang patuh, maka di sini kami mengajarkan bagaimana menjadi manusia,” kata Rio Ello menjelaskan.

Iya, Multatuli, sang penulis yang besar itu, pernah berkata; “tugas manusia adalah menjadi manusia.” Ia mengeritik bagaimana kolonialisme merendahkan martabat manusia, kendati itu dilakukan oleh bangsanya sendiri.

Sekolah rakyat ini terbuka untuk dua jenjang, yaitu SD dan SMP. “Jumlahnya terus meningkat dan tuntutan membuka di tempat lain juga makin banyak,” ujar Rio menandaskan potensi besar pengembangan sekolah rakyat ini. Meski baru dibuka, sekolah ini ramai didatangi anak-anak baru yang ingin menjadi peserta didik. Sebagian besar adalah anak-anak umur sekolah dasar (SD).

Anak-anak ini, yang sangat jauh dari sentuhan teknologi, juga diberi kesempatan untuk mempelajari soal computer, disamping bahasa Inggris dan keterampilan lainnya.

Untuk memenuhi kebutuhan tenaga pengajar, selain bekerjasama dengan aktivis LMND, mereka juga menarik partisipasi dari mahasiswa-mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Kupang. Alhasil, sekarang ini ada 25 orang tenaga pengajar, yang bekerja secara sukarela dan tidak mencari bayaran sepeserpun.

Mike Radja, seorang mahasiswi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, menuturkan bahwa keikutsertaannya dalam kegiatan ini adalah semata-mata karena panggilan moril untuk membantu pendidikan anak-anak kaum miskin. “Ada begitu banyak orang bermimpi mengenai pendidikan yang layak dan mencerdaskan, tetapi negara gagal mewujudkannya,” ujarnya.

Ia pun masih menyimpan harapan besar, bahwa pembukaan sekolah gratis ini akan menggugah hati pemerintah untuk turun tangan. Apalagi, sekolah–sekolah gratis ini membutuhkan dukungan dana dan fasilitas, supaya bisa memudahkan anak-anak dalam belajar.

Ya, sekolah rakyat ini memang masih punya banyak kendala, diantaranya, pengadaan buku pelajaran, alat tulis-menulis, bangku, kursi, dan lain sebagainya. Selain itu, sekolah rakyat juga membutuhkan tempat yang permanen, sebab saat ini masih menumpang di rumah-rumah warga. ( Yosep Asafa)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut