Sampai Kapan Kita Jadi Penonton Piala Dunia?

Sabtu, 5 Juni 2010 | 01.57 WIB | Editorial

Jika ditanyakan, olahraga apa yang paling populer dan merakyat di Indonesia? Orang akan menjawab: sepak bola. Olahraga ini paling digandrungi oleh rakyat kita, dari berbagai usia, laki-laki dan perempuan, di seluruh pelosok nusantara. Ratusan juta pasang mata berada didepan televisi ketika ada event sepakbola yang di anggap penting, misalnya Piala Dunia.

Bagi banyak negara, keberhasilan tim nasional mereka masuk dalam putaran Piala Dunia dapat menjadi kebanggan nasional tersendiri. Lihat saja Korea Utara, sebagai contoh, mereka sangat bangga saat timnasnya masuk ke putaran final Piala Dunia 2010 di Afrika. Mereka dapat membusungkan dada di hadapan bangsa lain, meskipun diembargo selama berpuluh-puluh tahun oleh AS, tapi mereka tetap bisa masuk piala dunia. Dan, ini bukan kali pertama mereka masuk dalam putaran final Piala Dunia.

Bagaimana dengan Indonesia? Memang sungguh ironis! Dengan jumlah penduduk 230 juta, tim nasional Indonesia tak pernah mampu berkutik di pentas akbar lima tahunan ini. Jangankan Piala Dunia, dominasi sepak bola Indonesia di Asia Tenggara pun mulai memudar, dan telah tergantikan oleh Thailand, Vietnam, dan Singapura. Boleh dikatakan, Timnas kita tidak mengalami suatu kemajuan berarti, melainkan mengalami kemunduran yang parah. Ada yang mengatakan, ini terjadi karena sepak bola kita salah urus, sehingga Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) harus bertanggung jawab.

Padahal, kalau melihat sejarah kelahirannya, PSSI dibentuk untuk melawan penjajahan Belanda. Oleh Sosrosoegondo, sepakbola dipandang sebagai wahana terbaik untuk menyemai semangat nasionalisme di kalangan pemuda. Begitu PSSI terbentuk, Soeratin, dkk segera menyusun sebuah program untuk melawan kebijakan organisasi persepakbolaan ciptaan Belanda, yaitu Nederland Indische Voetbaal Unie(NIVB). Pada tahun 1938, Hindia-belanda menjadi tim Asia pertama yang berpartisipasi di Piala Dunia. Meski dikalahkan oleh Hungaria dengan skor 0-6, tapi ini menjadi capaian bersejarah Indonesia pra-merdeka bisa masuk pentas Piala Dunia.

Saat ini, PSSI sedang menjadi sasaran “hujatan” kegagalan persebakbolaan nasional, terutama karena ketidakbecusan melakukan pembinaan pemain, mengatur kompetisi, manajemen organisasi, hingga maraknya kolusi dalam rekruitmen. Tidak mengherankan, ada banyak orang yang menyamakan PSSI dengan “kartel sepakbola”, yang kerjanya bukan mencari prestasi tapi menggali untung.

Bukan rahasia umum lagi, bahwa seorang anak pejabat atau “anak emas” penguasa lebih mudah mendapatkan tiket menjadi pemain nasional, ketimbang mereka yang tidak punya daya tawar kekuasaan. Belum lagi, publik sudah terlanjur mengetahui maraknya praktik KKN di tubuh PSSI, apalagi Ketua Umum PSSI, Noerdin Halid, terkait berbagai kasus korupsi.

Tidak boleh dilupakan pula, bahwa pemerintah punya andil sangat besar atas kegagalan ini, karena mereka tidak sanggup menggunakan anggaran dan sumber daya untuk mendorong maju persepakbolaan nasional. Bukankah sepakbola, atau olahraga pada umumnya, adalah menyangkut soal martabat suatu bangsa. Kalau begitu, pemerintah seharusnya mengambil peran yang lebih aktif dalam mendorong hal semacam itu, misalnya mengolah potensi anak-anak Indonesia sejak dini, meregulerkan kompetisi tanpa menunggu sponsor, membina kesejahteraan atlet, dan banyak hal lain yang perlu dilakukan.

Tidak mengherankan, Alfred Riedl, pelatih timnas yang baru saja didatangkan, mengeluarkan penilaian mengenai kualitas pemain timnas Indonesia, bahwa seluruh segi kualitas mereka sebagai pemain (fisik, teknik, dan mental) sangat hancur.

Ini harus dibenahi. Kita akan dikutuk oleh generasi di masa mendatang. “Masak negeri berpenduduk 130 juta, punya kekayaan alam luar biasa, tidak bisa menghasilkan paling minimal 11 orang pemain sepakbola yang hebat”, kata mereka, nantinya.

Untuk itu, kita perlu sebuah “revolusi” dalam persepakbolaan nasional, mulai dari merombak organisasi (PSSI), cara pembinaan, hingga rekruitmen. Kita berharap, dalam beberapa puluh tahun kedepan, “garuda di dadaku” akan begitu membanggakan, karena timnas Indonesia diperhitungkan di pentas dunia.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut