Ki Suhardi: Melukis Tidak Bisa Dilepaskan Dari Realitas Sosial

Jumat, 4 Juni 2010 | 20.52 WIB | Kabar Rakyat

JAKARTA, Berdikari Online: Pelukis Ki Suhardi mengatakan, seorang pelukis tidak dapat melepaskan karya-karnyanya dari realitas sosial yang ada di sekitarnya seperti kemiskinan, pengangguran, perdagangan anak, kebijakan politik yang menindas, dan lain sebagainya.

“Seperti juga binatang yang tak bisa dilepas dari habitatnya, maka pelukis juga tidak bisa dicabut dari realitas sosial di sekitarnya,” katanya dalam acara “Ngopi Bareng” yang digelar oleh Kedai Kopi Nusantara, Jumat (4/6).

Dihadapan para aktivis pergerakan dan seniman, Ki Suhardi begitu bersemangat menganjurkan agar “pelukis kerakyatan” jangan menyerah dengan keadaan. “Kita harus menaklukkan ketidakmampuan, bukan buru-buru mengemis dan minta tolong,” tegas pelukis yang sudah memulai bakatnya sejak kecil itu.

Bersama komunitas Gerbong Bawah Tanah dan JAKER, pada tahun 2001, Ki Suhardi terlibat pameran seni rupa bertema “dasar babi-babi”, dan akhirnya mendapat tekanan dari apparatus negara. Pameran “dasar babi-babi” sendiri dimaksudkan untuk menyadarkan masyarakat mengenai bahaya laten rejim Soeharto.

Di Jakarta, aktivitas perjuangan melalui seni lukis masih terus dilakoni Ki Suhardi, termasuk berpartisipasi dalam perjuangan cicak vs buaya, dimana dia melukis di atas kanvas berukuran 200 x 150 cm, di kantor KPK.

“Seniman kerakyatan memang sulit untuk kaya. Tapi, seni itu kan memang harus mengabdi kepada kemanusiaan. Saya merasa, suatu saat seniman kerakyatan akan mendapatkan tempat layak dalam sejarah,” jelasnya.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut