Ribuan Massa “Marhaenis” Datangi Istana Negara

Di tengah-tengah gelombang protes hari ini, sekitar 3000-an anggota Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) juga menggelar aksi menolak kenaikan harga BBM. Ribuan massa ini bergerak dari Bundaran HI menuju Istana Negara.

Aksi ini juga diikuti oleh sejumlah ormas marhaenis seperti Relawan Perjuangan Demokrasi (Repdem), Srikandi Demokrasi Indonesia (SDI), dan Keluarga Marhaenis DKI Jakarta.

Dua anggota DPR dari PDI Perjuangan, Ribka Tjiptaning dan Maruar Sirait, tampak di tengah-tengah aksi massa. Kedua anggota DPR ini juga sempat menyampaikan orasi politik di hadapan massanya.

“PDIP tidak hanya menolak kenaikan BBM di mulut saja. Tidak juga hanya dengan mengandalkan parlemen. Tetapi kita turun dengan gerakan massa ekstra-parlementer,” kata seorang orator di atas mobil komando.

Di sepanjang jalan, massa meneriakkan yel-yel menolak kenaikan harga BBM dan menyanyikan lagu-lagu perjuangan.

Sunarto, seorang anggota PDI Perjuangan dari Jakarta, mengaku mengikuti aksi karena menganggap kebijakan menaikkan harga BBM merugikan rakyat. “Orang kecil seperti saya akan susah cari makan. Sekarang saja sembako udah naik. Sedangkan pekerjaan sangat susah didapat,” katanya.

Hal serupa juga diakui Sri, seorang pedagang kaki-lima yang juga anggota partai. Baginya, kenaikan harga BBM tentu akan melambungkan harga sembako dan sewa angkutan umum. “Kita nyari makan susah. Ini harga naik terus,” ungkapnya.

Di depan RRI, massa PDIP berhenti. Dua orang pengurus PDI, salah satunya Ribka Tjiptaning, masuk ke dalam RRI. Ia diberi kesempatan untuk menyatakan sikapnya terkait penolakan kenaikan harga BBM melalui RRI.

“Kita dikasih waktu selama 20 menit untuk melakukan siaran terkait penolakan rencana kenaikan harga BBM,” katanya.

Setelah itu, massa PDIP bergerak ke istana merdeka. Meski sempat dihalangi puluhan polisi, namun ribuan massa ini bisa menerobos hingga bisa menggelar aksi di depan Istana Negara.

Menurut Tjiptaning, bentuk demonstrasi jalanan adalah salah satu pilihan gerakan yang ditempuh partainya untuk dikombinasikan dengan perjuangan di parlemen. Kedua bentuk perjuangan itu bersifat saling melengkapi, katanya.

Selain itu, Tjiptaning juga menyoroti sikap pemerintah yang terkesan mengabaikan aksi protes rakyat terkait kenaikan harga BBM. “Suara rakyat harus didengarkan. Suara rakyat itu suara Tuhan. Dan kami rakyat tidak akan menyerah,” katanya.

Aksi massa di depan istana negara berlangsung singkat. Setelah itu, katanya, massa PDIP ini bergerak ke lapangan Banteng. Di sanalah aksi massa hari ini diakhiri.

ULFA ILYAS

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut