Plebisit Untuk Memperjuangkan Pendidikan Gratis Di Chile

Sudah lima bulan Chile dilanda protes sosial. Gerakan itu dimotori oleh gerakan mahasiswa, kemudian mendapat dukungan dari sektor luas masyarakat, sehingga berkembang menjadi gerakan luas.

Inti tuntutan mahasiswa adalah penolakan terhadap privatisasi. Sejak rejim Pinochet hingga rejim Sebastian Pinera sekarang ini, sistim pendidikan di Chile semakin mengarah pada swasta dan pengelolaan ala pasar. Hal itu, di mata gerakan mahasiswa, sangat membahayakan masa depan pendidikan di negeri berpenduduk 17 juta jiwa itu.

Saat ini, menurut sebuah data, 70% mahasiswa di Chile kini mengenyam pendidikan swasta. Hal itu dimungkinkan karena konstitusi, yang dibuat semasa rejim Pinochet, memungkinkan peranan swasta yang lebih besar di bidang pendidikan. Hal itu belum pernah diubah hingga sekarang.

Padahal, seperti dikatakan Camila Vallejo, Presiden Federasi Mahasiswa Universitas Chile dan sekaligus figure utama perlawanan, “sebuah pendidikan yang berkualitas menjadi hak bagi seluruh rakyat di Chile. Tanpa hal itu, masyarakat tidak bisa bergerak maju.”

Akhirnya, protes yang bermula dari demo anti-privatisasi, kini telah berkembang menjadi gerakan yang menyerukan Chile kembali reformasi pendidikan. Agar pendidikan bisa diperuntukkan untuk seluruh rakyat, murah dan berkualitas.

Protes pun tidak hanya dilakukan oleh mahasiswa dan pelajar, tetapi juga mendapat dukungan dari para dosen dan guru-guru, serikat pekerja, partai sosialis dan komunis, dan berbagai kelompok masyarakat adat.

Seperti pada 9 Agustus lalu, lebih dari 100 ribu orang tumpah ruah di seluruh Santiago, Ibukota Chile. Mereka memukul panci dan wajan untuk membangunkan seluruh penduduk kota yang dihuni oleh 6 juta orang itu.

Protes-protes besar, seringkali diwarnai bentrokan berdarah, tidak juga membuat pemerintah mendengar aspirasi demonstran. Bahkan beberapa negosiasi antara perwakilan mahasiswa dan pemerintah justru menemui jalan buntu.

Bahkan, beberapa hari yang lalu, dua-puluhan mahasiswa sekolah menengah menggelar aksi mogok makan selama berhari-hari, bahkan rela berkorban untuk tuntutan reformasi pendidikan. Tetapi pemerintah Sebastian Pinera tetap bergeming.

Melihat situasi itu, mahasiswa Chile tidak kehabisan akal. Mereka pun mengusung proposal untuk menggelar plebisit nasional. “Jika pemerintah tetap bergeming, maka kami akan menempuh jalur non-institusional: menyerukan kepada rakyat untuk melakukan plebisit demi masa depan pendidikan,” ujar Camila Vallejo, perempuan cantik yang juga aktif di Liga Pemuda Komunis Chile.

Tetapi pemerintahan Pinera sudah bersikukuh akan menolak tuntutan plebisit nasional. Tetapi, sekalipun presiden menolak, jika rakyat Chile mayoritas mendukung perlunya sebuah plebisit nasional, maka tentu ini akan menjadi pukulan telak kepada pemerintah.

Sebuah jajak pendapat yang diselenggarakan oleh Adimark menyebutkan bahwa 79% responden setuju dengan proposal mahasiswa untuk melakukan plebisit.

Plebisit ini akan memberikan hak kepada setiap warga negara Chile yang sudah berusia 14 tahun ke atas untuk menentukan masa depan pendidikan. Mereka akan memberikan jawaban atas tiga point pertanyaan: (1) apakah responden setuju dengan tuntutan pendidikan berkualitas, pendidikan gratis di semua jenjang, dan didanai oleh negara; (2) apakah responden setuju dengan tuntutan manajemen pendidikan yang terdesentralisasi di pemerintaha kota; (3) soal adanya profit dalam sistem pendidikan publik.

Pemungutan suara akan diorganisir oleh mahasiswa via online dan institusi-institusi publik di seluruh negeri.

Lebih jauh lagi, jika plebisit ini berhasil dan mendapat dukungan rakyat, bukan tidak mungkin gerakan mahasiswa akan punya ‘legitimasi” untuk mengajukan referendum konstitusi guna mengubah pasal yang membolehkan pendidikan dikelola melalui mekanisme pasar.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut