Pidato Solidaritas Santha Letchmy Perumal (Partai Sosialis Malaysia) Dalam Konferensi Nasional Perempuan Indonesia

Konferensi Nasional Perempuan Indonesia yang berlangsung tanggal 12-14 Desember 2014 telah selesai diselenggarakan. Hasil konferensi ini antara lain terbentuknya organisasi massa perempuan, Aksi Perempuan Indonesia Kartini (API Kartini) dengan kepengurusan yang akan mengemban sejumlah mandat untuk dua tahun ke depan. Pada konferensi ini pula hadir sejumlah perwakilan perempuan dari Partai sekawan yakni Partido Lakas Ng Masa (Filipina), Vänsterpartiet (Partai Kiri Swedia), Socialist Alliance (Australia), dan Parti Sosialis Malaysia (PSM). Menimbang nilai pembelajarannya maka redaksi Berdikari Online menurunkan salah satu pidato solidaritas yang disampaikan di hadapan peserta Konferensi Nasional Perempuan Indonesia berikut ini.   

Salam perjuangan dan selamat malam untuk anda semua.

Nama saya Santha. Ini adalah kunjungan pertama saya ke kota Jakarta yang besar. Suami saya, Mohan, dan saya di sini sebagai perwakilan dari Partai Sosialis Malaysia. PSM adalah sebuah partai oposisi dengan satu kursi di parlamen. Kami mengorganisir buruh di perkebunan, petani, buruh pabrik, dan rakyat miskin kota. Ketika banyak partai politik di Malaysia fokus pada persoalan ras, kami fokus pada persoalan kelas dan persoalan-persoalan dari mereka yang tidak punya kekuasaan seperti kaum miskin dan perempuan.

Seperti halnya saudari-saudari saya di Indonesia, kaum perempuan di negeri saya menghadapi banyak persoalan. Dua tahun lalu, perdana menteri kami, Najib Razak, menyatakan bahwa “Tidak dibutuhkan lagi perjuangan hak perempuan di Malaysia karena kesetaraan telah terberikan sejak semula.”

Saya tidak setuju. Diskriminasi di Malaysia masih berlanjut.  Mengacu pada sebuah penelitian, setiap hari empat perempuan dilaporkan mengalami pemerkosaan, dan 10 perempuan menghadapi pelecehan fisik, psikis, dan seksual.

Sebagai seorang perempuan saya gembira dapat hadir di konferensi semacam ini yang dapat menghasilkan pembentukan organisasi massa untuk membantu mengakhiri diskriminasi gender, pelecehan dan kekerasan terhadap perempuan.

  1. Tumbuhnya gerakan perempuan di Malaysia

Beberapa organisasi telah terlibat dalam memimpin gerakan perempuan di Malaysia selama sekian tahun. Mereka datang dari latar belakang berbeda, dengan kealamiahan multi-ras di negeri kami.

Misalnya di tahun 1930-an, Serikat Guru Perempuan Melayu berjuang agar komunitas Melayu dapat mengirim anak perempuan merekaa ke sekolah. Juga kaum laki-laki, seperti Syed Syikh Al-Hadi dan Zainal Abidin Ahmad, yang lebih dikenal dengan nama Za’aba,  memainkan peran penting untuk mendidik perempuan selama periode ini.

Tahun 1945, serikat perempuan terbentuk dengan cabang di beberapa negara bagian. Sebagian besar keanggotaan beretnis China. Itu merupakan perkumpulan perempuan pertama setelah perang. Tujuan-tujuannya tidak bersifat rasial dan berhubungan dengan kaum buruh, pendidikan, dan isu-isu politik.

Sepanjang 1946 sampai 1948, perempuan dari kelompok-kelompok etnis berbeda memobilisasi diri melawan pemerintahan kolonial Inggris dengan isu-isu yang berhubungan dengan status inferior kaum perempuan. Kelompok-kelompok ini berawal sebagai sayap organisasi perempuan dari partai-partai nasionalis dan komunis, tetapi kemudian mulai berdiri sendiri (independen).

Gerakan perempuan di Malaysia telah berubah dalam beberapa tahun terakhir dan tujuannya pun sekarang lebih luas. Termasuk di dalamnya perempuan muda, transgender, pekerja seks komersial, buruh perempuan migran dari negeri-negeri tetangga, dan perempuan dari komunitas aborigin “Orang Asalor”. Tapi sebagian besar dari gerakan ini didominasi oleh LSM dan perempuan kelas menengah, dan kami belum membangun gerakan perempuan akar rumput yang kuat.

LSM berbasis perkotaan merupakan pusat dari gerakan. Mereka termasuk AWAM (All Women’s Action Society) dan Women’s Aid Organization (WOA), yang menyediakan bantuan hukum dan tempat perlindungan bagi perempuan dan anak-anak yang mengalami kekerasan rumah tangga, dan juga kelompok lainnya seperti Pusat Janadaya (Empower), Sister in Islam dan Tenaganita.

Tidak seperti saat-saat sebelum kemerdekaan, organisasi perempuan hari ini secara tegas menyatakan diri non-partisan. Mereka fokus pada masalah-masalah yang berhubungan dengan seluruh perempuan seperti kesempatan memperoleh pendidikan, kepemilikan harta-benda, dan sebagainya. Mereka berjuang untuk meningkatkan kesadaran tentang diskriminasi dan menganalisa penindasan yang dialami perempuan di dalam keluarga, di tempat kerja, dan di masyarakat.

  1. Tantangan yang dihadapi perempuan hari ini

Perempuan telah melalui jalan panjang di Malaysia. Hari ini, mereka mengisi 52,8 persen dari angkatan kerja nasional dan—yang lebih mengejutkan—68 persen dari pelajar di pendidikan yang lebih tinggi.

Tapi budaya, hukum, dan agama menghalangi perempuan dalam berbagai hal. Mereka berusaha mengabadikan peraturan gender yang ketat, perlindungan berlebihan, dan tingkah llaku patriarki terhadap perempuan.

Dalam hal budaya, struktur keluarga memainkan peran yang besar dalam kehidupan perempuan. Sebuah laporan dari Organisasi Perlindungan Perempuan menunjukkan bagaimana hukum dan sikap berkenaan dengan peran perempuan yang diskriminatif terhadap mereka dalam wilayah perkawinan dan perceraian.

Banyak hukum perundang-undangan yang tidak adil terhadap perempuan dalam persoalan keluarga seperti perceraian, tahanan dan pemeliharaan, seperti halnya di wilayah lain seperti imigrasi, kekerasan dalam rumah tangga, kemiskinan, dan pajak. Sekalipun organisasi-organisasi perempuan telah berkampanye untuk mengamandemen perundang-undangan tersebut, hanya Undang-Undang tentang Pajak Penghasilan dan Distribusi, serta hukum yang berhubungan dengan pemerkosaan yang telah diamandemen.

Otoritas keagamaan di Malaysia dari kepercayaan Islam, Katolik, Budha, dan Hindu menolak akses perempuan untuk menginterpretasi dan menerapkan teks suci mereka. Struktur dan praktek yang patriarkis berkontribusi terhadap terbatasnya perwakilan perempuan dalam posisi-posisi kepemimpinan.

Salah satu contoh dari hal ini adalah permainan politik baru-baru ini di negara bagian Selangor mengenai janji Menteri Kepala. PKR, yang merupakan bagian dari koalisi penguasa di negara bagian,menginginkan presidennya, Dr. Wan Aazizah Wan Ismail, isteri dari pemimpin oposisi, Anwar Ibrahim, diajukan sebagai calon tunggal untuk didukung. Tapi ini tidak diijinkan. Beberapa alasan resmi diberikan tapi masalah yang nyata adalah karena dia seorang perempuan.

Di Asia Tenggara, Malaysia menempati urutan kedua dari terakhir dalam hal perwakilan perempuan di parlamen—perempuan hanya menduduki 10 persen dari 222 kursi. Keterwakilan mereka dalam pembuatan keputusan di pemerintahan dan lembaga pembuat undang-undang juga memprihatinkan. Meskipun pemerintah mencanangkan target partisipasi sebesar 30 persen untuk perempuan sejak tahun 1995, hampir 20 tahun kemudian, kami tetap belum mampu mencapainya.

Di dalam partai saya PSM sendiri, perwakilan perempuan di kepemimpinan pusat baru setara dengan laki-laki setelah pemilu terakhir. Tapi di tingkat cabang, laki-laki masih melanjutkan dominasinya di berbagai posisi.

  1. Rekomendasi untuk pembentukan sebuah organisasi massa

Mengakhiri diskriminasi gender, pelecehan, dan kekerasan terhadap perempuan akan menjadi perjuangan yang panjang. Partai saya selalu menekankan bahwa kaum perempuan memainkan peranan yang sangat penting dalam seluruh perjuangan dan keberhasilan dalam sebagian besar perjuangan adalah karena mereka (perempuan).

Beberapa tahun lalu, kami mengorganisir Serikat Guppy yang seluruh pimpinannya adalah perempuan. Serikat ini menghadapi banyak persoalan dari Urusan Pendaftaran Serikat Pekerja yang tidak percaya bahwa kaum perempuan dapat menjalankan serikat, dan dari kaum laki-laki dalam gerakan buruh. Tugas menjadi semakin berat manakala seluruh pimpinan perempuan di-PHK dan dimarginalisasi.

Kami memiliki modul yang didedikasikan untuk perempuan dan gender serta membuat gugatan hukum terhadap diskriminasi terhadap perempuan yang dialami ketika memasuki usia pensiun.

Ketika kita akan membangun organisasi massa perempuan, kita harus mempertimbangkan tiga hal:

Pertama, kita harus membuat organisasi yang efisien dengan kemampuan untuk mengumpulkan dana yang akan kita butuhkan dan menekel tantangan-tantangan yang akan dihadapi.

Kedua, kita harus secara terus-menerus meninjau dan melakukan modernisasi sehingga dapat tetap melayani kepentingan nasional. Dengan demikian akan dibutuhkan riset dan perumusan tujuan-tujuan yang seiring dengan strategi kita.

Terakhir, kita harus menunjuk kaum perempuan yang berkualifikasi sebagai pemimpin dan memastikan mereka dapatkan dukungan yang mereka butuhkan termasuk juga pelatih serta mentor yang dapat membantu mereka.

Kesimpulan

Sebagai penutup, saya ingin mengatakan bahwa kami cukup beruntung di Malaysia memiliki pemimpin perempuan seperti Ivy Josiah, Marina Chin Abdullah, Ambiga Sreenevasan, dan Zainah Anwar. Partai kami juga beruntung karena memiliki pemimpin-pemimpin perempuan yang juga berani. Wakil ketua kami, Saraswathy Muthu, yang ditahan oleh pemerintah karena perannya dalam demonstrasi damai mendapatkan penghargaan Yahyuri dari Jepang untuk kinerjanya yang luar biasa sebagai seorang aktivis sosial.

Seorang pemimpin yang inspirtatif lainnya dari negeri saya adalah Irene Fernandez, seorang aktivis hak azasi manusia yang meninggal dunia bulan Maret tahun ini. Ia adalah direktur dan pendiri Tenaganita, yang mempromosikan hak-hak pekerja migran serta pengungsi di Malaysia. Saya ingin mendedikasikan pidato saya ini kepadanya dengan kata-kata yang selalu ia sampaikan: “Benar adalah benar. Kita mesti berjuang untuk hak semua orang.”

PSM dan ujung tombaknya di akar rumput masih harus banyak belajar. Kami datang kemari dengan pikiran terbuka untuk belajar dari anda sekalian. Karena kemenangan kalian adalah kemenangan kami dan perjuangan kalian adalah perjuangan kami.

Terima kasih.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut