Partai Kiri Kembali Menang Di Pemilu Yunani

Syriza-baru

Partai berhaluan kiri Yunani, Syriza, kembali memenangi Pemilihan Umum (Pemilu) yang digelar pada hari Minggu (20/9/2015). Hasil ini berpeluang mengantarkan kembali mantan Perdana Menteri Yunani, Alexis Tsipras, ke tampuk kekuasaan.

Hasil perhitungan sementara menunjukkan, Syriza meraih suara sekitar 35,4 persen. Sedangkan pesaingnya dari sayap kanan, Demokrasi Baru, hanya mendapat 28,3 persen. Urutan ketiga ditempati oleh partai berhaluan fasistik, Golden Dawn, dengan perolehan suara 7,06 persen.

Meski demikian, Syriza gagal meraih kursi mayoritas di parlemen. Dengan perolehan suara 35 persen itu, partai yang resmi berdiri di tahun 2004 ini diperkirakan hanya meraih 144 kursi dari total 300 kursi di parlemen Yunani.

Namun, untuk membentuk pemerintahan, Syriza kemungkinan akan menggandeng partai Independen (ANEL) yang meraih 3,6 persen dan diperkirakan menguasai 10 kursi di parlemen.

Pimpinan Partai Demokrasi Baru, Vangelis Meimarakis, sudah mengakui kekalahan partainya di pemilu ini. “Hasil pemilu menunjukkan bahwa Syriza dan Tsipras memimpin. Saya sudah mengucapkan selamat kepadanya dan mendesaknya agar segera membentuk pemerintahan,” kata Meimarakis.

Di hadapan pendukungnya, Tsipras mengatakan bahwa kemenangan itu adalah kemenangan rakyat. “Hasil ini bukan hanya milik Syriza, kemenangan ini milik suara rakyat,” ujarnya.

Dia melanjutkan, hasil pemilu telah memberikan mandat yang jelas kepada dirinya untuk menjalankan pemerintahan hingga empat tahun kedepan. Namun dia mengakui, perjuangan kedepan akan berlangsung sangat sulit.

Ini adalah kemenangan ketiga Syriza dalam satu tahun ini saja. Sebelumnya, Syriza menang pemilu yang diselenggarakan di bulan Januari 2015 dan memenangi referendum yang diselenggarakan pada bulan Juli 2015.

Di Persimpangan Jalan

Untuk diketahui, pada 25 Januari lalu, Syriza membuat kemenangan bersejarah di Yunani. Partai yang dipimpin Alexis Tsipras ini memenangi pemilu dengan suara 36 persen.

Kemenangan itu membangkitkan harapan baru bagi rakyat Yunani yang sudah lama dicekik kebijakan neoliberalisme. Sebab, Syriza adalah partai yang getol menentang neoliberalisme, terutama kebijakan penghematan.

Namun, apa daya, dalam proses perundingan utang yang berlangsung berbulan-bulan, Tsipras takluk. Di bulan Juli lalu, dia menyetujui dana bail out sebesar 86 miliar euro (Rp 1.333 triliun) dari kreditur Eropa. Pemberian dana talangan itu disertai dengan kebijakan paket penghematan yang akan memperburuk keadaan ekonomi rakyat Yunani.

Keputusan Tsipras itu menuai protes dari faksi kiri di tubuh partai Syriza. Sebanyak 26 anggota parlemen Syriza keluar dari partai dan membentuk partai baru, yaitu Popular Unity.

Sayang, di pemilu kali ini, Popular Unity gagal menembus perolehan suara 3 pesen. Sehingga, berdasarkan aturan pemilu Yunani, partai berhaluan kiri radikal ini gagal masuk parlemen.

Namun, pimpinan Popular Unity, Panagiotis Lafazanis, tidak berkecil hati dengan kegagalan itu. Kata dia, besok dan seterusnya, Popular Unity akan berada di garda depan untuk melawan kebijakan penghematan.

Kritikan keras juga dilemparkan oleh mantan Menteri Keuangan Yunani, Yanis Varoufakis. Menurut dia, pemilu dipercepat yang diselenggarakan hati Minggu kemarin itu hanya untuk ‘melegalisasi’ kapitulasi yang dilakukan oleh Alexis Tsipras.

Perjuangan Syriza dan Tsipras sendiri tidak gampang. Dengan kegagalan mewujudkan janji kampanye di pemilu sebelumnya, antusiasme rakyat terhadap dirinya dan partainya mulai menurun. Apalagi, jika tidak ada perbaikan ekonomi segera, antusiasme dan dukungan terus akan merosot.

Di sisi lain, seperti dikatakan pemikir politik Chantal Mouffe, strategi Uni Eropa adalah mengeliminasi Tsipras. Karena itu, menurut Profesor dari University of Westminster ini, Uni Eropa tidak akan memberi ruang kesepakatan apapun terhadap setiap proposal yang diusulkan oleh Tsipras.

“Mereka (Uni Eropa) ingin mengeliminasi Tsipras, mencabutnya dari kekuasaan, lalu menggantikannya dengan pemerintahan teknokrat atau semacam koalisi antara PASOK dan Demokrasi Baru,” katanya kepada teleSUR.

Maklum, kemenangan Syriza pada pemilu Januari 2015 telah menjadi semacam “mercusuar” bagi kebangkitan politik kiri di tempat lain. Diantaranya, meluasnya dukungan untuk partai kiri Podemos di Spanyol dan kemenangan Jeremy Corbyn dalam perebutan kursi Ketua partai Buruh di Inggris.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut