“Pak Presiden, Selesaikanlah Konflik Agraria”

Bung Hatta pernah bilang, bagi masyarakat agraris, tanah adalah faktor produksi terpenting. Baik buruknya penghidupan petani tergantung pada akses mereka terhadap tanah.

Nah, pertanyaannya, bagaimana dengan petani yang terusir dari tanahnya karena konflik agraria?

Itulah yang dialami oleh petani Jambi yang selama puluhan tahun kehilangan tanahnya. Penghidupan mereka kocar-kacir. Nasib mereka terkatung-katung.

Ibu Tiur, petani dari dusun Mekar Jaya, Kabupaten Sarolangun, Jambi, menceritakan, sejak tanahnya dirampas oleh PT Agronusa Alam Sejahtera dan PT Wanakasita Nusantara, mereka kehilangan tempat tinggal dan lahan penghidupan.

“Kami tidak punya tempat tinggal dan tidak punya lahan lagi. Kami tidak minta kekayaan kepada Presiden. Cuma kami minta kepada Presiden dan Menteri Kehutanan, secepatnya selesaikan konflik agraria,” ujar ibu yang sudah berusia 56 tahun ini, Sabtu (19/3/2016).

Dia berharap, Presiden Joko Widodo bisa mendengarkan suara penderitaan petani. Tentu saja, dengan menyelesaikan konflik agraria dan mengembalikan lahan petani.

Ibu Tiur adalah salah satu petani yang turut dalam aksi jalan kaki Jakarta. Meski usia terbilang sudah tidak muda lagi, tetapi semangatnya tetap menyala. Dia mengaku tidak takut dengan semua resiko yang harus dihadapi dari perjuangannya ini.

“Kami siap mati kelaparan, siap mati dalam perjalanan dalam perjalanan kami demi perjuangan kami, demi tempat tinggal dan lahan,” tegasnya.

Untuk diketahui, konflik agraria di dusun Mekar Jaya terjadi PT Agronusa Alam Sejahtera mendapat izin HTI tahun 2009. Sebelumnya, di tahun 1995, PT Wanakasita Nusantara juga mendapat lahan konsesi di Sarolangun.

Tahun 2011, kedua perusahaan ini mulai melakukan pembersihan lahan untuk memulai penanaman akasia. Tak hanya membersihkan lahan hutan, tetapi kedua perusahaan itu juga berusaha merampas 3000 ha perkampungan dan ladang warga dusun Mekar Jaya.

Karena lahan dan kampungnya hendak digusur, petani Mekar Jaya pun melawan. Namun, mereka diperhadapkan dengan preman dan aparat keamanan. Petani kerap diintimidasi dan rumahnya dibakar oleh preman.

Itulah yang memaksa Ibu Tiur dan ribuan warga Mekar Jaya berjuang. Berbagai jalan sudah ditempuh, dari negosiasi hingga pendudukan, tetapi belum membuahkan hasil. Mereka bahkan menginap berbulan-bulan di depan DPR RI dan kantor Kemenhut RI di Jakarta.

Kali ini, di bawah pemerintahan Jokowi yang berjanji menyelesaikan konflik agraria, Ibu Tiur dan petani Mekar Jaya, Suku Anak Dalam (SAD) 113, Kunangan Jaya I dan II, serta petani Tanjung Jabung Timur, menggelar aksi jalan kaki ke Jakarta.

Mereka menganggap, aksi jalan kaki ini sebagai upaya “menjemput” kembali tanah mereka yang dirampas. Tentu saja, karena mereka yakin, Presiden Jokowi yang kerap berfoto bersama petani itu betul-betul peduli dengan nasib petani.

“Di sini kita akan melihat konsistensi Presiden Jokowi, apakah dia benar berpihak kepada petani atau tidak. Kalau beliau berpihak pada petani, maka beliau akan mengabulkan tuntutan petani,” jelas koordinator aksi jalan kaki petani Jambi, Joko Supriadinata.

Ya, semoga Pak Jokowi benar-benar memihak petani. Bukan sebaliknya.

Muhammad Idris

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut