Merehabilitasi Dosa-Dosa Si Wanita Besi

The Iron Lady (2011)
Sutradara: Phyllida Lloyd
Penulis cerita: Abi Morgan
Tahun Produksi: 2011
Pemain: Meryl Streep, Alexandra Roach, Jim Broadbent, Harry Lloyd, Anthony Head, Richard E Grant.
Durasi : 105 menit

Joseph Goebbels, ahli propaganda Hitler, pernah mengatakan: “Berbohonglah sebanyak-banyaknya, akhirnya orang akan mempercayai kebohonganmu! Kata-kata itu nampaknya mengilhami sutradara Inggris, Phyllida Lloyd, saat membuat film “Iron Lady”.

Phyllida Lloyd mengaku film garapannya ini sengaja menghindari tema politik. Ia mengaku lebih menekankan pada aspek gender, yakni perjuangan seorang perempuan dalam kekuasaan yang, pada akhirnya, berakhir menyedihkan.

Justru, karena menghindar dari politik, sutraradara Phyllida Lloyd berhasil membangkitkan kembali si wanita besi, Margaret Thatcher, sebagai pahlawan modern Inggris: pejuang feminis, anti-terorisme, anti fasisme (junta militer Argentina), dan pembawa kemakmuran Inggris. Kita diajak menonton akting Meryl Streep, yang memerankan Margareth Thatcher, tanpa diterangi dengan jelas seperti kebijakan ekonomi-politik orang yang diperankannya.

Meryl Streep sangat sukses memerankan Margareth Thatcher. Kita diajak menyelemi kehidupan Thatcher sebagai manusia biasa: anak pemilik toko di sebuah kota kecil di Inggris yang punya cita-cita dan ambisi besar, namun sering berhadapan dengan orang-orang yang merendahkannya.

Llyod berusaha mengangkat sisi feminisme Thatcher secara menonjol saat adegan ia dilamar oleh  Denis Thatcher, seorang pengusaha kaya pendukung Apartheid di Afrika Selatan. Di situ Thatcher mengajukan syarat: ia tidak mau menjadi satu dari sekian perempuan Dennis, yang diam dan manis di lengan suaminya, atau terkurung sendirian di dapur untuk mencuci piring. “Kehidupan seseorang harus lebih berarti dari sekedar memasak, mencuci piring, dan mengurus anak-anak,” kata Thatcher.

Thatcher, seorang perempuan yang ambisionis, masuk dalam gelanggang politik Inggris yang didominasi laki-laki. Ia seolah mewakili suara ibu rumah tangga di Inggris yang resah dengan buruknya layanan publik.

Sayang, di film Iron Lady, ketika Thatcher menjabat Menteri Pendidikan, tidak ditampilkan kebijakannya menghapus program susu gratis untuk anak-anak sekolah di Inggris. Padahal, gara-gara kebijakan itu Thatcher dijuluki “Penjambret Susu”.

Pada tahun 1970-an, Inggris dilanda pemogokan buruh. Pemerintahan partai Konservatif, Edward Heath, gagal merespon persoalan itu. Ia pun terjungkal dari posisinya dan digantika Partai Buruh. Di situlah Thatcher muncul sebagai pemimpin oposisi dari Partai Konservatif.

Menjelang pemilu Inggris, Thatcher memutuskan akan berkompetisi. Ia berusaha mendorong politik Inggris ke kanan: menyalahkan pemogokan buruh sebagai penyebab kehancuran ekonomi, menyalahkan subsidi sebagai penyebab hancurnya layan publik, dan lain sebagainya.

Menjelang pemilihan, di tangah seorang produser TV, Gordon Reece, Thatcher “dipermak” menjadi politisi. Mirip dengan politik pencitraan. Thatcher dipaksa melepas topi dan kalung kebanggannya. Ia juga diajari menurunkan nada suara dan mengatur tempo bicaranya.

Thatcher berhasil mengubah keadaan. Ia terpilih sebagai Perdana Menteri Inggris dan dilantik pada 4 Mei 1979. Ia menjadi wanita pertama yang menjadi Perdana Menteri dalam sejarah Inggris, bahkan mungkin juga di Eropa.

Di tahun pertama berkuasa, Thatcher sudah sangat tidak populer. Tetapi, entah mengapa di film itu, ketidakpopuleran pemerintahan Thatcher hanya muncul dalam potongan gambar: pemogokan buruh, perlawanan IRA, dan lain-lain.

Selama kekuasaannya, Thatcher tidak mau bernegosiasi dengan gerakan buruh. Pemogokan buruh tambang ditindas dengan kejam. Akibatnya, 3 juta orang Inggris menganggur. Industri Inggris terperosok di bibir kehancuran.

Cerita perjuangan rakyat Irlandia Utara juga diletakkan di sudut gelap film ini. Tidak pernah diceritakan tentang latar-belakang perlawanan itu: pendudukan illegal Inggris terhadap Irlandia Utara. Aksi-aksi pengeboman Tentara Republik Irlandia (IRA) digambarkan sebagai aksi terorisme yang kejam, tetapi kekejaman tentara Inggris terhadap jutaan rakyat Irlandia tidak disebut sama sekali.

Thatcher, si wanita besi, menolak berdialog dengan 10 tahanan politik IRA. Hingga, pada tahun 1981, ke-10 tahanan itu mati kelaparan di dalam penjara. Tetapi, entah mengapa, Thatcher tidak memperlihatkan keprihatinan sedikitpun terhadap kejadian itu.

Di tengah krisis pemerintahannya, Thatcher tidak malu-malu untuk melecutkan sentimen nasionalisme di kepulauan Falkland. Dengan begitu, Inggris dilanda nasionalisme buta. Perayaan kemenangan atas perang di Falkland—sering disebut perang Malvinas—seakan menafikan kejahatan Inggris yang menenggelamkan kapal perang Argentina, Belgrano, yang menewaskan 300 pelaut Inggris.

Parahnya, Partai buruh juga terpecut oleh nasionalisme buta itu. Hal ini yang menyebabkan Thatcher menduduki jabatan Perdana Menteri dua periode. Namun, tidak lama berkuasa, protes kembali meluas. Kali ini, protes dipicu oleh arogansi Thatcher untuk menarik pajak dari kaum miskin.

Kali ini, rekan-rekan se-partai Thatcher mulai berfikir: memberhentikan Thatcher atau membunuh masa depan partai. Geoffrey Howe, seorang menterinya di kabinet, mengundurkan diri karena tidak setuju dengan langkah Thatcher.

Akhirnya, pada tahun 1992, setelah berkuasa 11 tahun setengah, Thatcher dipaksa mundur dan diganti oleh rekan separtainya, John Major. Kerusakan yang ditinggalkan Thatcher berdampak pada partainya, Konservatif, yang pada tahun 1997, mengalami kekalahan terburuk sepanjang sejarah.

Film ini tidak sepenuhnya dokumenter. Sebab, yang menonjol adalah masa tua Thatcher, yang mulai mengingat-ingat masa silamnya. Di masa tuanya, Thatcher masih berusaha mengamati politik, tetapi sering terganggu oleh penyakit halusinasinya. Ia seolah melihat suaminya,  Denis Thatcher, yang sudah lama meninggal.

Yang menarik, Thatcher sangat dominan menggunakan blazer biru—biru seolah menjadi warna kebanggan kaum neoliberal. Di Indonesia, partai penganut neoliberal juga menggunakan warna biru. Presiden neoliberal di Indonesia juga “doyan” mengenakan batik warna biru.

Thatcher adalah pengagum berat Milton Friedman, seorang ekonom pencetus neoliberalisme. Ketika mendengar Friedman meninggal, Thatcher langsung mengatakan, “Milton Friedman berjasa menghidupkan kembali ekonomi kebebasan setelah semua melupakannya.”

11 tahun setengah berkuasa, Thatcher memberlakukan kebijakan neoliberal yang brutal: pemotongan anggaran sosial, pemotongan pajak orang kaya, deregulasi sektor finansial, privatisasi perusahaan negara dan layanan publik, dan menghancurkan serikat buruh.

Film ini seakan ingin merehabilitasi dosa-dosa Thatcher. Dengan mengangkat sisi-sisi manusiawi yang dibuat-buat, Phyllida Lloyd justru melecehkan jutaan orang Inggris yang menjadi korban kebijakan neoliberal Thatcher.

Kita, di Indonesia, yang sedang berjuang keras mengakhiri kebrutalan neoliberal, pantas memberi apresiasi negatif terhadap film ini.

Rudi Hartono

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut