Melihat Kehidupan Nyata Rakyat Jelata Lewat Teater

Karat Teater menyampaikan kehidupan nyata rakyat lapisan bawah melalui ‘Dilarang Menyanyi Di Kamar Mandi’ di Auditorium Gelanggang Remaja Jakarta Barat pada even Festival Teater Jakarta (FTJ) ke 46 tingkat Kotamadya Jakarta Barat, Senin (17/09/2018).

Mengadaptasi bebas cerpen Seno Gumira Ajidarma ini, kelompok teater yang bermarkas di Krendang Jakarta Barat ini menyuguhkan cerita riil suasana sehari-hari pemukiman padat penduduk; mulai dari Sholat subuh, aktivitas kerja, mengantar anak sekolah dan seterusnya yang kesemua adegan dibungkus menggunakan dialek betawi pasaran, berikut lelucon-leluconnya, nyambung hingga seratusan orang yang hadir menonton tertawa-tawa.

“Karat itu kependekan dari Karang Taruna, “ujar Herry Tany, sutradara pementasan ini.

Herry bercerita, Karat bermula dari tuntutan anak-anak muda yang ingin memperdalam seni teater untuk memeriahkan peringatan tujuh belasan di kampung. Saat itu, Herry adalah aktivis Serikat Rakyat Miskin Indonesia (SRMI), yang terlibat pengorganisiran rakyat miskin perkotaan.”

“Mulailah proses berjalan dengan berbagai latihan dan pendidikan keteateran sampai akhirnya muncul naskah karya saya sendiri, Tapak-Tapak Kehilangan,  yang dipentaskan di acara tujuhbelasan, tepatnya 29 Agustus 2017, maka jadilah tanggal itu sebagai hari lahir Karat Teater,” ungkap sutradara berambut gondrong ini.

Herry melanjutkan, setelah pementasan perdana itu, lahir karya-karya berikutnya, seperti ‘Lenong Fatimeh’, yang sudah 14 kali dipentaskan dalam banyak ajang seni budaya.

Herry juga menjelaskan, proses dari mulai latihan hingga menuju pementasan di FTJ ini dimana awal prosesnya adalah penyesuaian karakter dari masing-masing pemain yang rata-rata masih muda dan baru pertama kali mempelajari naskah.

“Kesulitannya adalah penyesuaian apabila memakai naskah yang berbau absurd atau surealis, maka kami pilih naskah realis yang memang akan terjadi-pernah terjadi-dan pasti terjadi di kehidupan sosial masyarakat, “ujarnya.

Terakhir, saat ditanya apa yang ingin disampaikan Karat Teater lewat pentas Dilarang Bernyanyi di Kamar Mandi, Herry menyebut Karat Teater ingin menyampaikan sebuah ketimpangan dan potret nyata dari dunia masyarakat bawah dimana disana ada yang ingin menang sendiri, masih ada diskriminasi terhadap perempuan, imajinasi kotor para lelaki yang menimbulkan kisruh kehidupan rumah tangga dan itu terjadi di lingkungan kumuh padat penduduk hingga hari ini. (*)

Sukir Anggraeni

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
Tags: