Melawan virus Zika, Lihatlah Kesuksesan Kuba!

Virus Zika, yang pertama kali berjangkit di Brazil pada April 2015 lalu, kini menjadi momok dunia. Virus yang menyebar melalui gigitan nyamuk ini sudah menyebar ke berbagai belahan dunia. Tidak terkecuali Asia Tenggara.

Sejak akhir Agustus lalu, Singapura mengonfirmasi 41 kasus virus zika di negaranya. Sedangkan Malaysia mengumumkan kasus zika pertama pada Rabu (7/9) kemarin.

Indonesia sendiri tidak aman. Pada 30 Agustus lalu, Menteri Kesehatan Nila F Moeloek membenarkan ada satu orang warga negara Indonesia yang terjangkit virus zika. Korban adalah warga Suku Anak Dalam (SAD) di Jambi.

Dalam banyak kasus, virus zika tidak menampakkan gejala khusus. Namun, jangan anggap enteng, virus ini dapat memicu kelumpuhan (Sindrom Guillain-Barre). Pada wanita hamil, penyakit ini dapat menyebabkan bayi mengalami microcephaly atau ukuran otak lebih kecil dan kepala tidak normal.

Nah, dalam menghadapi virus zika ini, banyak negara yang dibuat kewalahan. Tetapi ada satu negara di kepulauan Karibia sana yang sukses mencegah penularan virus zika di negerinya. Negara itu adalah Kuba.

Begitu virus zika merebak di Brazil, Kuba langsung menyatakan kewaspadaan nasional. Seluruh kekuatan nasional, mulai dari tenaga kesehatan, ahli, tentara, dan rakyat, dikerahkan untuk mencegah virus tersebut.

Kuba menerjunkan 9000 tentara dan 200 polisinya untuk melakukan fumigasi besar-besaran di setiap pojok Kuba. Tidak satupun rumah yang tidak disemprot. Dan tidak sejengkal tanah pun yang tidak kena semprot.

Belum cukup dengan itu, semua tenaga kesehatan, termasuk mahasiswa kedokteran, dikerahkan ke seluruh negeri untuk menggerakkan rakyat mencegah munculnya nyamuk pembawa virus zika. Warga yang diketahui terkena zika langsung dikarantina dan mendapat pengobatan serius oleh dokter-dokter terbaik negara.

Di Havana saja, ada 9000 mahasiswa dan 1200 pelajar SMA yang dimobilisasi ke rumah-rumah rakyat. Mereka memberikan pengetahuan soal zika dan bagaimana mencegahnya. Tidak hanya itu, setiap warga juga diperiksa dari kemungkinan terinfeksi virus zika.

“Kami mengecek 30 rumah per hari,” kata seorang mahasiswa semester satu, Diolexis Torres Salabarría, seperti dikutip oleh koran Pemuda Komunis Kuba, Juventud Rebelde.

Rakyat pun dilibatkan: serikat buruh, petani, pemuda, perempuan, mahasiswa dan lain-lain. Mereka diberi pengetahuan soal pencegahan virus zika. Setelah itu, mereka menjadi brigade kesehatan di pemukiman masing-masing.

Disamping itu, pengawasan di bandara juga diperketat. Bukan untuk menghalangi orang asing memasuki Kuba, tetapi memastikan mereka bebas dari virus zika.

Yang menarik, sistim kesehatan Kuba mengedepankan pencegahan ketimbang pengobatan. Ini dipraktekkan dengan dua jalan. Pertama, negara memastikan semua kondisi sosial, ekonomi dan lingkungan agar setiap warga negara bisa hidup sehat.

Kedua, Kuba menerapkan yang disebut “dokter keluarga”. Dalam konsep ini, dokter tinggal dan hidup di tengah-tengah rakyat. Mereka hidup di tengah komunitas yang dilayaninya. Di situ mereka melayani, mengawasi, dan memeriksa kesehatan rakyat di komunitasnya. Tak jarang, dokter-dokter ini datang mengetuk rumah-rumah penduduk untuk melakukan pemeriksaan kesehatan. Itu dimungkin karena rasio dokter Kuba terhadap jumlah penduduk cukup tinggi: 1 dokter melayani 149 orang.

Ketiga, layanan kesehatan gratis, humanis dan berteknologi tinggi untuk seluruh rakyat. Di Kuba, setiap warga negara, tanpa memandang jenis kelamin, usia, ras, agama, status sosial, apalagi pendapatan, bisa mengakses layanan kesehatan humanis dan berteknologi tinggi. Anggaran kesehatan tidak pernah di bawah 10 persen. Ini yang membuat tidak satupun orang Kuba yang merasa sungkan berobat di klinik maupun rumah sakit yang tersebar ke seantero negeri.

Kuba pun suskses memerangi Zika. Sejauh ini, hanya 3 orang warga Kuba yang terinfeksi zika. Itupun sudah mendapat perawatan khusus. Sedangkan 30 orang lainnya terinfensi virus dari luar Kuba.

“Respon Kuba sangat besar-besaran dan efektif,” kata Dr. Cristian Morales, perwakilan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk Kuba, seperti dikutip Washington Post, jumat (2/9/2016).

“Itu ada hubungannya dengan kemampuan mengorganisir massa-rakyat. Menerapkan ke negara lain, pada konteks yang berbeda, tentu sangat sulit,” jelasnya.

Memang, kalau kita lihat cerita di atas, salah satu kehebatan Kuba adalah kemampuan pemerintah menarik partisipasi rakyatnya dalam sebuah gerakan nasional.

“Rakyat kami mampu memperlihatkan kemampuan mengorganisir diri untuk menjaga derajat kesehatan yang sudah dicapai oleh revolusi dan menghindarkan keluarga mereka dari sakit,” kata Presiden Kuba Raul Castro sesaat setelah mengumumkan perang terhadap zika pada Februari lalu.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut