Masyarakat NTT Nonton Bareng Film ‘The Act of Killing’

Kamis, 3 Oktober kemarin, Senat Mahasiswa FKIP-UKAW bekerja sama dengan Senat Mahasiswa Theologi, Komunitas Film Kupang, Perkumpulan PIKUL, dan Jaringan Perempuan Indonesia Timur (JPIT) menggelar kegiatan nonton bareng dan diskusi film The Act of Killing/Jagal di Kapela Theologi Universitas Kristen Artha Wacana Kupang.

Acara ini dihadiri oleh mahasiswa, politisi, akedemisi, Pegiat LSM, Pemuda Gereja dan Majelis Gereja.Tampil sebagai pembedah dalam diskusi film itu adalah politisi muda PKB George Hormat, Sosiolog dari Forum Akademia NTT Dr. Dominggus Elchid Li, Perwakilan JPIT  Pdt. Martha Sahetapi, M.Th.

Sosiolog dari Forum Akademia NTT Dr. Dominggus Elchid Li mengatakan, saat menonton film ini terasa beda dengan film yang dibuat oleh pemerintah Orba. Menurutnya, saat menonton film versi Orba yang dirasakan oleh penonon adalah trauma, sedangkan pada film The Act of Killing penonton diajak untuk menyelami sebuah cerita baru yang padahal kisah ini benar-benar terjadi.

Dia juga menyesalkan sikap pemerintah yang seolah-olah merasa tidak bersalah. Menurutnya, pemerintah dengan pola diskriminasinya, juga pengaruh efek domino yang terjadi di Asia Tenggara, membuat pemerintah tidak mampu membaca ulang sejarah 1965. “Dan yang sangat luar biasa adalah pemerintah hari ini sulit meminta maaf atas kejadian itu,” tandasnya.

Sementara Politisi dari PKB George Hormat Kulas berusaha mengkaji kejadian yang diangkat film The Act of Killing dari sisi penegakan HAM. Ia mengkritisi pemerintah yang tidak sanggup menuntaskan pelanggaran HAM akibat peristiwa 1965. Akibatnya, kata dia, pasca pemerintahan otoritarian Soeharto kasus pelanggaran HAM terus meningkat hingga saat ini.

Ia juga menjelaskan, model pelanggaran HAM hari saat ini terpola menjadi tiga bagian, yakni kriminalitas, rekayasa Kasus, dan bisnis. Georga juga mengeritik film ini karena dalam ceritanya menghilangkan aktor utama peristiwa pembantaian massal 1965 dengan melokalisir situasi dan menempatkan preman sebagai aktor, padahal aktor utamanya adalah kekuatan modal/kapitalisme dan pemerintah. Menurutnya, Pemerintah sebagai perpanjangan tangan modal menggunakan hegemoni dan dominasi untuk tetap mempertahankan status quo dan menyembunyikan realitas pelanggran HAM yang pernah terjadi.

Sedangkan menurut Perwakilan JPIT Pdt. Martha Sahetapy M.Th, peristiwa 1965 bukan saja terjadi di Medan ataupun Jakarta tetapi juga terjadi di Nusa Tenggara Timur. Bahkan, menurut dia, dalam riset mereka kemudian ditulis dalam buku Perempuan, Korban dan Penyintas Tragedi 1965 disebutkan gereja memilih untuk diam. Padahal, ungkapnya, gereja juga turut terlibat, misalnya dalam sidang Gereja Kristen Sumba (GKS) pada tahun 1956 mereka mengatakan bahwa ajaran Komunisme Marxisme bertentangan dengan ajaran Agama, lalu anggota gereja yang berhaluan Komunis dikenakan hukum gereja seperti tidak mendapat pelayanan, Baptis, Perjamuan kudus, Pemberkatan nikah, penguburan Jasad dan mendapatkan pengucilan dari gereja.

Ia melanjutkan, dalam Sidang Raya Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT), di SoE, pada tahun 1960 (?), menghasilkan konsesi yakni gereja memilih untuk diam, semua orang yang terlibat PKI dikeluarkan dari Gereja, semua pejabat GMIT mengakui diri beridiologi Kristen bahkan GMIT mengatakan keuntungan mereka adalah dapat merebut ribuan suku Boti suku asli Timor menjadi pengikut Kristen.

“Mereka berdalih menggunakan Theologi sukses yakni orang yang kaya adalah orang yang diberkati Tuhan, sedangkan orang yang miskin dan tertindas itu merupakan orang yang tidak diberkati dan itu hukuman Tuhan,” kata Pdt. Martha Sahetapy M.Th.

Padahal, menurut dia, dalam Alkitab perjanjian lama disebutkan bahwa Allah selalu membela yang tertindas dan yang tersingkirkan seperti cerita tentang pembelaan Allah terhadap orang Israel yang selama ratusan tahun dijajah dan diperbudak oleh bangsa Mesir. “Bahkan dalam teori Marxisme menyebutkan bahwa hidup sejahtera, damai, adil dan makmur harus diciptakan dalam kondisi yang materil di bumi berkorelasi dengan pemahaman mendasar dalam konsep Doa “Bapa Kami” orang Kristen tentang …Jadilah Kehendakmu di Bumi seperti di Sorga,” katanya.

Wanandi Kabu

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut