Resensi Buku: Kota Ini Penuh Kata

Membaca puisi adalah menafsirkan kata-kata, menafsirkan makna, dan menafsirkan cerita pendek. Membaca puisi-puisi karya AJ Susmana yang dibukukannya dalam antologi puisi tunggal Kota Ini Ada Di Tubuhmu seperti mengikuti perjalanan penulis. Lelaki yang kerap dipanggil Mono-bahkan kawan-kawan dari masa lalunya memanggilnya Antun–ini menuliskan cerita-cerita yang ia temui dalam setiap kembaranya. Depok, Jakarta, Tangerang, Klaten, Yogyakarta, dan Semarang adalah kota-kota yang memiliki banyak arti bai penulis. Bukan tanpa sebab ia memilih judul yang ia ambil dari salah satu judul puisinya sebagai judul antologinya. Kota ini Ada Di Tubuhmu [1] menceritakan sebuah kota yang penuh sesak dengan manusia urban, kemiskinan, dan kemarahan. Pada puisi ini Mono secara ‘manis’ menceritakan tentang kisah percintaan yang dibumbui dengan agitasi.

Menariknya membaca karya-karya Mono yang ada di dalam antologi puisi ini adalah membaca agitasi yang manis. Sangat berbeda dengan puisi-puisi perjuangan yang rata-rata dituliskan sangat mirip dengan pamflet atau puisi pamflet. Mono tahu betul bagaimana mengolah kata dan memilih diksi, sehingga pembaca pun tidak merasa diagitasi. Seperti pada puisinya yang berjudul Karena [2], ia menceritakan dengan lugas bagaimana kemiskinan dan bagaimana mengatasinya.

Cover buku 'Kota Ini Ada Di Tubuhmu'
Cover buku ‘Kota Ini Ada Di Tubuhmu’

Karena buruh diupah rendah

Karena buruh seperti sapi perahan

Karena petani-petani tak bertanah

……

….

Karena semua itu!

Kubrikan kepadamu!

Pemberontakan!

(Tangerang, 24 Februari 2002)

Sebuah agitasi yang manis, bukan? Ya, agitasi yang manis.

Mono tidak lagi terjebak pada puisi-puisi perjuangan yang dibuat seperti puisi pamflet. Ia justru menjauhi bentuk-bentuk puisi pamflet yang terkesan “garing”. Ia bahkan banyak menggunakan metafor, namun metafor-metafor yang ia gunakan tidak berjarak dengan pembaca. Seperti yang ada di puisinya yang berjudul, Untuk C [3]. Pada puisi ini ia menceritakan tentang kondisi sosial yang carut marut, kerinduannya pada keheningan dan tentang asal penindasan.

Di sini

Di antara yang tertindas

Tak ada langit dan matahari

Atau bulan di malam

….

Aku rindu pada kaki-kaki langit

Aku rindu perempuan desa

Aku rindu mencium bunga-bunga gunung

Ijinkan aku berlari di ketinggian

….

….

Di antara yang tertindas

Tak ada langit. Tak ada matahari

Seperti doa-doa para rahib tak bertepi

Ijinkan aku terbang sejenak

Di ketinggian

Biar kulihat

Segala api berasal dari penindasan

(Cipondoh, 23 Februari 2002)

Jika dilihat dari konten, isi buku puisi Mono ini sangat kompleks. Ia tidak melulu menuliskan tentang penindasan yang dilakukan oleh negara, seperti pada puisinya yang berjudul Katakan Saja Pada Anak-anak Apa Yang Kamu Tahu[4], Pada Kawan Yang Mati (Iqbal Firmansyah)[5], tetapi juga penindasan yang dialami para perempuan. Seperti puisinya yang berjudul Drupadi[6], bahkan beberapa sajak cinta, seperti Balada Cinta Lena[7]. Khusus tentang puisi Balada Cinta Lena, Mono menjadikannya sebagai puisi penutup. Dan puisi ini sangat panjang. Saya membacanya bukan sebagai puisi, tapi sebagai prosa, prosa essay. Mengapa? Karena tulisannya tentang Balada Cinta Lena ini memenuhi unsur-unsur yang dimiliki sebuah prosa. Ada penokohan, ada alur, dan ada cerita. Menariknya lagi, dalam puisi ini, tersirat kekalutan sang penulis tentang perjuangan yang tengah ia lakoni dan penegasan tentang keberagamaan (bukan keberagaman)  yang ia samarkan. Tidak hanya itu, puisi ini juga sarat dengan kompleksitas yang saling bertubrukan, saling bersinggungan, dan menjalin satu sama lain dalam hidup penulis. Saya memilih kata ‘penulis’ karena, saya meyakini karya sastra ditulis berdasarkan pengalaman pribadi sang penulis, meskipun kemudian karya itu menjadi sangat universal. Pada prosa ini pula, Mono sangat piawai dalam proses “mengada dan menjadi” yang disebut-sebut dalam teori psikoanalisis Erich Fromm.

Bagaimana dalam satu bagian ia menjadi Maria, bagaimana tiba-tiba ia menjadi Yesus, lalu secara halus, ia kembali menjadi dirinya sendiri. Semua itu ia jalin dengan sangat halus, tanpa alur yang mengejutkan yang melompat. Semua alurnya linear dan sederhana. Justru ini menjadi kekuatan Mono dalam karya-karyanya.

Sama halnya yang ia tunjukkan pada puisinya yang berjudul Drupadi. Sekali Mono menunjukkan kemampuannya untuk memadukan cerita-cerita rakyat sebagai bahan pijakannya membuat puisi. Para tokoh dalam cerita rakyat ini, ia tafsirkan sedemikian rupa dan kemudian ia ‘bawa’ dalam konteks penindasan yang dialami para perempuan. Ini adalah kemampuan seorang penulis yang berangkat dari cerita untuk mengembangkan ide penulisannya dan membawanya dalam konteks kekinian. Ini wajar saja dilakukan oleh para penulis-dalam ranah manapun-, menjadikan sebuah cerita sebagai ilham. Saya menyebutnya sebagai proses pengayaan. Bukankah orang yang tidak pernah membaca akan ‘kering’ tulisannya?

Dalam puisi Drupadi, penulis sangat menghayati betul apa yang dialami Drupadi yang dijadikan barang taruhan oleh para Pandawa. Drupadi yang dituliskan Mono sangat membawa betul kondisi psikologis Drupadi yang notabene merupakan seorang perempuan, sementara penulis adalah lelaki. Tidak banyak penulis yang mampu melakukan “perpindahan” gender secara psikologis ini. Rata-rata para penulis hanya mampu menuliskan apa yang ia tulis berdasarkan gender psikologisnya. Seorang lelaki akan menulis sebuah fenomena melalui karya sastra berdasarkan ‘kelakiannya’, begitu pula sebaliknya.

….

….

Setan apa yang ada di otakmu

Hingga kau jadikan aku barang taruhan?[8]

…..

…..

Pada bagian lain, Mono dengan halus menarik kisah Drupadi dengan konteks kekinian, dimana para perempuan miskin di kota-kota besar harus menjual tubuhnya hanya untuk makan.

….

Aku, Drupadi yang kehilangan cinta dan perlindungan

Kemana aku harus mencari?

Di jalanan kota lebih tak aman

Perempuan-perempuan miskin

Dipaksa menari telanjang tanpa upah yang layak

Cuma cukup untuk makan

Agar esok malam cukup kuat menari telanjang[9]

 

Dan pada bagian akhir puisi Drupadi ini, Mono memunculkan alter ego keperempuanannya yang tahu bagaimana seharusnya bersikap. Mono memunculkan Drupadi sebagai sosok feminis yang tahu betul tentang daulat diri.

….

…..

….

Lelakiku! Lelakiku!

Air mata ini terlalu mahal untuk ditumpahkan di depanmu

Aku, Drupadi yang kehilangan cinta dan perlindungan

Kemana aku harus mencari?

Tentu tidak kepadamu [10]

(Jakarta, 10 Februari 2008)

 

Dalam kumpulan puisi yang merupakan Sterring Commite di Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat (Jakker) ini, tidak melulu penuh dengan agitasi laiknya karya-karya yang ditulis para aktivis yang kebetulan memiliki kemampuan menulis karya sastra. Mono juga secara sederhana membuat beberapa puisi cinta, puisi tentang hubungan asmara antara dua anak manusia, meskipun masih dalam suasana perjuangan. Seperti dalam puisinya yang berjudul Kepadamu[11].

….

….

Biarkan cinta berlabuh

Di hati yang rindu

Kita kan mendayung jauh

Ke pulau abadi

(Depok, 1998)

Sebagai penyeimbang. Ya, puisi-puisi Mono dalam antologinya ini banyak sekali memiliki penyeimbang, agar para pembaca tidak mengalami “Kram otak” ketika membaca puisi-puisi yang sarat makna agitasi ini-kalau tidak boleh menyebutnya sebagai puisi perjuangan-.

Dalam satu puisi saja, Mono sudah melakukan penyeimbangan itu. Mono paham betul tentang konsep setiap hidup harus memiliki penyeimbang, seperti ada gelap ada terang, ada perempuan ada lelaki, ada yin ada yang. Contohnya dalam puisinya yang berjudul Sajak Perjuangan [12].

 

Bila aku tak kembali

Jangan ada rindu yang mencari

Jagalah api agar tak pdam

Ranting pun tak apa, Sayang

Bila aku tak kembali

Jangan ada sesal

Mengapa kulepas lelaki pergi

Jagalah hati agar nyali tak berlari

Bila aku tak kembali

Jangan ada tangis

Lelaki-lelaki lain pasti terlahir

Dan perjuangan tak berakhir

(Jakarta, 23 Februari 2001)

Terakhir, membaca antologi yang diterbitkan oleh Jakker di tahun 2008 ini, saya melihat seperti rumah, ada ruang tamu yang ia munculkan lewat prolog, ada ruang dalam yang berisi puisi-puisi, dan ada ruang belakang yang ia munculkan melalui epilog. Semuanya dalam bentuk puisi dan 3 prosa panjang (Drupadi, Lari, dan Balada Cinta Lena).

Pada Prolog, Mono menuliskan puisi yang dibuat oleh seorang kawan yang menjadi salah satu penggagas berdirinya organisasi mahasiswa ekstra kampus SMID, (alm) Andi Munajat. Puisi tersebut berjudul Benar yang telah digubah menjadi sebuah lagu yang dipopulerkan oleh Sebumi.

Benar kami hanya rakyat jelata

Tapi negeri inipun kami punya

Hak kami tak bisa kau rampas

 

Benar kami hanya buruh biasa

Tapi kami pun punya harga diri

             Tanpa kami…..

Dan pada epilog, Mono mencantumkan puisinya yang berjudul Uang. Saya melihatnya bukan tanpa alasan memilih puisi ini sebagai sebuah penutup antologinya. Saya melihat, Mono dengan tepat dan secara halus menyindir anak manusia yang menjadikan uang sebagai tujuan hidup mereka di dunia.

Uang [13]

 

Aku menyusuri jalanan kota

Kulihat langit mendung hitam berarak

Di antara lalu lalang orang-orang tergesa

Dan mereka yang mimpi: hujan uang segera tiba

…..

….

 

Membaca karya sastra, termasuk puisi adalah membaca makna, membaca apa yang ingin disampaikan penulis. Dengan bahasanya yang lugas, tapi masih bisa dinikmati sebagai sebuah puisi, Mono mencoba mengagitasi para pembacanya dengan sangat manis. Ini wajar, karena secara organisasi, penulis telah lama aktif di forum-forum demokrasi. Ia pun terlibat membidani beberapa organisasi masyarakat yang sangat peduli dengan perubahan di negeri ini. Sebagai seorang penulis, karya-karya Mono sangat dekat dengan apa yang disebut dengan realisme sosialis. Meskipun beberapa pihak menyebutkan mewujudkan masyarakat tanpa kelas di tengah menguatnya kapitalisme sebagai sebuah utopia, Mono masih meyakini apa yang ia impikan. Bahkan lelaki yang kini berjuang untuk masuk ke kancah parlementer melalui pencalegannya di PDIP di Dapil Kalsel 1 untuk DPR RI ini, secara halus mengatakan, “Bergeraklah kawan/jangan takut, kawan/mereka memanggil kita[14].” Mereka memanggil kita untuk berjuang. Mereka siapa? Buruh, tani, dan kaum miskin kota memanggil kita. Karena akulah kawanmu [15].

Biodata penulis resensi

Dewi Indra Puspitasari, penulis lepas dan pelancong yang kini tinggal secara nomaden di Jakarta.

———————————————–

[1] Hal 2

[2] Hal 23

[3] Hal 3

[4] Hal 27

[5] Hal 30-31

[6] Hal 5-7

[7] Hal 41-69

[8] Hal 5

[9] Hal 6

[10] Hal 7

[11] Hal 1

[12] Hal 22

[13] Hal 70-71

[14] Puisi Mereka Memanggil Kita, halaman 33

[15] Puisi Kepada Kawan, halaman 32

 

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut