Masa Depan Revolusi Venezuela: Di Persimpangan Harapan

Venezuela Maduro Bronx

Akankah krisis ekonomi saat ini teratasi? Seperti apa masa depan hubungan Kolombia-Venezuela? Akankah rakyat terus memberi dukungan pada partai ‘Chavismo’?

Meskipun dua tahun krisis ekonomi membelit Venezuela, juga berbulan-bulan kekerasan terorganisir dan pengrusakan melalui barikade jalanan oleh kelompok oposisi, mayoritas rakyat Venezuela masih tegas mendukung sosialisme. Tetapi apa jalan keluar dari situasi sulit ini? Selama beberapa bulan kedepan teleSUR bahasa Inggris akan menyediakan analisa mendalam yang bertolak belakang dengan analisa mainstream, yang mendengar langsung rakyat di tanah Venezuela. Kontribusi pertama ditulis secara kolektif oleh anggota Tatuy television collective* di Merida, Venezuela.

——————

Untuk memahami kenyataan di Venezuela, perlu untuk meninggalkan berita yang muncul setiap pagi di smart phone dan meninggalkan berita yang disajikan oleh radio lokal dan Televisi. Karena Venezuela tidak hanya berhadapan dengan situasi khusus yang kontroversial, tetapi juga sedang menjalankan sebuah proyek sosial, budaya, dan politik yang menentukan bagi sejarah dunia kontemporer dan sedang di persimpangan jalan yang penting: menyerah atau mempertahankan dan memperdalam revolusi sosialis.

Banyak bangsa, rakyat, dan organisasi lain di seluruh dunia yang punya harapan besar terhadap masa depan revolusi bolivarian. Akankah krisis ekonomi saat ini teratasi? Seperti apa masa depan hubungan Kolombia-Venezuela? Akankah rakyat terus memberi dukungan pada partai ‘Chavismo’? Akankah kurangnya ketersediaan bahan pokok akan mengutuk revolusi? Untuk menjawab persoalan ini butuh untuk melihat penyebab struktural fenomena ekonomi dan politik akhir-akhir ini di Venezuela.

Meskipun pemerintahan Chavistas sudah lama berkuasa, dan meskipun ada banyak kemajuan sosial, revolusi bolivarian belum sanggup mengatasi logika rente dan kapitalistik berbasiskan ekonomi produk tunggal, yaitu ekonomi yang sepenuhnya bergantung pada minyak, dengan perkembangan industri yang sangat terbatas, yang semakin memburuk dengan krisis global berkelanjutan.

Semua itu menambah pukulan moral setelah meninggalnya pemrakarsa proyek revolusioner Venezuela, Hugo Chavez, yang memprakarsai upaya mengakhiri ketergantungan terhadap minyak dengan mendorong diversifikasi ekonomi, politik penguatan negara, kesejahteraan dan serangkain rencana yang diorganisasikan dalam proyek yang disebut “Rencana untuk Tanah Air” (Plan of the Homeland).

Kontradiksi lain muncul sekarang yang menghambat radikalisasi proyek sosialis: oportunisme dan kebijakan reformis yang diwariskan oleh tradisi politik lama, yang sedang berhadapan dengan ambiguitas hari ini, tidak melawan korupsi dan birokratisme tapi malah membiarkannya, yang telah memperlambat pencapaian tujuan proyek revolusioner. Situasi ini dihasilkan oleh perjuangan kekuatan antara dua model sosial-ekonomi yang antagonis dalam sebuah proses revolusioner dengan karakter pasifis (damai).

Di tengah situasi ini, reaksi cepat dari kekuatan hegemonik nasional dan internasional sangat cepat, justru karena revolusi bolivarian bertindak sebagai “pengerem” atas kepentingan ekonomi, politik, dan finansial mereka, dengan menjadi alternatif terhadap model neoliberal yang telah berlaku lama. Kekerasan barikade (blokir jalan) dengan hasil menyakitkan, sabotase ekonomi, boikot terhadap perusahaan minyak nasional dan bahkan kudeta adalah sejumlah reaksi dari klas dominan dalam sejarah.

Sekarang mereka mempertajamnya dengan mengggunakan berbagai strategi berbeda, seperti penimbunan sembako, hiper-inflasi, devaluasi mata uang, ekspor barang selundupan di perbatasan, pelarian mata uang (currency flight), dan pembusukan sosial. Itu adalah sejumlah masalah yang, tanpa diragukan lagi, mempengaruhi kondisi sehari-hari rakyat Venezuela. Mereka menempatkan pemerintahan Bolivarian dalam persepsi “tidak memerintah”, terutama menjelang momentum elektoral yang mempengaruhi kepercayaan rakyat, yaitu pemilu Majelis Nasional pada Desember ini.

Meskipun demikian, pemerintahan Chavistas berusaha menghindari dari konfrontasi langsung dengan isu-isu ini, dan tetap pada tujuan dasarnya, seperti aliansi yang solid antara pemerintah, tentara dan rakyat terorganisir; menghadirkan kelembagaan yang kuat dengan manajemen optimal di sejumlah daerah berbeda seperti distribusi dan subsidi bahan makanan; penyesuaian dan kontrol harga; keamanan warga; menyebarkan pendidikan untuk massa; stimulus aparat produktif melalui penelitian pendanaan. Tanpa mengabaikan partisipasi yang koheren di panggung internasioal, dengan bersolidaritas terhadap bangsa-bangsa lain di berbagai belahan dunia.

Tetapi sayangnya hal itu belum cukup untuk mengalahkan aspirasi kaum imperialis dan borjuis nasional: mayoritas produksi nasional masih di tangan perusahaan swasta; perusahaan negara atau perusahaan yang dihasilkan oleh revolusi belum mencapai level maksimal atau beroperasi maksimal; peran partai agen revolusi, yakni Partai Persatuan Sosialis Venezuela (PSUV), yang masih malu-malu dan ambigu dalam mengatasi logika “elektoralisme”, telah mengurangi perannya sebagai organisasi pelopor yang memandu pemerintah dan rakyatnya melalui jalan revolusioner yang tepat. Ditambah lagi, pemerintahan Nicolas Maduro meletakkan strateginya pada dialog dan konsensus dengan musuh, yang terang-terangan tidak menyelesaikan konflik, tetapi malah sebaliknya, memperburuk konflik tersebut.

Karena itu, penciptaan alat baru untuk mempertahankan revolusi sangat diperlukan. Mengutip kata-kata Chavez dalam pidatonya yang disebut “Strike at the Helm”: “kondisi yang memandu transisi menuju sosialisme…dengan dimulainya siklus baru ini, kami harus lebih efisien dalam pembangunan revolusioner model politik, ekonomi, sosial, dan budaya baru.” Ini hanya tercapai melalui radikalisasi, hingga titik ini, sedang dibangun.

Dimulai dengan langkah kebijakan yang urgen di sejumlah area berbeda, seperti nasionalisasi bank; menempatkan aparatus finansial untuk melayani revolusi; menghindari pelarian kapital keluar negeri, spekulasi dan meningkatkan aktivitas pasar mata uang yang pararel; nasionalisasi perdagangan luar negeri; perencanaan impor; mengaktifkan produksi nasional dan mengontrol harga.

Juga mengumpulkan semua perusahaan yang dinasionalisasi, lalu mengarahkannya pada sistim organik sebagaimana diminta sendiri oleh Presiden Maduro pada bulan September 2014: “kami harus memperkuat kapasitas manajemen, direksi, dan administrasi (…) menciptakan penggabungan sistem perusahaan negara dan semua perusahaan sosialis di Venezuela, dengan berbagai perusahaan yang dikelompokkan bersama fasilitas layanan dan produksinya.” Sebuah langkah yang tertunda tetapi mewakili kunci jalan keluar dari ketergantungan terhadap keuntungan minyak dan relasi perdagangan komersil beserta seluruh manifestasi logika profitnya. Sebuah tuntutan yang pernah diajukan Presiden Chavez pada Oktober 2010: “Tolong, saya ingin anda mendengarkan refleksi ini…mari menempatkan pengetahuan kita untuk bekerja menciptakan sistim baru, mari tidak mengubah produksi menjadi komoditi secara otomatis. Itu kapitalistik!”

Langkah-langkah yang juga diperlukan: segera menyelamatkan jiwa revolusioner, menawarkan langkah-langkah yang jelas untuk menaikkan kembali moral rakyat, memperteguh keyakinan terhadap sosialisme sebagai jalan keluar terhadap sistim kapitalisme barbar yang menyebabkan kemanusiaan dalam bahaya. Meminjam kata-kata heroik Che Guevara: “Negara kadang-kadang membuat kesalahan. Ketika satu kesalahan terjadi, sebuah penurunan semangat kolektif tercermin pada penurunan kuantitas produktif yang dihasilkan oleh setiap individu. Kerja menjadi lumpuh dengan jumlah tidak signifikan yang dihasilkan. Inilah saatnya untuk membuat koreksi.”

Untuk memperbaiki ini tidaklah menggunaka kosakata klise dari kiri lama. Sebaliknya, kita perlu berbicara yang menyentuh akar persoalan dan mengubah yang mendasar. Kami harus menyadari bahwa simpang jalan yang dihadapi revolusi Bolivarian bukan soal lebih banyak dividen dan manfaat, melainkan antara sistem yang membunuh, usang dan berbahaya seperti kapitalisme versus sistim organisasi yang membebaskan dan menghumaniskan seperti sosialisme.

Pemerintahan Bolivarian punya kewajiban untuk memperbaiki kebijakannya tentang rekonsiliasi kelas. Tetapi wajib untuk meradikalisasinya. Banyak yang berpikir bahwa radikalisasi berarti hilangnya pemerintah, tetapi kenyataannya jika anda tidak meradikalisasi anda tidak dapat memerintah. Pemerintahan yang berada di sisi rakyat yang mayoritas Chavistas, saatnya mempertinggi perjuangan kelas dan memajukan polarisan elektoral serta menyediakan dukungan yang penting. Demikian juga, pemerintah Venezuela menerima sebagian besar mata uang asing dari pendapatan minyak.

Jika ini tidak diradikalisasi, maka penghematan dan sayap kanan akan memaksakan diri, atau jalan konsiliasi akan menghapus karakter revolusioner dari revolusi Bolivarian dan mengubahnya menjadi ogre sosial-demokrat seperti Partai Revolusioner Institusional (PRI) Meksiko, yang masih berkuasa tapi mengorbankan eksistensi revolusionernya. Jalan konsoliasi berarti mundur untuk mereformasi kapitalisme rente yang menjadi karakter ekonomi Venezuela dan hanya menghias struktur borjuis negara Venezuela.

Ketika di sini tidak ada kepastian, sementara yang di atas tidak jelas, ketidakpastian akan merajalela di tengah rakyat, meluasnya ketidakpuasan, dan kebingungan yang merajalela. Dengan jalan pemerintahan “persatuan nasional”, demobilisasi akan berlangsung bertahap dan terpantau, dengan kemungkinan konflik sosial. ()

*) The Tatuy television collective berbasis di negara bagian Merida dan bermaksud untuk memberikan gambaran berita dari perspektif lokal dan sosialis: bekerja dengan Dewan Komunal dan organisasi sosial untuk memastikan bahwa televisi tidak diawasi secara pasif, tetapi alat komunikasi yang perlu diorganisasikan. Menerima banyak dukungan dari organsiasi nasional pemerintah, tetapi banyak bergantung pada waktu sukarela para anggota yang berdedikasi.

–Diterjemahkan dari teleSUR oleh Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut