Mari Jaga Terus Api Proklamasi Kemerdekaan!

Di tengah memuncaknya Perang Dunia II, 73 tahun yang lalu, dwi tunggal Sukarno – Hatta, atas nama Bangsa Indonesia membacakan teks proklamasi kemerdekaan.

Untuk mengenang hari bersejarah tersebut, untuk mengingat akan jasa-jasa yang sudah mereka persembahkan kepada bangsa Indonesia, untuk menyatukan semangat, tekad, gagasan besar mereka, maka kita melakukan ziarah kebangsaan.

Sebelumnya kita sudah berziarah ke makam Bung Karno, dan sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan, ini kita melanjutkan perjalanan ziarah kita ke tempat peristirahatan terakhir Bung Hatta. Saudara-saudara, mari kita tak henti-hentinya mendoakan serta memberikan penghormatan setinggi-tingginya kepada para Pahlawan yang telah gugur dalam perjuangan membebaskan bangsa Indonesia dari belenggu penjajahan.

Jasmerah, jangan sekali-kali meninggalkan sejarah, dwi tunggal Soekarno – Hatta adalah pimpinan puncak pergerakan bangsa Indonesia, Proklamator kemerdekaan Indonesia, tauladan bagi segenap bangsa Indonesia, pribadinya, perjuangannya serta pemikirannya.

Proklamasi kemerdekaan, bukan sekedar pergantian kekuasaan dari orang Belanda atau Jepang ke orang Indonesia, tetapi kemerdekaan adalah awal dimulainya pembentukan negara Indonesia, pembentukan KEPRIBADIAN BANGSA, yang berdaulat serta mandiri. Kepribadian dari bangsa terjajah, tertindas, terbelakang, miskin, bodoh, cemas, kehilangan kepercayaan diri, menjadi bangsa yang MERDEKA, yang akan mengatur rumah tangganya sendiri, dengan prinsip-prinsip yang sesuai dengan nilai-nilai keindonesiaan, gotong royong, kekeluargaan, musyawarah, persatuan, adil dan beradab.

Kemerdekaan adalah perubahan sistem, dari feodalisme, kapitalisme, imperialisme, kolonialisme dan liberalisme menjadi sistem yang maju beradab, menjadikan bangsa Indonesia sebagai subyek pembangunan (bukan menjadi kuli), menjunjung tinggi kemanusiaan, kesetaraan, keadilan, kesejahteraan umum, maka bagi bangsa Indonesia, naskah Proklamasi dan Pembukaan Undang Undang Dasar ’45 adalah tunggal, tak dapat dipisahkan satu dari yang lain.

Dengan Proklamasi, kita menunjukkan kepada seluruh bangsa yang ada di dunia, bahwa kita sudah merdeka, sedangkan Preambule UUD 1945, adalah landasan konsep serta arah, dasar serta tujuan pembentukan negara Indonesia, yang kemudian disusunlah dalam manipol USDEK sebagai haluan negara, dengan strategi membersihkan feodalisme dan imperialisme, sebagai tahap menuju Indonesia yang adil makmur, menjadikan Pasal 33 UUD 1945 sebagai landasan konstitusional membangun ekonomi Indonesia.

Jadi siapapun yang meninggalkan semangat serta kaidah-kaidah yang terkandung di dalam Preambule UUD 1945, dia telah mengkhianati falsafah, dasar serta cita-cita Proklamasi. Bahkan telah mengubur Proklamasi Kemerdekaan itu sendiri.

Pada awal masa kemerdekaan, politik anti imperialisme menjadi poros perjuangan bagi persatuan nasional. Usaha usaha yang dilakukan bangsa Indonesia ini pada tahun 1960 an telah menguasai hampir 80 persen aset imperialis.

Namun situasi ini tidak bertahan lama, kepungan imperialisme yang bekerjasama dengan agen agen yang ada di dalam negeri telah merebut kendali dengan melakukan banting stir kembali ke alam liberalisme. Monumen sakti mereka adalah UU PMA th 1967, dan sampai saat ini, Indonesia kembali menjadi kue besar bagi imperialisme.

Maka ingatlah, sekali imperialisme diberikan ruang, dia akan merangsek seperti tsunami yang meluluhlantakkan kehidupan.

Indonesia masuk kembali ke zaman kegelapan, kedaulatan serta kemandirian rontok, kemiskinan serta kesenjangan ekonomi sosial semakin melebar, 1 persen penduduk menguasai hampir 49 persen asset nasional, polarisasi politik semakin tajam, persatuan nasional terancam.

Jika di tahun 1960 an kita menghina Malaysia sebagai negara tanpa konsep, saat ini kita lah yang justru kehilangan konsep, kehilangan arah pembangunan serta kehilangan kepercayaan diri. Semangat juang yang sudah dicontohkan oleh para pendiri bangsa kita, luntur digerus oleh alam liberal, kepemimpinan nasional rapuh di bawah ketiak oligarki, kekuasaan hanya untuk kepentingan kelompok dan golongan, manipulasi informasi sudah sedemikian dasyat, rakyat cemas menghadapi masa depan yang tidak pasti.

Belajar dari apa yang sudah dilakukan oleh para pendahulu kita,  kita harus merumuskan konsep baru untuk membangun Indonesia, dengan menjadikan rakyat banyak sebagai subyek, membatasi ruang bagi kapitalisme, dengan menjadikan sumber daya alam serta kekayaan yang terkandung di dalamnya diolah serta dikuasai sebagai usaha bersama untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat, dengan kembali menempatkan Pancasila sebagai filosofi serta dasar negara, dan Pasal 33 UUD 1945 sebagai landasan pembangunan ekonomi.

Jika demikian, dengan tempo yang cepat serta cermat, bangsa Indonesia harus berani mengambil langkah untuk mengembalikan Kepribadian Nasional Bangsa Indonesia, dengan cara mengubah haluan ekonomi liberal menjadi haluan ekonomi baru dengan menjadikan rakyat banyak sebagai subyek ekonomi, bukan menjadi kuli-kuli di negeri seberang maupun di negeri sendiri.

Dengan cara, mengubah produk UU (bahkan batang tubuh UUD 1945) yang bertentangan dengan kepentingan bangsa, dengan menyusun UU baru yang sesuai dengan semangat Prokamasi dan kaidah besar di dalam Preambule UUD 1945.

Tentu, jalan ini membutuhkan tekad, keberanian serta dukungan yang kuat dari rakyat Indonesia, seperti yang sudah dicontohkan oleh para pejuang bangsa kita di masa lalu, demi kemerdekaan bangsanya, berkobar semangatnya, bertempur mengusir penjajah yang menjarah seta menghinadinakan bangsa kita!

Untuk itu saudara-saudara, di hari yang baik ini mari kita kenang semangat juang para pahlawan, mari kita pelajari kembali konsep serta pemikiran mereka untuk bekal membangun Indonesia yang benar-benar merdeka!

Dan janganlah sekali-kali kita melupakan elan perjuangan serta jasa mereka, agar kita menjadi bangsa yang beradab!

Ganti Haluan Ekonomi

Wujudkan Kesejahteraan Sosial

Bangun Persatuan Nasional

Menangkan Pancasila!

Agus Jabo Priyono, Ketua Umum Partai Rakyat Demokratik (PRD)

Catatan: Artikel ini merupakan pidato sambutan Ketua Umum PRD Agus Jabo Priyono di acara Renungan Kebangsaan menyambut HUT Proklamasi Kemerdekaan RI ke-73 di kompleks Makam Bung Hatta, Kamis (16/8/2018).

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut