LMND UNIBA Soroti Masalah Baru Di Tengah Reformasi Birokrasi Kampus

Serang, Berdikari Online – Sejumlah persoalan di Universitas Bina Bangsa (UNIBA) kembali menjadi sorotan mahasiswa. Tiga isu utama yang ramai diperbincangkan meliputi kembalinya dosen yang pernah terseret dugaan pelecehan verbal, belum terealisasinya pengembalian dana KIP Kuliah, serta kebijakan biaya TOEFL-EPT yang dinilai memberatkan mahasiswa.

Ketua Eksekutif Komisariat LMND UNIBA, Adam Arjun Maulana, menegaskan bahwa mahasiswa tidak boleh diam terkait persoalan yang menyangkut ruang aman, keadilan akses pendidikan, dan transparansi kebijakan. Menurutnya, munculnya persoalan tersebut justru ironis di tengah reformasi birokrasi kampus.

“Setelah adanya reformasi birokrasi di Universitas Bina Bangsa, kami berharap akan lahir tata kelola yang lebih transparan dan berpihak kepada mahasiswa. Namun yang terjadi justru muncul bibit persoalan yang jika dibiarkan bisa merusak kepercayaan publik terhadap institusi pendidikan ini,” ujar Adam.

Salah satu isu yang paling disoroti adalah kembalinya dosen yang sebelumnya terseret dugaan pelecehan verbal terhadap mahasiswi. Adam menekankan pentingnya kampus menjadi ruang aman dan bermartabat bagi seluruh mahasiswa, terutama perempuan.

“Kampus bukan hanya ruang belajar, tetapi juga ruang moral dan intelektual yang harus menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Jika kampus tetap membuka ruang bagi figur yang pernah terseret persoalan tersebut tanpa sikap jelas, hal ini berpotensi menimbulkan keresahan mahasiswa dan merusak integritas institusi,” tegas Adam.

Selain itu, realisasi pengembalian dana KIP Kuliah yang sebelumnya sempat dijanjikan juga belum terlihat. Program KIP Kuliah seharusnya membantu mahasiswa kurang mampu agar bisa mengakses pendidikan tanpa terbebani biaya tambahan.

Adam mendorong pihak kampus segera menuntaskan pengembalian dana agar hak mahasiswa terlindungi dan transparansi tetap terjaga.

Mahasiswa juga menyoroti kebijakan biaya TOEFL-EPT yang dinilai memberatkan, meski penguasaan bahasa Inggris penting bagi peningkatan kapasitas akademik. Adam berharap kampus mengevaluasi kebijakan ini agar tetap adil dan inklusif bagi seluruh mahasiswa.

Menutup pernyataannya, Adam menekankan bahwa kritik mahasiswa bukan untuk menyerang, tetapi sebagai bentuk tanggung jawab moral menjaga marwah institusi pendidikan. Mahasiswa berharap UNIBA merespons persoalan secara terbuka dan konstruktif agar kepercayaan publik tetap terjaga.

(Amir)

[post-views]