LMND Dan SRMI Surabaya Tolak Pertemuan WTO

Sedikitnya 40-an mahasiswa dan rakyat miskin di Surabaya, Jawa Timur, menggelar aksi massa menolak pelaksanaan konferensi tingkat menteri Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) yang sedang berlangsung di Nusa Dua, Bali, tanggal 3-6 Desember 2013.

Massa aksi ini merupakan gabungan dari tiga organisasi, yakni Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND), Serikat Rakyat Miskin Indonesia (SRMI), dan Mahasiswa Alumni Tebu Ireng Surabaya (MANTABS). Aksi massa ini digelar di depan gedung Grahadi Surabaya siang (3/12) tadi.

Dalam aksi ini, sebanyak 7 peserta aksi yang mengecat badannya dengan cat warna hitam dan menuliskan huruf yang membentuk kalimat “STOP WTO”. Kemudian di belakang mereka berbaris 7 orang yang memegang poster dengan tulisan yang sama.

Menurut Moelyadi, aktivis LMND Jatim, agenda KTM ke-9 WTO di Bali, yang meliputi agenda liberalisasi pertanian, liberalisasi perdagangan barang dan jasa, serta paket bantuan bagi negara kurang berkembang (LCDs), hanya akan merugikan kepentingan nasional bangsa Indonesia.

“Agenda  WTO itu hanya akan melibas sektor pertanian di dalam negeri dan menghancurkan industri nasional kita,” kata Moelyadi.

Selain itu, kata Moelyadi, WTO tidak akan pernah menjadi organisasi yang adil akibat sifat dasarnya yang dibangun atas prinsip-prinsip perdagangan bebas, pertumbuhan tanpa batas dan eksploitasi manusia dan alam.

Hal senada diungkapkan oleh Indra, aktivis SRMI kota Surabaya. Menurutnya, sejak mengikuti ketentuan WTO, sektor pertanian Indonesia tercabik-cabik sehingga membuat Indonesia gagal memenuhi kebutuhan pangannya.

“Gara-gara mengikuti WTO, pertanian kita hancur. Sekarang kita menjadi negara pengimpor pangan,” tegas Indra.

Dalam aksinya, aktivis LMND, SRMI, dan Mantabs ini menyerukan agar pemerintah segera kembali kepada filosofi bangsa, yakni Pancasila, UUD 1945, dan cita-cita Proklamasi 17 Agustus 1945.

Tak hanya itu, terkait sistem perdagangan dunia, massa aksi menyerukan perlunya merumuskan model alternatif perdagangan ekonomi yang berkeadilan sosial.

Aksi massa yang digelar oleh LMND, SRMI, dan MANTABS ini mendapat pengawalan ekstra ketat dari pihak kepolisian. Akibatnya, keinginan massa aksi untuk masuk ke dalam gedung Grahadi dan menyampaikan aspirasi tidak terpenuhi.

Ironisnya, ketika massa aksi sudah menyudahi aksinya, Polisi justru melakukan intimidasi dan pemukulan terhadap sejumlah massa aksi.

Kamaruddin Koto

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut