Warna-Warni Bendera, Mobil Komando, dan Ragam Isu Tuntutan

Jalan Medan Merdeka Barat (depan Istana Negara) dan sebagian Jalan MH. Thamrin, Jakarta Pusat, dipenuhi oleh Massa Buruh. Kelompok demi kelompok massa aksi bergerak menuju tempat kerja sekaligus simbol pemerintahan SBY-Boediono tersebut. Jumlah Massa ditaksir puluhan ribu, termasuk para pedagang kecil yang cukup ramai.

Tiap-tiap organisasi atau serikat buruh mengibarkan puluhan atau bahkan ratusan benderanya, sehingga kain-kain beraneka warna dan gambar menyemarakkan lokasi ini.

Tak kurang dari sembilan truk atau pick-up mengangkut perangkat pengeras suara berkekuatan ribuan watt. Truk atau pick up ini sekaligus dijadikan “mobil komando” tempat koordinator lapangan (korlap) aksi memberi arahan, dan pemimpin-pemimpin massa menyampaikan orasi. Terdapat juga kelompok-kelompok kecil yang sekadar membawa megaphone.

Ada banyak organisasi, banyak bendera, banyak komando di lapangan, dan banyak Massa Buruh yang berpencar sendiri-sendiri. Sementara, masih di Jakarta, terdapat juga kelompok yang memilih sasaran aksi berbeda, atau tidak ke depan Istana Negara.

“Meriah sekali…, mirip-mirip karnaval!” Kata seorang kawan setengah bergurau ketika kami menjauh sejenak dari pengeras suara.

Sementara beberapa kalangan menyayangkan situasi ini. Salah satunya adalah Atta Dien, Sekretaris Gabungan Serikat Buruh Indonesia (GSBI). “Masih ada sektarianisme dalam gerakan buruh, makanya tidak terbangun satu panggung bersama di May Day ini. Padahal tema yang diangkat tidak jauh berbeda di antara kelompok-kelompok yang turun aksi.”

Bila ditelusuri pada isi pernyataan sikap masing-masing kelompok, memang terdapat hal-hal yang dapat dilihat sebagai fenomena umum, misalnya: kesamaan kesimpulan bahwa pemerintahan SBY-Boediono tidak memperhatikan nasib Kaum Buruh, Kaum Tani, dan Rakyat Miskin.

Namun ada pula perbedaan-perbedaan, khususnya dalam menyikapi situasi tersebut. Juru bicara Front Perjuangan Rakyat (FPR) Rudi Hb Daman mengatakan bahwa ada ketidaksepakatan dengan SP yang tergabung dalam Komite Aksi Jaminan Sosial (KAJS) menyangkut isu Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN).

Lukman Hakim, Ketua Federasi Nasional Perjuangan Buruh Indonesia (FNPBI) mengatakan hal yang sama. “Kawan-kawan KAJS bersikeras bahwa pelaksanaan UU SJSN No. 40/2004 adalah harga mati. Padahal, Undang-Undang tersebut masih bermasalah, karena sangat tidak adil bagi Rakyat Miskin dan Buruh yang berpenghasilan pas-pasan.”

Penentuan fokus isu dalam perayaan May Day memang tak bisa dianggap remeh. Seorang aktivis buruh yang enggan disebutkan namanya mempunyai alasan mengapa penentuan fokus isu menjadi penting.

“Kita pernah menggagalkan rencana revisi Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 pada bagian dari perayaan May Day tahun 2006 lalu. Seharusnya pada May Day ini kita juga bisa menentukan target politik. Sebagai contoh, dapat diangkat masalah sistem kerja kontrak dan outsourcing sebagai persoalan bersama.” Terangnya.

Dari sejarah dapat kita pelajari bahwa bibit fragmentasi Gerakan Buruh telah ditelurkan sejak ditumpasnya Gerakan Buruh oleh rezim Orde Baru. Sementara kontrol ketat terhadap organisasi buruh selama tiga puluh dua tahun adalah masa-masa pengeramannya.

Waktunya menetas adalah ketika dimulainya liberalisasi ekonomi-politik tahun 1998. Puluhan federasi serikat buruh muncul di tingkat nasional, dan ratusan lainnya bermunculan di tingkat lokal. Sebagian terbesar merupakan hasil perpecahan dari Serikat Pekerja yang ada sebelumnya.

Kondisi ini tidak menguntungkan karena, disadari atau tidak, Gerakan Buruh sedang dalam posisi dilemahkan. Adu domba dan pecah belah merupakan cara paling efektif untuk melemahkan kekuatan sosial politik Rakyat, yang dalam konteks ini adalah Kaum Buruh.

Tiba saatnya Kaum Buruh mengkonsolidasikan kembali gagasan dan gerakan, untuk bersama-sama memperjuangkan kepentingan ekonomi-politiknya. Konsolidasi tersebut tentunya tidak perlu menunggu hingga momentum Hari Buruh tahun depan, tapi dapat dimulai dari sekarang. (Dominggus)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut