Penindasan Berbuah Perlawanan

Pada masa rezim kapitalis militeristik Soeharto berkuasa, peringatan May Day diharamkan. Siapapun yang merayakan hari buruh sedunia dianggap melakukan tindakan subversif, melawan hukum. Pemerintah berpandangan gerakan buruh sepaham dengan komunisme.

Pemerintah Soeharto hanya mengakui Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) yang didirikan pada 20 Februari 1973 sebagai satu-satunya sarekat buruh. Pemerintah lalu menetapkan hari lahirnya SPSI sebagai Hari Pekerja Nasional. May Day-pun terlupakan.

Setiap penindasan tentu akan melahirkan perlawanan. Setelah sekian lama dibungkam, pada tahun 1995, sejumlah pemuda yang menggabungkan diri dalam Pusat Perjuangan Buruh Indonesia (PPBI) kembali merayakan May Day dalam bentuk aksi massa. Inilah perayaan May Day pertama di era kekuasaan Soeharto.

Sejarah mencatat, perayaan tersebut digelar di dua kota besar, yakni Semarang dan Jakarta. Hari itu para buruh menyerukan tuntutan; kebebasan berserikat, stop intervensi militer (dwi fungsi ABRI) dan upah minimum Rp7.000/hari dari sebelumnya Rp3200/hari di Semarang dan Rp3.600-4.000/hari di Jakarta.

Represif

Aksi yang mendapat dukungan dari kelompok mahasiswa yang tergabung dalam Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID) itu direpresif aparat keamanan.

Di Jakarta, SMID dan ribuan buruh PPBI yang dipimpin Dita Sari berdemonstrasi di kantor Departemen Tenaga Kerja. Massa mengusung spanduk dan poster bertuliskan tuntutan; UPAH HARIAN MINIMUM Rp7.000/HARI. BERANTAS KORUPSI. TEGAKKAN HAM. TOLAK KEKERASAN MILITER MENGHADAPI DEMONTRASI. BEBASKAN MUKHTAR PAKPAHAN.

Sekadar catatan, Mukhtar Pakpahan merupakan aktivis buruh yang ditangkap sewaktu demonstrasi di Medan tahun 1994.

Pada peringatan May Day pertamakali di era Soeharto itu, lima orang ditangkap, yakni Dita Indah Sari (Ketua Umum PPBI), Nasrul (PPBI Bogor), Fitri (PPBI Tangerang), Ruchiat (PPBI Cakung-Jakarta Utara) dan Wignyo (PPBI Jakarta Utara). Beberapa waktu kemudian mereka dilepaskan.

Di Semarang, buruh dan mahasiswa berkumpul di kampus UNDIP dan longmarch ke kantor Gubernur Jawa Tengah. Mereka mengusung spanduk berbahasa Inggris bertuliskan; DEMAND MINIMUM WAGE dan MILITARISM GO TO HELL.

Polisi dan tentara menghadang. Dan bentrok-pun tak terhindarkan. Akibatnya 16 mahasiswa ditangkap termasuk Petrus H Haryanto (Sekjen SMID) dan Lukman Hakim pengurus nasional PPBI. Garda Sembiring, Ketua SMID Jakarta yang hadir dalam aksi itu juga ditangkap.

“Hari itu aparat memang sangat represif. Saya ditangkap dalam aksi di Semarang,” kata Lukman Hakim kepada berdikarionline di sela aksi May Day 2011 di Istana Negara Jakarta. “Sewaktu ditangkap tahun 1995 itu saya adalah Ketua Departemen Pengembangan Organisasi (DPO) PPBI Pusat,” kenang pemuda yang kini menduduki posisi Ketua Umum Federasi Nasional Perjuangan Buruh Indonesia (FNPBI).

Tak bisa dipungkiri, PPBI-lah pelopor perayaan May Day di negeri ini paska dibungkam Soeharto. Nah, paska lengsernya Soeharto, mulai tahun 1999 hingga hari ini May Day dirayakan setiap tahunnya. (Wenri Wanhar)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut