Lima Puluh Tahun Hari Tani Nasional

Serumpun padi tumbuh di sawah
Hijau menguning daunnya
Tumbuh di sawah penuh berlumpur
Di pangkuan ibu pertiwi

Serumpun jiwa suci
Hidupnya nista abadi
Serumpun padi mengandung janji
Harapan ibu pertiwi

Syair lagu kanak-kanak Serumpun Padi karya R. Maladi di atas memperlihatkan bagaimana menderitanya kehidupan kaum tani. Hidupnya nista abadi.. Lagu itu juga jelas menunjukkan kepedulian pada kaum tani yang dari tangannya mengolah dan menggarap tanah menjadi harapan bagi kemakmuran (pangan) negeri. Sampai sekarang, kehidupan tani Indonesiayang sejahtera dan tidak nista masih menjadi cita-cita dan terus diperjuangkan.

Dalam usaha membebaskan kaum tani dari penderitaan inilah, kita kenang hari yang baik dalam sejarah perjuangan kaum petani yaitu Hari Tani Nasional yang jatuh pada tanggal 24 September. Pada tanggal tersebut dengan dikeluarkannya UU No 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria (UUPA), kepedulian Negara terhadap kemajuan hidup rakyatnya terutama para petani penggarap mulai diwujudkan. Ini tentu saja sejalan dengan cita-cita proklamasi kemerdekaan yaitu menyejahterakan rakyatnya dengan melenyapkan Undang-Undang pertanahan yang kolonial dan feodal yang menghambat kemajuan petani khususnya petani penggarap.

Pada lima puluh tahun Hari Tani Nasional kali ini, bisa dibenarkan sebagaimana pendapat-pendapat lain yang telah sering disampaikan bahwa kaum tani Indonesia belum menemukan kesejahteraan dan begitu jelas, problem aktual yang dihadapi kaum tani Indonesia saat ini yang makin menyengsarakan kaum tani bersumber dari usaha kolonial baru bernama neoliberalisme. Usaha penjajahan baru neoliberalisme ini memperlihatkan bagaimana perusahaan besar baik yang bergerak di bidang, perkebunan, tambang dan lain-lain semakin leluasa menjarah tanah-tanah petani sementara Negara tampak tak berpihak kepada petani ketika terjadi konflik antara perusahaan besar dengan petani. Dengan penghapusan berbagai subisidi, khususnya di bidang pertanian, hilangnya perlindungan pasar terhadap produk-produk pertanian dalam negeri dan tanpa dukungan infrastruktur dan teknologi pertanian, Negara pun semakin abai terhadap peningkatan sumber daya produktif kaum tani dan justru berposisi menghancurkan daya produktif dan kreatif petani nasional di tengah sistem pasar bebas yang didukung pemerintah. Masih, di tengah situasi yang tidak berpihak kepada kaum tani Indonesia itu, kaum tani Indonesia juga dihadapkan pada Perubahan iklim akhir-akhir ini yang mengganggu pola tanam dan dapat menyebabkan kegagalan produk pertanian akibat perubahan cuaca yang ekstrem yang bisa mendorong bencana banjir dan sebagainya.

Lima puluh tahun Hari Tani Nasional yang tampak tak semakin menemukan jalan kesejahteraan bagi kaum tani tapi justru memasuki dunia pertanian yang semakin kalah, membuat kita bertanya di mana letak pembelaan Negara terhadap usaha kemajuan kaum tani yang nota bene adalah rakyatnya yang mayoritas miskin dan menderita? Di sini, Negara dituntut untuk semakin memberikan perhatian berlebih pada kaum tani dalam usaha meningkatkan kesejahteraannya. Bila UUPA lima puluh tahun lalu memperlihatkan bagaimana petani penggarap oleh Negara didahulukan dalam usaha memajukan kesejahteraan rakyat, kini demikian pula Negara atau pemerintah dituntut langkah-langkah dan terobosan yang kongkret dalam usaha memajukan kehidupan kaum taninya.

Kaum tani Indonesia tentu tidak tinggal diam dan terus didesak kalah oleh kepentingan-kepentingan neoliberal. Karena itu berbagai wadah persatuan kaum tani perlu didirikan dan aktif dalam persatuan perjuangan melawan penjajahan baru: neoliberalisme.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • memeth

    laksanakan amant UUPA th 60…memberantas kemiskinan..adlah memberikan modal kapital bagi seluruh rakyat miskin terutama petani dng..Reforma Agraria…berikan rakyat modal berupa lahn garapan setiap KK 5 ha…