Langkah Maju Pendidikan Venezuela

Chavez-education

Hugo Chavez, Presiden Venezuela saat ini, punya kontribusi besar dalam kemajuan yang direngkuh Venezuela saat ini. Sejak menjabat Presiden tahun 1999, Venezuela mengalami banyak perubahan. Termasuk di bidang pendidikan.

Di era Chavez, buta-huruf berhasil dihapuskan. Tak hanya itu, revolusi Bolivarian telah memungkinkan sekolah terbuka lebar bagi seluruh rakyat. Tak ada lagi diskriminasi dan pengecualian dalam dunia pendidikan.

Dalam acara TV mingguan, Alo’ Presidente, Chavez menggaris-bawahi sejumlah kemajuan itu. Katanya, sistem pendidikan Venezuela sedang mengadopsi anti-imperialisme. Pendidikan Venezuela mengajarkan “kebersamaan, mengetahui, dan mengerjakan”. Sedangkan nilai yang diajarkan mengcakup: persatuan, persaudaraan, dan solidaritas.

Pendidikan memang aspek penting dalam Revolusi Bolivarian. Tiap tahun pemerintah menggelontorkan dana besar untuk TK, pendidikan dasar, menengah, atas, dan universitas. Setiap sekolah baru Bolivarian didanai 1800 juta bolivar.

Gaji guru juga terus naik dalam tujuh tahun terakhir. Kenaikan gaji guru Venezuela mencapai 700%. Tak hanya itu, guru-guru juga mendapat fasilitas kesehatan dan voucher transportasi. Sedang guru perempuan mendapat hak cuti menjelang dan pasca kehamilan.

Sekolah-sekolah Venezuela juga gratis. Maklum, konstitusi Venezuela menempatkan pendidikan sebagai hak rakyat. Ditulis di konstitusi: “pendidikan adalah hak manusia, hak sosial yang paling mendasar. Pendidikan harus gratis, demokratis, dan wajib. Setiap orang berhak mengakses pendidikan, menerima kualitas yang sama dan kesempatan yang sama.”

Venezuela juga punya UU pendidikan yang progressif. Pada pasal 4 dinyatakan tanggung-jawab dari “Estado Docente” (Negara sebagai pendidik). Sedangkan pasal 6 menegaskan kesetaraan rakyat Venezuela dalam pendidikan, termasuk kesetaraan gender.

Sekolah-sekolah berdiri di mana-mana. Pendirian sekolah berhasil menjangkau hampir seantero Venezuela, termasuk masyarakat terpencil di pegunungan Andes. Bahkan menjangkau suku-suku asli yang masih primitif.

Bahasa Spanyol ala Amerika Selatan menjadi bahasa pertama. Tetapi bahasa lokal dari berbagai suku juga diajarkan. Kata Chavez, pengetahuan leluhur adalah subjek untuk memperkuat identitas amerika latin, Karibia, masyarakat adat dan Afro-Afrika.

Ya, kemajuan pendidikan Venezuela bukan hanya gembar-gembor pemerintah. UNESCO juga sudah mengakui. Dalam laporan UNESCO disebutkan, jumlah anak yang terdaftar di sekolah Venezuela meningkat pesat sejak tahun 1999. Indeks Pembangunan Pendidikan (EDI) Venezuela meningkat sebesar 5,1% sejak 1999 hingga 2007.

Laporan UNESCO menempatkan Venezuela di urutan 59 dari 128 negara. Peringkat pertama diduduki oleh Norwegia. Peringkat kedua diduduki oleh Jepang. Sedangkan Negara sosialis Kuba menempati urutan ke-14. Indonesia sendiri ditempatkan di urutan ke-69.

Pendidikan pra-sekolah (TK) di Venezuela dinamai “Simoncitos”. Ini merujuk kepada nama sang pembebas Amerika Latin, Simon Bolivar. Diharapkan anak-anak kecil itu bisa menjadi “pembebas” di masa dewasa.

Chavez sendiri membuat program “Simoncitos Mission”, yang menyediakan tempat penitipan anak dan pendidikan pra-sekolah (TK) kepada anak usia satu hingga enam tahun. Semuanya bebas biaya.

Sedangkan anak-anak Sekolah Dasar (SD) di Venezeuela dilengkap laptop kecil yang dinamai “Canaimitas”. Harapannya, anak-anak Venezuela bisa akrab dengan teknologi informasi sejak usia dini. Laptop ini khusus dirancang untuk anak-anak: ringan dan tahan lama.

Komputer Canaimanata ini dibuat di Portugal. Ia menggunakan program Linux. Perangkat lunaknya dirancang oleh insinyur-insinyur Venezuela. Program ini dirancang untuk mempersiapkan anak-anak di bidang bahasa, sejarah, matematika dan ilmu pengetahuan.

Pada tahun 2011, pemerintah Venezuela menganggarkan 194 juta bolivar untuk mencetak buku pelajaran sekolah. Ini meliputi pelajaran bahasa, sastra, matematika, ilmu pengetahuan alam dan ilmu sosial. Baru-baru ini, 12 juta buku pelajaran didistribusikan ke semua sekolah dasar di seluruh negeri. Ya, tentu semuanya gratis.

Soal berbagai kebijakan ini, Chavez mengingatkan, “inilah perbedaan antara sosialisme dan kapitalisme.” Dalam konsep sosialis, pendidikan diabdikan untuk pembangunan manusia. Sedangkan dalam konsep kapitalis, pendidikan dijadikan sarana untuk menggali keuntungan (education for money).

Menteri Pendidikan Venezuela, Maryann Hanson, menyampaikan, untuk tahun ajaran 2012/2013, berdiri 27 sekolah baru: 7 simoncitos (TK), 12 sekolah dasar, dan 8 sekolah menengah. Ia juga bilang, laptop canaimanata sudah dirancang untuk diterapkan di sekolah menengah.

Maryann Hanson dengan bangga melaporkan, tingkat putus sekolah di Venezuela berkurang 50% dalam 13 tahun terakhir. Pada tahun 1999, tingkat putus sekolah masih mencapai 15%. Kemudian pada tahun 2010/2012, tingkat putus sekolah telah diturunkan menjadi 7,7% dan 5,9%.

Pendidikan tinggi Venezuela juga dibuka selebar-lebarnya bagi rakyat. Pada tahun 2003, pemerintah menciptakan “Mission Sucre”, yang memberikan bea siswa kepada setiap mahasiswa miskin agar bisa lanjut ke Universitas. Sebuah Universitas Rakyat juga didirikan dengan nama Universitas Bolivarian Venezuela (UBV).

Untuk meningkatkan minat baca rakyatnya, Venezuela memsubsidi pencetakan buku. Ini juga dalam rangka memerangi buta-huruf. Pemerintah juga punya yayasan penerbitan sendiri, yang menerbitkan buku dengan harga murah dan terjangkau bagi seluruh rakyat.

Selain mencetak karya sastra klasik Spanyol dan Amerika Latin, koleksi fiksi dan non-fiksi juga menawarkan buku-buku tentang kebudayaan Venezuela, sejarah, dan tradisinya. Semua itu sangat gampang didapatkan ditoko buku dan pameran-pameran buku yang dijalankan oleh pemerintah.

Festival buku yang terkenal adalah Filven (Venezuelan International Book Festival) di Caracas. Anak-anak sekolah dan guru mereka meramaikan festival buku ini, sambil mengakses program pendidikan yang ditawarkan di festival. Filven juga menjadi surganya para sastrawan Venezuela tua-muda.

Ya, Venezuela sedang menuju kemajuan. Mereka menyongsong kemajuan itu dengan pengetahuan rakyatnya…

MARKO

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut