Krisis Sekarang Bukti Kegagalan Model “export economy”

Diskusi PRD

Krisis ekonomi yang membelit Indonesia sekarang ini, yang ditandai oleh defisit anggaran dan defisit transaksi berjalan, merupakan bukti kegagalan dari model export economy.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Wakil Sekretaris Jenderal Komite Pimpinan Pusat Partai Rakyat Demokratik (KPP PRD), Rudi Hartono, dalam diskusi bertajuk “Sanggupkah Pemerintahan Jokowi-JK Menyelamatkan Bangsa Dari Ancaman Krisis Ekonomi” di Hotel Acacia, Jakarta Pusat, Jumat (4/9/2015).

Rudi menjelaskan, sekarang ini ekspor Indonesia masih bertumpu pada ekspor bahan mentah, seperti batubara, minyak, bauksit, gas, minyak kelapa sawit, dan karet. Sedangkan ekspor barang hasil industri tidak begitu signifikan.

“Nah, karena masih bersandar pada ekspor bahan mentah, baik migas, pertanian, kehutanan, kelautan, dan perikanan, maka Indonesia sebetulnya masih tergolong ekstraktivisme. Ini tidak berbeda jauh dengan ekonomi Hindia-Belanda,” jelasnya.

Lebih lanjut, mantan aktivis Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) ini menjelaskan, model export economy membawa konsekuensi buruk pada ekonomi Indonesia.

Pertama, pengabaian terhadap pasar internal. Akibatnya, pemerintah tidak peduli dengan daya beli rakyat. Sebab, pasar untuk barang produksi Indonesia bukan di pasar internal melainkan di pasar global,” jelasnya.

Kedua, kata Rudi, agar produk ekspor kompetitif di pasar dunia, perlu ditopang dengan politik upah murah. Pendekatan ini juga yang dipakai oleh Tiongkok selama ini.

Ketiga, ekspor dalam bentuk bahan mentah menyebabkan “nilai tambah” dinikmati oleh negara lain.

Keempat, ekspor yang sebagian besar bahan mentah itu mengabaikan pentingnya industrialisasi nasional. Tidak ada upaya untuk mengubah bahan mentah menjadi barang jadi atau setengah jadi.

“Akibatnya, teknik produksi kita tidak pernah berkembang dari ekstraktivisme ke industri berbasis kemajuan pengetahuan,” ungkap aktivis politik berusia 32 tahun ini.

Dia pun menegaskan, di tengah krisis ekonomi yang dipicu oleh merosotnya ekspor, saatnya menggeser haluan ekonomi dari orientasi export economy menjadi lebih berorientasi pada penguatan pasar internal atau mendorong produksi berbasis pemenuhan kebutuhan rakyat.

Mahesa Danu

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut