Kisah Perjuangan Rakyat Sungai Butang Menghentikan Penggusuran

Di tempat yang jauh di pedalaman Jambi, sebuah perjuangan petani mengukir kemenangan kecil. Di Sungai Butang, Kabupaten Sarolangun, Jambi, seratusan petani berhasil menggagalkan penggusuran dan menghalau pasukan Brimob yang ditugaskan mengawal penggusuran itu.

Pelakunya sebagian besar adalah ibu-ibu dan anak-anak. Dengan gagah-berani mereka berdiri mempertahankan tanah mereka. Pasukan Brimob dan 7 eskavator perusahaan pun tidak sanggup menembus pertahanan mereka. Kejadian ini berlangsung tanggal 4 November kemarin.

Ibu-ibu berteriak histeris tatkala eskavator berusaha memasuki lahan mereka. Sementara anak-anak kecil berusaha menaiki eskavator tersebut. Anggota Brimob dan eskavator pun urung untuk melanjutkan penggusuran.

Tidak hanya itu, warga juga berhasil memaksa pihak perusahaan untuk menarik eskavatornya dari lokasi. “Warga sudah mengusai kembali lahan tersebut. Mereka sudah mulai menanam karet dan sawit,” ujar Utut Adianto, aktivis Serikat Tani Nasional (STN) yang mendampingi warga desa.

Padahal sebelumnya pengusaha sudah berhasil menggusur sejumlah lahan. Penggusuran pertama terjadi pada 15 oktober 2011. Kemudian penggusuran kedua terjadi pada 1 November 2011. “Dua kali penggusuran itu warga tidak melakukan perlawanan,” ungkap Suprayitno, kepala dusun III Mekar Jaya.

Pada 7 November 2011, sehari setelah lebaran Idul Adha, pengusaha kembali berusaha memasukkan tiga eskavator. Tetapi usaha itu kembali berhasil digagalkan oleh puluhan warga.

Membangun Poskamling

Warga dusun Mekar Jaya tidak mau kecolongan lagi. Untuk mencegah masuknya eskavator pengusaha, warga dusun pun mengaktif sistim pengamanan kolektif atau sering disebut Poskamling.

Tidak hanya itu, warga juga membangun sejumlah posko di semua pint masuk dusun. Mereka memasang portal untuk mencegah kemungkinan serangan tiba-tiba. Dan, seperti era revolusi kemerdekaan, warga dusun juga membuat kentongan sebagai pertanda adanya bahaya.

Untuk menjaga keamanan kampung, warga pun berjaga secara kolektif. Tiap malam ada petugas ronda yang ditunjuk secara bergilir. Merekalah yang bertanggung-jawab atas keamanan dusun.

Dusun Mekar Jaya sendiri terhitung cukup luas. Ada rencana dusun ini akan dinaikkan statusnya menjadi desa dan akan dibagi menjadi empat dusun. Jumlah penghuni dusun itu mencapai 304 KK.

Tidak hanya itu, warga juga sering mendapatkan terror dan intimidasi dari pihak kepolisian. Bahkan Kapolsek setempat, AKP Cahyo, sering mengeluarkan ancaman penangkapan terhadap warga.

Karena itulah warga kemudian membentuk pengamanan kolektif. Ini akan menjadi unit pertahanan untuk mencegah perampasan terhadap lahan milik mereka.

Korban HTI

Warga dusun Mekar Jaya adalah korban kebijakan Hutan Tanaman Industri (HTI) yang dikeluarkan pemerintah. Saat itu, tahun 2009, Menhut MS Kaban mengeluarkan SK nomor 464/Menhut/II/2009.

SK itu memberi legitimasi kepada PT. Agronusa Alam Sejahtera untuk mengolah lahan konsensi seluas 22. 525 hektar. Tetapi di atas lahan itu terdapat lahan milik warga dusun Mekar Jaya seluas 3.482 Ha. Itula yang berusaha diperjuangkan dan dipertahankan oleh warga desa.

Sayangnya, dalam konflik antara warga dengan PT. Agronusa Alam Sejahtera itu, pihak pemerintah malah tidak bersikap netral: pemerintah memilih memihak kepada pengusaha dan bersikap keras terhadap warga desa.

Bahkan, dengan mengutip serampangan peraturan, Dinas Perkebunan dan Kehutanan Kab. Sarolangun menganggap keberadaan warga dusun Mekar Jaya, yang berada di dalam areal hutan produksi, sebagai pelanggar Undang-Undang No 4 Tahun 1999 tentang Kehutanan.

Padahal, menurut pengakuan warga, sekitar 30% warga dusun Mekar Jaya sudah tinggal di lokasi itu secara turun-temurun.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut